Dendam Sabdo Palon – Naya Genggong

Paijem dan Maribut berdebat sengit. Perdebatan yang mengalir deras dan berubah menjadi baku hantam. Kali ini nampak keras, saling ngotot, baku pukul adu jotos hingga hidung keduanya keluar mimis. Berdarah raga, membara kedua hati anak manusia terbawa amarah. Ego dan naluri Paijem sebagai pembunuh bayaran yang cukup terkenal di lingkungan para pembesar kerajaan tergerak liar. […]

Ki Cendhala Geni 10.3 Pertempuran di Rawa-rawa

Ujung pedang itu masih sempat menggores lengan dan menimbulkan luka panjang namun tak seberapa dalam. Ki Cendhala Geni tidak menghentikan serangan walaupun lengan kanannya tergores pedang. Dia menyabetkan kapaknya dengan cepat ke arah Ken Banawa kemudian memutar kapaknya dengan tangan  kanan namun segera berpindah ke tangan kiri mengikuti ayunan bagian terberat dari kapaknya. Cara menyerang […]

Bara di Borobudur 24.2 – Lereng Gunung Wilis

Ra Jumantara merendahkan tubuhnya, seluruh jemari tangannya tertekuk melingkar seperti cakar harimau. Sangat cepat ia melesat menerkam Bondan dengan kedua tangan terbentang mengembang. Sekejap kemudian keduanya terlarut dalam perkelahian yang dapat menjadikan gentar hati orang. Dengan tangan kosong, mereka berdua sering lenyap dalam kegelapan karena begitu cepatnya gerakan-gerakan yang mereka lakukan. Ra Jumantara mengakui dalam […]

Ki Cendhala Geni 10.2 – Pertempuran di Rawa-rawa

Laksa Jaya bersuit nyaring. Seketika itu belasan orang melompat keluar dari semak-semak di sekitar mereka. Mereka berlari dengan menyalakan obor kecil kemudian membentuk lingkaran yang mengitari Laksa Jaya, Patraman, Ubandhana dan Ki Cendhala Geni. “Setan kecil! Kalian menjebakku!” Ki Cendhala Geni menatap nanar ke Laksa Jaya dan Patraman bagai seekor serigala kelaparan. “Jangan salah paham, […]

KI Cendhala Geni 10.1 – Pertempuran di Rawa-rawa

Arum Sari masih membisu. Terasa baginya semua perkataan Patraman tak lebih dari tusukan-tusukan pedang yang menghunjam jantungnya. “Pengkhianat!” tiba-tiba Arum Sari berteriak sekuatnya hingga orang-orang di sekitar Patraman terkejut karenanya. “Kau tidak berani berhadapan dengan ayahku. Engkau lebih suka membicarakan keburukan ayahku di depan demang-demang yang lain dan bahkan engkau juga bicara tentang kelemahan ayahku […]