Aku Lupa Rasanya Menjadi Orang Waras

wong waras

Bagaimana sih rasanya jadi orang waras? (Waras/Jawa = sehat rohani). Bila jawabannya adalah nikmat dan bahagia ya itu sama dengan bohonglah. Saya katakan itu jawaban bohong lha karena ada beberapa hal yang bisa menjadi sebab tidak bahagia. Contoh ; tidak naik kelas, profit yang luput, burung yang hilang atau mungkin lipstik yang dipakai teman tanpa ijin. Nah dengan kejadian itu, apa masih mungkin kita bilang bahagia? Relatif ya? Karena hari ini kita merasa bahagia, esok merasa sedih. Jadi bahagia dan kesedihan yang kita alami itu tergantung dengan proses yang kita jalani.

Lantas, jika kita tanya sama orang yang tidak waras, woi bung, bagaimana sih rasanya menjadi gila? Coba tebak apa jawabnya!

Sebenarnya gila itu relatif. Tergantung dari sisi mana kita menempatkan pendapat. Sehari semalam makan minum hanya sekali juga bisa dikatakan gila karena menyimpang dari apa yang disebut “biasanya”. Masjid yang menolak ditempati untuk sholat jenazah juga dapat dikatakan takmirnya sudah gila. Bahkan seorang Rabiah Al Hadawiyah pun dapat dikatakan gila karena beliau melihat alam semesta ini berbeda dengan kebanyakan orang. Jalaludin Rumi juga seorang yang gila karena syair-syairnya. Ringkasnya, perilaku seorang jenius sering dikatakan gila karena berada di luar kebiasaan umum. Tetapi kalau gemar melanggar lampu merah atau parkir di tempat yang dilarang itu sih bukan gila namanya, tetapi koplak hahaha.. Karena dia sadar untuk melakukan kesalahan konyol. Dan ada satu hal yang tidak kita sadari bahwa sebenarnya kita telah berbuat gila secara hakiki. Lebih buruk jika perbuatan ini dilakukan secara berkelompok dengan penuh kesadaran. Semisal gini ya, kita buang hajat berkelompok di tepi sungai yang sebenarnya sudah dinyatakan terlarang untuk buang hajat. Buang hajat itu bukan maksiat tetapi kalau dilakukan di depan umum dan beramai-ramai ini kalau bukan karena gila, lalu karena apa? Itu baru buang hajat yang terhitung bukan maksiat, lha kalau korupsi berjamaah, bagaimana ?

corruption-2
sumber gambar https://paanluelwel.com

 

Cukuplah bagi kita semua untuk tidak menjadi gila dengan satu prinsip dasar :  yaitu mengharapkan surga tapi senantiasa melakukan perbuatan maksiat. Ini jelas gila kelas berat ya. Sebuah kegilaan yang tak terbantahkan. Mirip setan jadinya, setan nih kan secara terus menerus menghasut manusia agar menjadi tidak taat tetapi di sisi lain itu setan berharap masuk surga. Bagaimana, mungkinkan bagi setan memasuki surga jika dia terus menerus mengajak manusia untuk tidak taat? Nah, berarti begitu pula dengan orang yang setiap waktu berbuat salah tetapi selalu berharap diampuni. Yah harus diampuni dulu baru masuk surga. Kalau dosa tak diampuni yaaaa lalu surga dari pintu sebelah mana yang mau dimasukkin? Sama persis dengan kita wajib mati dulu sebelum memasuki surga kan?

 

Di sekitar kita, banyak orang berkata lakukan hal yang gila agar kamu menjadi berbeda dengan yang lain. Gila disitu bukan gila sebenarnya, hanya sebuah ungkapan untuk meminta kita bekerja lebih keras dengan cara unik atau inovatif. Dan sebenarnya gila adalah ketika kita merasa sudah benar dibandingkan orang lain.

 

 

Salam hangat.

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: