Ketika Allah didzalimi makhlukNya

Menyaksikan tindak tanduk banyak orang dalam atraksi yang bernama Pilkada, sungguh menyesakkan dada. Kebohongan sedang diuji integritasnya, kejujuran sedang berupaya menunjukkan jati diri sesungguhnya. Dan diatas itu semua, tampak jika Allah, sebagai Penguasa Sejati, sedang diupayakan untuk didzalimi.

Tidak hanya dalam Pilkada atau urusan politik lainnya, sering kali kita menjadi saksi penganiayaan terhadap Allah. Dalam urusan jual beli, pelayanan sosial, urusan rumah tangga pun terkadang juga Allah disakiti dan dianiaya.

Selama ini, mungkin kita beranggapan dan meyakini idiom Gusti Allah mboten sare (Allah,Tuhan YME tidak tidur). Buruknya adalah idiom itu hanya berlaku ketika kita dirundung musibah, dalam situasi tertindas atau mengalami peristiwa yang tak sesuai dengan harapan. Yup, nama Tuhan hanya disebutkan ketika sekarat dan dikala sengsara. Jarang terdengar inna lillahi wa inna ilaihi roji’un ketika kita mendapatkan nikmat, kalimat suci itu jarang diucapkan ketika kita berada di atas dalam roda kehidupan.

Allah tidak menghukum secara langsung seperti halnya umat terdahulu. Dan mungkin karena itulah, kita sering merasa aman. Lihatlah ke atas, ketika awan terlihat membentuk lafazh Allah, banyak orang merasa gembira karena seolah-olah mendapat restuNya. Ketika saham Sari Roti sedikit terpuruk, banyak orang mengaitkan itu sebagai hukuman dari Allah. Alangkah picik pendapat seperti itu! Peristiwa alam termasuk koreksi saham bukanlah dan tidak semata-mata dapat dinilai sebagai respon Allah. Anda siapa? Kok tahu Allah itu responsif? Anda bisa berkata jika situasi itu bukan kebetulan. Lha memang adakah kebetulan dalam kehidupan?

Sejauh mata memandang, sebanyak daun yang berguguran, sedetak jantung yang berdenyut dan seterusnya adalah kejadian-kejadian yang sudah Dia tuliskan. Dalam peristiwa-peristiwa itu, Allah hanya menguji sikap hati makhlukNya. Adakah yang mengingatNya atau adakah yang memang sedang menikmati penyiksaan terhadap diriNya? Ketika seorang hamba sedang sakit, dan tak ada yang datang menghiburnya,sesungguhnya kita sedang menyiksa Allah secara perlahan. Ketika hak Allah dilanggar, justru kita bersikap seperti pahlawan tanpa peduli “perasaan” yang dibela. Dengan meminjam nama Allah, perang dideklarasikan dan deklarator perang melibas hak Allah.

Di lingkup lebih kecil, seorang bapak atau ibu atau anak pun sering kali melibas hak Allah. Atas nama masa depan, orang tua memaksa anak untuk tidak mengikuti anugerah yang bernama bakat. Atas nama kebebasan berpikir, anak pun bersikap kritis terhadap orang tua tanpa tahu makna sebuah ketegasan dan kekasaran.

Lebih kecil lagi, tanpa sadar atau mungkin dengan kebanggaan, kita memperkosa hak ketuhanan. Mengambil peran Allah untuk mengafirkan orang lain, menuduh munafik, menjatuhkan sebagai yang terlaknat, dan buruknya lagi adalah mengambil harta Allah untuk kepentingan yang kita anggap benar. Menggalang dana umum tanpa penjelasan tentang distribusinya itu seperti legalisasi pencurian. Anda bisa ditenggelamkan untuk itu. Mungkin sebagai donatur, anda tidak ambil pusing tentang peruntukkan dana. Tetapi sikap diam ini justru menyuburkan praktek pelepasan jubah Allah yang bernama kemuliaan.

Kawan, mengatakan kafir dan munafik adalah sesuatu yang sebenarnya sangat sulit. Tak bisa kita berkata seperti itu hanya karena pendapat yang berbeda, tampilan yang berbeda, kebiasaan yang berbeda, sumber pengetahuan yang berbeda dan diatas itu semua perbedaan ini berawal dari satu titik. Kafir dan munafik adalah sikap hati dalam menempatkan satu obyek. Kafir adalah bahasa lain dari ingkar. Mengingkari satu ayat dan menerima ayat lain pun termasuk kekafiran, dan yang mengetahui ini pun hanya hamba dan rabb. Malaikat tidak mempunyai mekanisme penilaian atas kekafiran seseorang. Kecuali telah nyata kekafiran itu ditunjukkan ke publik.

Menolak kebenaran adalah bagian lain dari kekafiran, dan seringkali kita terjebak dalam lingkup ini. Kita merasa benar karena ada ayat yang mendukung, ada hadits yang mendukung, ada aturan hukum yang mendukung dan dan karena dukungan inilah kemudian kita mengangkangi hak ketuhanan. Satu sisi, kita merasa benar dan sisi lain,tanpa sadar, kita juga menolak kebenaran. Sering kali kesombongan itu muncul karena merasa benar. Sering tidak kita sadari bahwa kita telah merenggut selendang Allah dan satu hal yang pasti adalah kebenaran tidak pernah berada di dua sisi yang berbeda. Lantas,bagaimana dengan munafik? Kafir dan munafik akan dibahas terpisah.

Jangan kita menganiaya Allah dengan merenggut hak dan sifatNya secara paksa. Dan jangan pula kita menjadi makhluk yang tak mau mengerti “perasaanNya”. Bagaimanapun, Allah adalah absolut, mutlak dan tak terbantahkan.

 

For human and nation from Indonesia.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: