(Kyai Sogol) Skandal Secangkir Kopi dan Getas

Kyai Sogol meneruskan keterangannya.
“Lalu aku berjalan menuju surga. Langkahku tertahan oleh seruan Ridwan, sang malaikat penjaga surga. Dia berkata,” hai kamu, siapa nama?”
” Fulan bin fulan” , jawabku.
“Adakah kau tertera sebagai pemilik kamar?” Ridwan bertanya lagi.
” Benar. Aku tertera sebagai orang beriman dan beramal baik” aku menegaskan.

Lalu Ridwan membiarkanku masuk. Di dalam surga, aku memeriksa setiap papan nama yang tercantum di pintu kamar. Lama aku mencari tapi tak kunjung menemukan namaku. Ridwan terlihat memendam sesuatu, lalu memintaku untuk segera keluar.
Setiba di beranda surga, ternyata ada Jibril dan memberi saran untuk menemui Malik, penjaga neraka. Lantas aku keluar menuju neraka dan menemui Malik. Bersama Malik, aku pun berjalan memeriksa plat besi yang berwarna merah untuk mencari namaku. Dan ternyata namaku ada di sana. Namaku tercantum sebagai penghuni neraka.

“Bersiaplah untuk membelakangi Tuhanmu dengan perbuatanmu pada masa itu” kata Malik.
“Tidak! Ijinkan aku keluar. Aku akan menemui Tuhan yang Penyayang. Dia menyayangiku” begitu pintaku.
“Aku sama sekali tidak pernah mendzalimi hambaKu” satu suara terdengar penuh wibawa. Suara yang mampu menghentikan segala siksa di neraka untuk beberapa saat.

Dan Malik menyeretku keluar. Perlakuan yang kuterima berbeda dengan ketika aku menemuinya. Malik menyeretku dengan kasar, tanpa penghormatan sama sekali. Mendorongku dengan kakinya, menarik keras lenganku. Aku kesakitan. Lenganku terasa terbakar dan remuk. Sesampai di pintu neraka. Di meja Malik, aku melihat secangkir kopi dan getas. Aku melihat sebuah kain berwarna hijau. Aku kemudian teringat.”
Kyai Sogol menghentikan penjelasan. Untuk beberapa saat, beliau terdiam. Sudrun melihat mata kyai menjadi sembab. Badrun beradu mata penuh heran dengan Sudrun.

Kyai Sogol melanjutkan ” Ketika aku teringat…”
Suara beliau terdengar bergetar. Seolah menahan rasa yang sepertinya menyesakkan dadanya. Malam seolah ikut mendengatkan petuah kyai. Tak biasanya, tiada jangkrik yang bersuara. Tiada angin yang berhembus semilir. Seolah mereka semua ikut duduk bersama kami untuk mendengarkan wejangan kyai.

” Ya, aku ingat. Ketika itu aku duduk di sebuah warung. Sebelum berangkat ke Purwokerto, aku memang berencana menikmati pagi dengan secangkir kopi dan sedikit jajanan. Hari itu pengunjung warung tak begitu ramai. Hanya beberapa orang, mereka juga tak saling banyak bicara. Dengan perlahan nikmat, aku pindahkan sebagian isi cangkir ke tenggorokanku. Sepotong getas pun mulai merambah syaraf pengecap. Begitu nikmat. Usai itu semua, aku bangkit membayar untuk secangkir kopi karena hanya itu uang receh yang aku punya. Bila aku bayar untuk kuenya, aku tak yakin jika penjual punya kembaliannya. Dan aku akan tetap kembali kemari untuk membayar sepotong getas setelah kepulanganku dari Purwokerto. Tak apa, yang penting aku sudah berniat baik, begitu yang ada dalam benakku. Lantas aku keluar dari warung dan memulai perjalanan menuju Purwokerto. Setiba di Purwokerto, aku mengalami demam tinggi yang kemudian menjadi bagian penutup kehidupanku di dunia. Jasadku pun berpulang ke Boyolali. Aku melihat keluargaku nampak sibuk merawat jasadku.  Aku merasa aman karena aku selalu berbuat baik, seperti anjuran agamaku. Tak kutinggalkan perintah agamaku. Dan bahagia karena akan ada perjumpaan dengan Tuhanku.”

Makin bergetar suara sang kyai. Makin lirih terdengar.

” Pemilik warung itu tidak tahu jika kau mengambil getas dan tak membayarnya. Dia juga tak tahu tentang niatmu bahwa kau akan membayar sepotong kue itu. Akan tetapi, Tuhanmu Yang Maha Tinggi tidak mengabaikan ketidaktahuan itu. Tuhanmu tidak mengabaikan hatimu ketika kamu meremehkan kemampuan pemilik warung. Hari ini, telah diputuskan oleh Tuhanmu, bahwa seorang Fulan bin Fulan akan mengawali hari di lembah neraka.” keputusan Allah Yang Maha Tahu telah disampaikan Malik untukku.

” Jika demikian, sampai kapan aku menjadi penghuni lembah nista?” tanyaku pada Malik.

Kyai Sogol menghela nafas. Menutup pembicaraan ” tiada siapa yang tahu selain Allah sendiri. Seringkali kita merasa besar untuk sebuah hal yang kita pandang kecil.”

Malam makin larut, dan kopi pun semakin dingin.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: