Freeport dan Bela Islam

sumber gambar : http://palembang.tribunnews.com/
sumber gambar : http://palembang.tribunnews.com/

 

Ada sebuah pertanyaan tentang mengapa tidak ada demo besar untuk mengusir Freeport. Tentu jawaban dari pihak yang aktif mengikuti demo adalah variatif. Namun ada sebuah jawaban yang justru menunjukkan kegagalan dalam memahami bagaimana Islam meletakkan harta benda dalam kehidupan ini.

Mayoritas peserta demo serial itu berkata untuk membela Islam dan Freeport adalah urusan lain.

 

Begini, Islam adalah sebuah rahmat,sebuah anugerah yang dilimpahkan Tuhan untuk manusia. Keberadaan Freeport di Papua juga tidak memberikan banyak kemajuan bagi masyarakat Papua. Dalam hal ini, Papua adalah kaum tertindas. Membela Papua dari penindasan sama halnya membela harga diri dan martabat makhluk ciptaan Tuhan. Pembelaan ini adalah bentuk lain dari menghargai kreasi Tuhan yang dilimpahkan untuk Papua. Jangan berkata karena kafir maka tidak ada hak untuk dibela. Itu salah! Jangan berkata Freeport tidak ada kaitan dengan agama. Ini juga salah!

Orang Papua, baik itu suku-suku di pedalaman maupun pendatang adalah sama-sama kedudukan di depan Tuhan. Orang Papua juga manusia, sama halnya dengan mereka yang berada di Jawa, Sulawesi, Eropa, Kenya dan belahan bumi lainnya. Dalam satu kata, Nasionalisme, maka Papua adalah saudara dalam kemanusiaan, saudara karena satu identitas yang telah disepakati, identitas sebagai Indonesia. Tuhan tidak akan pernah menegakkan keadilan di masyarakat Islam apabila mereka berlaku dzalim, dan Tuhan akan menegakkan keadilan di masyarakat kafir ketika mereka bersikap adil. Sehingga bila berkata tak perlu ada demo untuk mengusir Freeport maka itu sebenarnya bentuk lain kegagalan memahami Islam secara menyeluruh.

 

Dalam kesatuan identitas sebagai Indonesia, maka harta yang berada di Papua secara prinsip adalah harta yang wajib dilindungi dan dijaga oleh segenap muslim di Indonesia. Kita tidak bisa menolak hanya karena bicara tentang harta benda. Penting dipahami adalah Islam tidak melulu mengajarkan menolak harta, tetapi maksimalkan harta untuk meraih akhirat secara maksimal. Secara sederhana, melindungi harta di Papua adalah sama halnya meninggalkan anak cucu kita tidak dalam keadaan miskin. Mukmin yang cerdas dan kuat lebih disukai Allah daripada mereka yang lemah akal dan lemah kemauan. Apakah anda akan meninggalkan kelemahan utuk generasi mendatang? Kita tidak tahu kemana anak cucu kita melangkah untuk merajut masa depan mereka. Kaki-kaki mereka bisa saja menginjak tanah Papua, Kalimantan, Halmahera dan wilayah lainnya. Dan hari ini, kita bersikap lemah untuk sebuah penindasan. Sikap lemah ini tentu akan menyusahkan generasi yang akan datang dan itu adalah anak-anak anda sekalian.

Kebahagiaan mereka telah dirampas hari ini oleh sikap lemah kita. Sebuah sikap yang merupakan pembenaran dari sebuah kegagalan memahami Islam sebagai anugerah.

 

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Datang seseorang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Wahai Rasulullah, apa pendapatmu bila datang seseorang ingin mengambil hartaku?” Beliau menjawab, “Jangan engkau berikan hartamu.” Ia bertanya lagi, “Apa pendapatmu jika orang itu menyerangku?” “Engkau melawannya,” jawab beliau. “Apa pendapatmu bila ia berhasil membunuhku?” tanya orang itu lagi. Beliau menjawab, “Kalau begitu engkau syahid.” “Apa pendapatmu jika aku yang membunuhnya?” tanya orang tersebut. “Ia di neraka,” jawab beliau. (HR. Muslim)

Anda boleh berkata itu adalah harta yang berasal dari jerih payah sendiri. Lantas,bagaimana bila ada emas yang berada di bawah rumah anda? Apakah anda akan merelakan bila datang orang yang membeli rumah anda sedangkan anda mengetahui bahwa 2 meter di bawah rumah anda ada emas?

Bila itu bukan rumah anda,dan pemilik rumah mendatangi anda untuk meminta bantuan dalam mempertahankan hak milik tanah, bagaimana sikap anda? Sedangkan pemilik rumah itu berada dalam kebenaran dan sedang tertindas. Dan jika jawaban anda adalah karena Islam tidak mengatur tentang harta benda, saya anjurkan anda untuk meneguk segalon air laut agar mengerti bahwa air laut tidak mengandung bahan bakar minyak.

 

 

Untuk Indonesia.

7 thoughts on “Freeport dan Bela Islam

Add yours

  1. I see you don’t monetize your blog, don’t waste your traffic, you can earn extra bucks every
    month because you’ve got hi quality content. If you want to know how
    to make extra bucks, search for: Boorfe’s tips best adsense alternative

    Disukai oleh 1 orang

    1. I think it will spend mine bigger than monetize. Some people doesn’t like to click ads, and it’s not help me at all. Some people clicks the ads but minimum payout is impossible to be paid at the time. Yes, you know what i mean.
      Anyway, thanks so much for advice.

      Suka

  2. Klo iya pergerakan mereka itu bener2 “tanpa sponsor” ,gimanapun kekuatan utk “menggugat” freeport ini harus besar juga,, klo atas freeport ini mereka berkilah inilah itulah, brarti ya jgn salahkan publik ketika kecurigaan publik akan makin kuat menganggap bahwa pergerakan mereka selama ini karna ada muatan dan sokongan tertentu..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: