Aku Tersiksa Karena Orang Tua yang Durhaka

sumber gambar ; http://azfaazfa.blogspot.co.id/

Siang itu, Mbudur menonton sinetron bersama dengan Sudrun. Ada adegan menarik perhatian ketika seorang ibu menasehati anaknya : jadilah kamu seperti bapakmu!

“Wah menjadi bapak itu kan harus menikah dulu, iya kan mas? Lha ini anak usia 11 tahun kok disuruh jadi seperti bapaknya? Wah bahaya kalau begitu. Ini namanya pernikahan dini.”

“Hahahaha…Lha kamu naksir Dini ya? Ngaku saja..” tanya Sudrun.

*Bukanlah mas, pernikahan sebelum usia akil baligh maksudnya saya hehehe”

Ketika Kriwul memasuki ruang santai itu, Sudrun mengutarakan adegan sinetron sembari meminta sedikit bocoran dari seniornya ini.

Inilah Kriwul….
“Meminta anak melakukan kebaikan itu perbuatan mulia. Banyak diantara kita, para orang tua terkadang menjadikan hasil akhir sebagai motivasi diantara anggota keluarga. Seperti, bapakmu seorang direktur ya kamu harusnya menjadi direktur. Bapakmu tentara ya harusnya jadi tentara juga supaya ada kebanggaan di keluarga kita. Bapak kamu bisa, harusnya juga bisa. Dan banyak ungkapan-ungkapan seperti itu.”

“Setiap orang kan terlahir dengan bakat yang berbeda. Dan itu telah menjadikan setiap orang bernilai istimewa. Setiap orang mempunyai keunikan dan tentu akhirnya tidak bisa disamaratakan sekalipun lahir dari orang tua yang sama. Lha kalau bapaknya itu penyanyi ya masa anaknya juga otomatis berbakat menyanyi, kan belum tentu sekalipun kasus seperti itu ada. Baiklah, anaknya juga ada bakat menyanyi dan mungkin warna vokalnya berbeda. Anak lebih cenderung ke jazz, sedangkan bapaknya cenderung ke lagu cadas. Kasus seperti itu juga unik kan?
Atau bapaknya sukses menjadi jenderal bintang empat, tetapi anaknya pensiun di pangkat kapten atau sersan mayor. Nah kalau sudah seperti itu bagaimana coba perasaan bapaknya? Sang bapak sukses menembus Akmil, anaknya gagal di Akmil dan lolos di pendidikan Tamtama. Apakah bapak menjadi malu atau bangga?
Kalau bapaknya sopir truk pastilah bangga jika anak menjadi tentara. Betul kan?”

Kriwul melanjutkan penjelasannya, ” jadi Drun, para orang tua tak perlu memaksakan anaknya untuk ikut kehendak mereka. Karena apa? Karena itu tadi, bahwa setiap orang mempunyai bakat yang berbeda, setiap orang itu setimewah eh istimewa. Nah, kalau alasan orang tua adalah demi kebaikan anak ya itu beda perkara. dan alasan itu sudah banyak dipakai orang tua sebagai dalil pembenaran agar anak menuruti kemauan orang tua”.

“Ya pasti toh kang”

“Pastilah, masa mau bilang ini bapak lakukan demi tetangga kita. Hahahaha.. kalau sudah seperti itu, ya mungkin menjadikan kita sebagai orang tua yang durhaka pada anak. Karena tak mengikuti bakat dan kemauan anak. Durhaka itu gak hanya berlaku bagi anak saja lho Dur, Drun. Tetapi juga orang tua bisa menjadi durhaka.”

“Lho, kok bisa cak?”

“Lha ya bisa toh. Logikanya sederhana, Tuhan ciptakan manusia itu berpasangan. Kiri dan kanan. Depan belakang. Jadi kalau ada anak durhaka berarti juga ada orang tua durhaka”.

“Lalu apa yang bisa membuat orang tua itu menjadi durhaka,kang?”

*Kalau itu sih sepertinya aku harus menikah dulu ya Drun hahahahaha
Memaksakan kehendak. Kalau orang tua mengerti batas kemampuan dan kemauan anak maka ini termasuk durhaka.
Memarahi dengan ucapan seperti aku bakar kamu, aku tak sudi ke rumahmu, kamu bangsat, kamu tak tahu duri eh diri. Hanya karena anak melakukan kesalahan yang sebenarnya bisa ditolerir. Seperti lagi malas diperintah cuci piring, disuruh belajar eh malah main game, disuruh sholat malah tidur. Jangan bandingkan dengan ijin memukul anak kalau tak mau sholat. Karena itu pukulan yang tak menyakitkan. Ucapan buruk akan meninggalkan luka di hati lebih lama atau mungkin sulit disembuhkan. Kalau luka fisik kan cukup dipijati sama orang tuanya sendiri lalu kasih nasehat atau bagaimanalah usaha agar anak merasa nyaman. Tapi kalau hati yang luka, bagaimana? Betharia Sonata bukanlah solusi yang pas untuk ini. Haha

Kalau bekas istri atau bekas suami sih banyak. Yang lebih mahal, ada? Ada. Hanya satu dan itu adalah pertalian darah. Tidak ada kan yang namanya bekas anak atau bekas orang tua?

Lebih repot dan zuper ribet itu kalau anak sudah berumah tangga dan satu rumah dengan orang tua. Entah orang tua istri atau suami. Eits tunggu dulu! Jangan bilang lebih enak suami yang mondok di mertua. Pasti pakai alasan karena lelaki lebih cuek, dan lebih banyak di luar rumah. Halah, basi itu bro en sis. Apa suami mau jujur bilang jika situasi rumah sudah tak nyaman baginya? Yah kan dia juga jaga hati istri dan mertua supaya tak tersinggung. Bisa saja kan? Lantas bagaimana jika dia karena jaga hati yang di rumah eh ternyata jaga istri orang di tempat lain?
Kita tak pernah tahu persis isi hati orang lain sekalipun itu pasangan kita.”

Kriwul melanjutkan orasinya dengan kecepatan suara.

“Apalagi kalau ada yang ingin tidak berubah. Begini, dulu saat lajang kan perhatian penuh sama orang tua. Lalu menikah jadi perhatian terbagi kan? Nah, sebenarnya itu adalah masa yang menuntut kesadaran orang tua naik lebih tinggi, orang tua juga harus menambah kesabaran. Karena anakmu sudah dewasa ya pak, ya bu. Jangan karena dia terlihat lebih pilih anak istri lalu dibilang lupa sama orang tua. Jangan, kasihan dia. Istri itu wajib patuhi suami, suami wajib patuhi ibunya. Bener kan? Tapi jangan jadikan itu alasan meminta perhatian yang sama seperti saat dia masih lajang. Bapak dan ibu harus proporsional. Harus mampu lihat situasi yang sebenarnya sudah berbeda. Tapi jangan pula keluarga dijadikan alasan untuk mengabaikan orang tua. Keduanya harus seimbang dan proporsional”.

“Bicara memang mudah cak, tapi jalani yang sulit. Sampeyan ceramah kaya begitu ya enak. Yang lagi mengalami mana bisa dengan mudah, cak!” sahut Sudrun dengan gemas-gemas manja.

“Lho kalau bicara lebih mudah daripada berbuat ya itu sudah sejak buah semangka berdaun sirih, Drun. Maka itu kalau mau kasih nasehat ya setidaknya kamu sudah jadi orang pertama yang menjalani. Sudah ada pengalaman. Jangan keluar sekolah lalu ceramah ini salah, itu salah tapi prettt. Kaya iklan “siapa yang bisa ngomong Jepang? Ada yang jawab Saya pak. Lalu dia teriak JEPANG. Zoooooonk. Kata sakti mandraguna untuk permasalahan di rumah seatap itu adalah komunikasi dan toleransi”.

 

Salam zooonk hangat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: