http://tagday.net/user/yohan.alexander-1647981852

PTB – Merebut Mataram 1

Sejenak kemudian mereka telah duduk melingkar di atas segelar tikar pandan berwarna coklat. Ki Tanu Dirga memandang kedua orang didepannya bergantian. Ia menarik nafas dalam-dalam, lalu ia membuka bibirnya,” aku kira sudah saatnya kita untuk memulai gerakan ini dari rencana permulaan. Ki Sekar Layang dan Angger Mayang Sari harus berada di Padepokan Tegalrandu dalam waktu […]

http://tagday.net/user/yohan.alexander-1647981852

Panembahan Tanpa Bayangan 15

Ki Winatra bergegas melangkah menuju rumah Ki Bekel, ia mendapati Sarjiwa berada di dalam gardu bersama tiga  pengawal pedukuhan. “Aku akan mengambil istirahat dulu,” kata Ki Winatra pada mereka. “Silahkan, kiai,” serempak mereka yang berada di gardu menjawab. Ki Winatra meninggalkan mereka. Sementara itu, Sarjiwa berjalan keluar di tepi jalan. Terlihat olehnya dua orang berkuda […]

http://tagday.net/user/yohan.alexander-1647981852

Panembahan Tanpa Bayangan 14

Ki Winatra yang mendengar jelas percakapan Kang Kliwon dengan kedua kawannya akhirnya memutuskan keluar dari persembunyian jika Ki Jagabaya telah berada di tempat itu. Didekatinya Sarjiwa beberapa langkah di depannya, lalu ia berkata,”Kita keluar  setelah Ki Jagabaya berada di sini.” “Baik Ayah,” jawab pelan Sarjiwa. Sementara Kang Kliwon berkeliling memeriksa lingkungan, Ki Jagabaya berlari kecil […]

http://tagday.net/user/yohan.alexander-1647981852

Panembahan Tanpa Bayangan 13

Akan tetapi Sarjiwa masih berupaya menahan diri untuk tidak bergerak. Ki Winatra menahan nafas sesaat melihat gelagat yang terjadi pada anaknya, namun kemudian ia merasa lega saat Sarjiwa masih diam tak bergerak. Ki Lambeyan keluar dari persembunyiannya ketika melihat tanda yang menjadi ciri khusus kelompok mereka. Menyusul Kalawan dan Ki Sapana berturut-turut melangkah di belakang […]

http://tagday.net/user/yohan.alexander-1647981852

Panembahan Tanpa Bayangan 12

Sekalipun ia bergerak pelan dan tubuhnya mengesankan sekokoh batu karang, akan tetapi begitu lembut saat Ki Winatra mendekati dan memijat bagian atas dadanya. Ki Winatra lantas mundur beberapa langkah dan dari tempatnya berdiri sekarang ia dapat merasakan angin pukulan yang cukup kuat menyentuh kulitnya. Lalu ia berkata,”Sarjiwa, kau harus dapat merasakan gerak arus tenaga yang […]