Mesin Cuci Tak Ingin Mengubah Takdir

 

Sebuah mesin cuci pernah berkisah, eh kok ? hahaha.. Bukan, bukan itu maksudnya. Tetapi mungkin peristiwa ini sering kita jumpai setiap hari di dalam keluarga kita atau obrolan warung kopi. Seringkali seorang istri itu menemukan uang di saku sang suami ketika istri dalam keadaan bertugas di depan mesin cuci atau mencuci secara manual. Tidak ada masalah apapun sih sebenarnya. Dan tulisan ini juga tidak membahas hukum halal atau haramnya uang itu. Tetapi ada sisi yang menarik dan menggelitik untuk dibincangkan. Sebuah mesin cuci dan uang yang masih berada di dalam saku, lantas ada semacam pikiran seperti bila mesin cuci itu sama dengan salon kecantikan, lalu duit di dalam saku itu adalah kapster, kemudian apakah akan ada masalah jika :

  1. kapsternya itu seorang cewek dan suami dari pemilik salon juga bekerja di rumah. Nah kira-kira, sebagai wanita (saya asumsikan saya juga wanita nih hahahaha…) apakah ada rasa khawatir? Cemburu sih jangan dulu ya, khawatir saja sudah cukup.
  2. Kapsternya itu seorang cowok dan suami dari pemilik salon juga bekerja di rumah. Nah kira-kira, sebagai suami, apakah ada rasa khawatir?
  3. Kapsternya itu seorang banci dan suami dari pemilik salon juga bekerja di rumah. Nah kira-kira, sebagai wanita apakah ada rasa khawatir?

Akan banyak sekali kemungkinan yang terjadi dari ketiga point diatas. Dan juga ada kemungkinan sebuah rumah tangga akan berakhir begitu saja atau bahagia selamanya atau didiamkan karena pertimbangan banyak hal.

Tentu bukan kapasitas saya untuk memberi keputusan tetapi saya yakin 3 situasi diatas pasti ada di sekitar kita atau mungkin salah satu dari kita malah menjalaninya. Dan yang paling mengerikan buat saya adalah jika yang terjadi adalah yang nomor tiga. Suami jatuh hati pada kapster yang waria. Terlepas dari hukum agama dan hukum sosial di masyarakat, tetapi jujur saja, saya sulit membayangkan dan menerima kondisi bilamana suami itu benar-benar jatuh hati. Entah jatuh hati seperti saat mencari cinta pertama atau sekedar pelampiasan dari efek mencoba menu lain. Coba kita bayangkan bila kita yang menjadi istri dari pria yang berselingkuh dengan sesama jenis.

Dan bayangkan pula jika kita yang menjadi suami dari pemilik salon. Apakah ada rasa bersalah atau bagaimana dalam perasaan kita?

Pada akhirnya setiap orang akan kembali ke nurani masing-masing, jadi yah balik lagi ke hukum agama dan hukum sosial masyarakat. Baiklah, kita abaikan dulu hubungan biologis sesama jenisnya yah, karena mungkin saja si suami ini tahu betul jika itu dilarang oleh agama. Namun, jika yang terjadi adalah tumbuhnya rasa cinta tentu ada unsur yang namanya dilema. Lha kok bisa dilematis? Dimana letak dilema? Kan karena terbiasa ketemu dan kapsternya pun seolah-olah sudah seperti wanita 100%.kan bisa saja rasa cinta itu ada? Sejauh si suami bisa menjaga diri dari kontak fisik ya itu baik-baik saja. Tetapi kan kita tak bisa ingkari kalau mulai ada semacam perhatian seperti masa pacaran dulu sama bekas pacar yang sekarang resmi menjadi istri. Kita tak bisa berkata “tak mungkin”. Dalam kehidupan, segala hal seharusnya diasumsikan dan dinyatakan ada kemungkinan. Hari ini A, eh besok bilang B. Isuk sore dele tempe ah salah isuk dele, sore tempe alias mencla mencle. Maksudnya, pagi berkata A, sorenya berkata B. Ini kalau terkait ucapan, lalu jika berhubungan dengan perbuatan, bagaimana? Hari ini bilang “tak mungkin naksir kapster wong dia lelaki”, tapi esoknya? Siapa yang tahu kan?

Sebuah komitmen yang sepatutnya kita taati dan selalu diperbarui. Komitmen sebagai manusia yang mempunyai naluri mendasar. Maksud saya begini, seperti kita lakukan sholat, tetapi usai salam eh maksiat dijalankan kembali. Sebuah praktek STMJ ( Sholat Tetapi Maksiat Jalan ) yang seharusnya tak perlu dikembangkan secara masif dan terstruktur. Hahahaha seperti bicara program kerja saja. Tetapi yang beginian ini sudah jamak terjadi di sekitar kita. Sholat e nggethu (sholatnya tekun) tapi makan dari duit rente. Banyak ucapkan kata Tuhan, Rabb, Allah tapi berulang kali menipu orang. Kan ya repot dan kasihan dengan orang seperti ini. Orang seperti ini sebenarnya ah kok malah alihkan pembicaraan hehehe.. Kapan-kapan kita balik bahas itu. Jangan sekarang, tak elok karena sudah ditunggu mesin cuci.

Kawan, kita tidak hidup untuk hari ini saja. Justru hari ini ada agar kita tahu bahwa kita mungkin saja tak akan pernah menjumpai hari esok. Sebuah pertanyaan yang sebenarnya ditujukan untuk diri kita sendiri, apakah kita akan jatuh cinta pada kapster? Hanya jatuh cinta..tak lebih dan tak ada hubungan fisik. Sebuah kejujuran hanya dapat dilihat oleh Tuhan, mereka yang ada di sekitar kita hanya mengetahui dari apa yang kita katakan dan yang kita lakukan.

 

 

Salam hangat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: