Dilema Gembuk Ketika Dilarang Poligami

sumber gambar : https://pbs.twimg.com/media/CHi84HHUMAAexRR.jpg

Gembuk sedang tak bersemangat berangkat ke pasar. Dia dirundung galau ketika Sri, teman cewek yang ditaksirnya, meminta Gembuk untuk melamarnya. Yah, ini kan kesempatan akhir jadi jones kok dia malah galau ya?
Usut punya usut, ternyata Gembuk galau karena poligami. Ya, poligami. Bukan poliklinik, polindes atau poli pantai hahaha.

Selama ini orang mengenal Gembuk sebagai lelaki muda yang baik hati, tidak sombong, dermawan dan gemar koleksi foto gadis cantik. Diantaranya ada yang bernama Sri dan Juwet ( biasa dipanggil Juwi). Satu sisi, Gembuk ingin loyalitas sampai darah penghabisan. Sisi lain ya namanya lelaki kadang ada ingin rasa yang ya begitulah. Dibilang coba-coba wong bukan minyak telon. Dibilang iseng wong juga bukan coba resep masakan. Masalah dalil nanti akan dibawa supaya menjadi benar dulu atau minimal dapat menghibur diri dengan dalil pembenaran. Sri, gadis yang cantiknya tak kalah menyilaukan jika dibanding Putri Kerajaan Arab Saudi. Kulit terang, wajah bercahaya yang argggh sepintas seperti pelangi deh intinya. Sedangkan Juwi, ini berkulit rada gelap, hidung juga 11-12 dengan Sri, pipi agak tembem, cipluk ginuk-ginuk kalau orang daerah desa Sidowangi mengatakan postur tubuh Juwi. Kalau masalah akhlak ah ini benar-benar memusingkan. Karena bicara kekurangan dan kelebihan itu relatif penilaiannya bagi tiap orang. Singkatnya, Gembuk ingin poligami dengan rencana sebagai berikut ;

1. Anak pertama dari istri pertama lahir di poliklinik.
2. Anak pertama dari istri kedua lahir di polindes.
3. Anak kedua dari istri pertama lahir di polindes.
4. Anak kedua dari istri pertama lahir di poliklinik
5. Tidak ada rencana untuk kelahiran di poli gigi. Ini ngawur namanya hahaha

Karena ingin adil untuk keluarga ya langkah diatas sudah direncanakan dengan baik oleh Gembuk. Lalu bagaimana dengan nafkah masing-masing istri? Ini juga sudah direncanakan dan ditulis di RIJMP (Rencana Investasi Jangka Menengah – Panjang). Artinya istri pertama akan dikontrakkan kios buat kantin di polindes. Supaya saat ada kelahiran bayi dari Gembuk sudah ada tenaga bantu buat jaga. Istri kedua juga akan dibuatkan kantin di poliklinik. Niat dan tujuan juga sama yaitu ada tenaga bantu buat jaga pasien. Jadi rencana ini sudah meliputi gotong royong antar istri. Sungguh mulia rencana si Gembuk ini.

Lantas, rencana itu dia sampaikan saat bertemu Kriwul di beranda surau kecil di tepi sungai.
Kriwul menyimak dengan serius. Berkernyit dahi sambil memijat alis mata yang sebetulnya gak capek buat jalan. Jalan kaki kok yang dipijat malah alis..Joko Sembung pasang anting. Gak nyambung tapi pingin kawin wkwkwk prettt.

Setelah Gembuk mengutarakan niatnya, Kriwul pun mengatakan kalau memang seperti itu (poligami) terlihat seperti meremehkan wanita. Karena kewajiban nafkah itu pihak lelaki. Lagipula itu juga tidak menjelaskan tujuan poligami sendiri. Kriwul juga menanyakan tentang ijin dari istri pertama. Gembuk bilang tak perlu. Kriwul jadi kaget lalu ” jadi yang kedua itu tidak tercatat resmi oleh negara?”

Gembuk menjawab ” iya, tidak perlu dicatat oleh negara. Sudah resmi secara agama dan dapat dipertanggungjawabkan secara agama. Tidak ada dosa kan jadinya”.

” Duh Gembuk. Negara sama agama itu tidak terpisahkan. Lha wong Allah suruh orang beriman itu taat Allah, rasulNya sama ulil amri. Paham kan ulil amri? Pemerintah bro, bukan pak Amir. Kita hidup sosial ya wajar tunduk aturan negara juga. Wong kamu juga bukan manusia impor dari planet lain kan? Begini bro, ayatnya kan bilang orang beriman jadi anggap keimanan itu bernilai 99 bagian. Yang 1 itu takwa jadi iman ditambah takwa sama dengan 100. Taat Allah itu 1/3 bagian. Taat Rasul itu 1/3 bagian. Taat ulil amri 1/3 bagian. Gak taat pada satu diantara ketiganya ya berarti imanmu 2/3 bagian dan takwamu berarti 2/3 dari 1. Jadi disini kamu telah melanggar satu perintah yaitu perintah taat ulil amri jika ulil amri mewajibkan setiap pernikahan harus tercatat negara. Dan angka-angka itu hanya permisalan loh ya. Jangan kamu anggap bagian dari ayat. Aku bikin seperti itu supaya kamu mudah mengerti”.

” Tidak tercatat resmi oleh negara berarti kamu sudah mewariskan satu potensi konflik antar keturunanmu. Sudahlah, jalani apa yang ada. Ora usah muluk-muluk pingin niru sunnah nabi kalau caramu sudah gak benar. Disyukuri meski hanya satu, wong kalau kamu sudah resmi juga bakal gimana kan gak tau. Iya kan?
Jangan remehkan keberadaan ulil amri. Gimana kamu jawab kalau ditanya Allah seperti ini,Gembuk kok gak daftar di KUA? Trus kamu jawab apa? Iya Gusti, khilaf”.

“Gembuk. Di akhir, kamu jawab khilaf, di awal kamu jawab apa? Apa mau jawab : duh Gusti Allah, iya sengaja gak daftar karena waktu itu mau daftar eh buku nikah habis dan disuruh tunggu 3 bulan lagi. Yah saya mana tahan, daripada digrebek hansip atau digaruk satpol PP ya mending gak resmi.
Iya kalau kamu tanya jawab sama Kak Emma sih bolehlah. Lha ini? Kamu ditanya sama siapa?”.

“Lalu aku harus bagaimana,Wul?”

“Yah kamu pilih satu. Yang satu mungkin diantara pembaca ada yang berminat kan? Namanya juga siapa tahu hahahaha….”

 

Semoga bermanfaat.
Salam hangat.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: