Bara di Borobudur 27.1 – Pertempuran di Lereng Wilis

Kerisnya menyala merah membara dan sekali-kali keluar lidah api. Bondan terkejut menyaksikan perubahan yang terjadi pada lawannya. Sebenarnya yang terjadi adalah Ra Jumantara telah melampaui batasan yang ada dalam dirinya. Di hadapannya Bondan telah bersiap dengan tubuh sedikit merendah. Bagi Ra Jumantara, sikap tubuh Bondan justru seperti seekor kelinci yang telah siap untuk dipanggang sebagai […]

Bara di Borobudur 26.2 – Pertempuran di Lereng Wilis

Bentakan menggelegar Ra Jumantara mengawali gempurannya, batang pohon bergetar oleh hantaman tenaga yang keluar bersamaan dengan suara dahsyat orang kepercayaan Mpu Jagatmaya ini. Jalutama dan Ki Swandanu menyilangkan tangan di depan dada untuk melindungi isi dadanya dari tenaga inti ra Jumantara yang menghantam segala arah, bahkan keduanya terdorong ke belakang setapak menahan tenaga inti lelaki […]

Ki Cendhala Geni 11.3 – Pertempuran di Rawa-rawa

Patraman yang sedang tidak dalam keadaan terdesak mencoba mengamati sosok penyerangnya itu. Dalam keremangan dia mencoba mengingat karena dia merasa seperti mengenal sosok penyerangnya. Perhatiannya tertuju pada baju yang dipakai oleh Gumilang karena ada beberapa ciri yang sudah dikenalinya. Selain itu gerak olah kanuragan Gumilang juga ada dikenali olehnya meskipun hanya sejumlah kecil. Berdesir hati […]

Bara di Borobudur 26.1 – Pertarungan di Lereng Gunung Wilis

Keris yang mempunyai lekuk lima itu segera menebar maut di sekitar Bondan. Angin panas memancar keluar dari bilah senjata itu dan mengepung Bondan dari segala penjuru. Meskipun Bondan masih berusia muda, namun ia dapat mengimbangi kekuatan ilmu dan pengalaman Ra Jumantara. Ia pun telah menarik kerisnya yang berlekuk tujuh dari balik ikat pinggangnya, kini dalam […]

Ki Cendhala Geni 11.2 – Pertempuran di Rawa-rawa

“Boleh jadi aku akan menyerah dan berhenti membunuh orang yang rela untuk mati, namun itu akan kulakukan bila telah selesai menguliti kulit kepalamu dan menempatkan belulangmu di atas daun pintu. Bukankah engkau harus berterima kasih kepadaku, Ken Banawa? Bahwa engkau akan menjadi ungkapan rasa terima kasih dariku. Sampai jumpa di neraka, setan tua!” Satu bentakan […]