http://tagday.net/user/yohan.alexander-1647981852

Panembahan Tanpa Bayangan 13

Akan tetapi Sarjiwa masih berupaya menahan diri untuk tidak bergerak. Ki Winatra menahan nafas sesaat melihat gelagat yang terjadi pada anaknya, namun kemudian ia merasa lega saat Sarjiwa masih diam tak bergerak. Ki Lambeyan keluar dari persembunyiannya ketika melihat tanda yang menjadi ciri khusus kelompok mereka. Menyusul Kalawan dan Ki Sapana berturut-turut melangkah di belakang […]

http://tagday.net/user/yohan.alexander-1647981852

Panembahan Tanpa Bayangan 12

Sekalipun ia bergerak pelan dan tubuhnya mengesankan sekokoh batu karang, akan tetapi begitu lembut saat Ki Winatra mendekati dan memijat bagian atas dadanya. Ki Winatra lantas mundur beberapa langkah dan dari tempatnya berdiri sekarang ia dapat merasakan angin pukulan yang cukup kuat menyentuh kulitnya. Lalu ia berkata,”Sarjiwa, kau harus dapat merasakan gerak arus tenaga yang […]

http://tagday.net/user/yohan.alexander-1647981852

Panembahan Tanpa Bayangan 11

Ki Winatra melanjutkan,” Dalam kaitan dengan ilmu yang ada pada dirimu, maka sebenarnya ilmu itu bukan seperti barang yang mudah dipindahkan atau dipegang. Akan tetapi Serat Waja juga dapat mengalami perkembangan dan mungkin akan ada sesuatu yang pada akhirnya mampu memberi sifat khusus pada ilmu itu sendiri. Tentu saja, itu tergantung pada dirimu.” Ki Jagabaya […]

http://tagday.net/user/yohan.alexander-1647981852

Panembahan Tanpa Bayangan 10

Untuk beberapa lama Mayang Sari melakukan olah gerak yang sangat pelan tetapi dalam lambaran tenaga cadangan yang sangat kuat. Di tengah keadaan seperti itu, ia merasakan kekuatannya meningkat berlipat. Ia dapat merasakan angin yang berhembus dari setiap olah geraknya. Sedemikian kuat lambaran tenaga yang ia keluarkan hingga tanpa terasa tanah yang dipijaknya menjadi garis yang […]

http://tagday.net/user/yohan.alexander-1647981852

Panembahan Tanpa Bayangan 9

Lelaki tua itu kemudian berkata,” Kita akan bergeser tempat setelah besok pagi kita telah mengetahui kepastian sikap Ki Bekel dan Ki Jagayabaya. Sementara itu aku ingin kau kembali menyisir jalan untuk membuka simpul yang belum sepenuhnya terbuka. Aku maksudkan itu agar kau dapat menjadi lebih baik jika harus kembali berhadapan dengan Ki Tumenggung Sigra Umbara. […]