Menyikapi Kedatangan King Salman

 

Mencintai dirimu tak ubahnya seperti mencintai kabar palsu alias hoax. Membela dengan jiwa dan raga demi sebuah hoax. Lho kok bisa? Lha iya lah, wong kamu memang tak ada perhatian sama aku. Sudah kukatakan jangan mudah percaya berita. Konfirmasi dahulu sebelum makan. Lihat keterangan kadaluwarsa atau cari gadis lain sebagai perbandingan. Raja Salman sudah jelas bukan raja panutan jadi tak perlu dielu-elukan sebagai dewa penyelamat.
Hey, yang sopan. Itu tamu negara!
Lho memang saya menghina raja? Saya katakan dia bukan raja panutan dan juga bukan dewa penyelamat. Bayangkan saja jika sepulang beliau ternyata juga meninggalkan hutang wisata di Bali. Yang bakal babak belur juga bukan kalian kan? Tetapi orang Bali, para pengusaha yang terlibat langsung dengan pelayanan demi kenyamanan seorang tamu karena tamu berhak mendapatkan keamanan dan kenyamanan dari tuan rumah.

King Sulaiman/Nabi Sulaiman itu panutan. Seorang raja dapat dijadikan sebagai panutan kalau dia kasih contoh hidup sederhana alias zuhud. Dan lagi, apakah dia ke Indonesia untuk menutup defisit APBN? Ah yang bener kalau berargumentasi.
Minyak sudah mulai berkurang depositnya di perut bumi. Minyak tak pernah bertelor apalagi beranak. Saudi sepenuhnya tergantung pada minyak. Malah Saudi setiap tahun dapat donasi dari umat yang berangkat umroh dan haji. Harusnya Saudi memberi juga untuk pemerintah Indonesia laba tahunan sebagai wujud bagi hasil hahaha….Piss ya King!

Jadi begini saudaraku semua, sekalipun King Salman datang untuk menemui Rizieq Shihab itu jangan menjadikan yang lain sewot. Sebaliknya, kalau tidak ingin bertemu Rizieq Shihab juga jangan jadikan masalah. Intinya, tujuan King Salman ini apa, bawa misi apa, bawa keuntungan apa, kerugian apa buat Indonesia dan cukup itu saja yang diramaikan. Bagaimana jika King Salman kemari karena sedang mencari menantu? Tak mungkin atau mungkin? Hahaha..
Kalaupun ada teori jual beli saham atau ambil alih Freeport toh ujungnya harus ada kepentingan rakyat Indonesia.

Saya sering heran dengan pemikiran yang bertebaran. Kalau Saudi berinvestasi besar di Indonesia, katakanlah melebihi China, itu uangnya kapan dibawa kemari? Di bidang apa? Terus kalau lebih besar dari China, memangnya kenapa? Kalau China datang dengan investasi besar, kalian sudah ribut jumlah 10 juta TKA China. Akankah kalian juga bakal ribut jika Saudi bawa 5 juta tenaga kerja?

Baru saja ada yang mengatakan jika ada helikopter maka King Salman akan segera ke Bogor. Tentu omongan ini merupakan omongan tanpa nalar yang lebih panjang. Siapapun dia yang bicara itu. Karena secara akal sehat saja sudah menimbulkan pertanyaan :

Memang kamu siapa bisa mengatur jadwal seorang tamu negara?

Halo kawan, semua yang dibicarakan ini masih berupa desas desus. Ataukah memang pemerintah harus mendirikan satgas khusus? Katakanlah Satgas Desas Desus, apa tak menambah repot? Kegaduhan tak penting ini malah menunjukkan bahwa semakin kesini ternyata kita makin gagal berpikir sehat. Dalam sebuah perjuangan memang membutuhkan dukungan namun tidak semua yang mendekati itu memberikan dukungan. Ini penting dimengerti karena ini hubungan sosial yang berbasis kepentingan. Ada sebuah idiom : sekadal-kadalnya kadal masih bagus selama masih menjadi kadal. Artinya adalah jadilah dirimu sendiri, jangan mudah dikadalin alias dibohongin dengan segala bentuk pembenaran. Karena pembenaran bukanlah kebenaran. Masih bingung?

Begini, King Salman menemui Rizieq Shihab,baiklah. Pendukung Shihab boleh bergembira ria. Seandainya King Salman mendukung Amerika Serikat serta pemberontak di Suriah. Terus bagaimana sikap kalian wahai pendukung Rizieq Shihab? Bingung? Karena kita tak tahu pasti isi hati dan niat sebenarnya seorang tamu negara itu. Saya menulis tentang King Salman ini bukan karena tak ingin itu terjadi tetapi berharap kalian itu mampu menempatkan permasalahan secara proporsional. Karena hanya itu yang bisa menjadi indikasi bahwa kalian telah sehat.

Ayolah, kita letakkan kekonyolan ini. Kita ganti dengan hal positif agar esok lebih baik. Jangan sampai mencintai dirimu tak ubahnya seperti mencintai kabar palsu alias hoax.

 

Tulisan ini telah diterbitkan juga di https://seword.com/umum/menyikapi-kedatangan-king-salman 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: