Berdosa dengan Istiqomah

Logikanya begini jika ada amal jariyah atau amal yang pahalanya secara terus menerus mengalir maka wajar dan logis bila ada dosa yang juga terus menerus mengalir ke pelakunya.

Amal jariyah terdiri dari :

1.Ilmu yang bermanfaat
2. Doa anak sholeh
3.Sedekah

Dan dosa jariyah (langgeng dan istiqomah/ konsisten) adalah :

1.Ilmu yang tidak bermanfaat
2.Doa orang teraniaya yang kita belum sempat minta maaf
3.Sedekah pada jalan maksiat dengan harta dari jalan sesat

Penjelasannya sebagai berikut :
1. Ilmu yang tidak bermanfaat

Ini terkait anjuran ya bukan jenis ilmunya. Siapa saja boleh belajar ilmu sihir dg tujuan utk mengobati atau menangkal sihir. Belajar ilmu fiqh juga boleh tapi yg dilarang adalah menggunakan ilmu fiqh untuk menipu. Belajar ilmu mencopet dan santet juga tidak dilarang asalkan tujuannya benar. Dan bagian ilmu juga bukan hanya monopoli kyai atau ustadz, tetapi dengan berbagi wawasan itupun selama masih ada manfaatnya ya ga jaran juga mengalir. Situs atau pesan berantai yang provokatif dan nyinyir juga bagian dari ilmu yang tidak bermanfaat. Atau mungkin kita mengajari anak-anak kita tentang tidak pentingnya hubungan sosial atau silaturahmi.

2. Doa orang teraniaya yang kita belum sempat minta maaf

Merasa tidak bersalah atau tidak merasa menyakiti ini sebenarnya berbahaya lho buat kesehatan hati. Karena pada suatu ketika akan menjadi kebiasaan untuk menyakiti orang lain. Berbeda dengan watak yang apa adanya. Tolong dibedakan antara karakter dengan menyakiti. Kalau karakter ya biasanya orang ini masih memperhatikan tata krama sekalipun tetap akan bicara apa adanya. Sedangkan menyakiti itu ya menyakiti. Contoh nih, misal mau sampaikan kebenaran, biasanya karakter bebas masih akan menimbang situasi. Sedangkan menyakiti itu sering mengabaikan situasi. Tetapi terlalu sering minta maaf itu juga tak baik untuk kesehatan gigi. Karena kata maaf yang sebenarnya sakral jadi lebih sering diobral. Dalam satu kesempatan kita bicara sama orang lain lalu dikit-dikit kita minta maaf kan jadi tak elok didengar. Dan bandingkan jika kita meminta maaf di saat terakhir perjumpaan atau pembicaraan. Bandingkan dan rasakan. Seperti kita ucapkan rasakan pembalasanku (sudah begitu diakhiri dengan tawa huahahaha)….! it’s joke.

Dan selagi kita belum meminta maaf, maka amal kita juga akan tertahan. Sekalipun kita tahu bahwa Allah Maha Pengampun tetapi dalam konteks hubungan sosial, ampunan dari manusia lain juga kita perlukan.

3. Sedekah pada jalan maksiat dengan harta dari jalan sesat

Nomer 3 ini lebih parah. Sudah harta dari jalan sesat eh malah disumbangkan untuk kepentingan maksiat. Misal, dari mencuri lalu kita berikan untuk seseorang agar mampu bikin bom yang pada akhirnya bom diledakkan di keramaian umum. Repotnya kan kalau kita tidak tahu dan tidak diberi tahu tentang penggunaan dana itu. Sebetulnya, jika seseorang meminta sumbangan itu ada hak bagi pemberi untuk tahu kemana dana diarahkan. Kalau kita tidak mau tahu kan repot jadinya karena bisa disalahgunakan dan itu berarti kita turut serta berpartisipasi aktif memberi dukungan kepada pemalas untuk meminta-minta. Tak apa kita dikatakan pelit karena unsur “daripada” itu tadi. Nah selama pemalas itu meminta-minta dan tidak berusaha mandiri itu berarti dosa kita mengalir. Tetapi jika kita ingin membantu orang maka bantulah supaya dia bisa bertahan untuk hidup atau mandiri. Di sekitar kita, banyak pengedar sumbangan, entah dana yatim piatu atau pembangunan masjid, tetapi itu adalah kenyataan. Sebaiknya dilakukan konfirmasi terlebih dahulu atau cek kebenarannya secara fisik JIka merepotkan ya jangan beri. Dan bila kita memberi sambil berbisik dalam hati ” kalau kamu bohong ya semoga Allah tak memberkahimu” Lho???? Ini berniat sedekah atau memberi jebakan betmen? Kalau sudah memberi ya beri saja, tak perlu ada doa lanjutan. Yang dikhawatirkan kan bantuan itu disalahgunakan dan di sisi lain kita turut menyumbang peran agar tetap ada orang malas, agar tetap ada penipu dan seterusnya.

Kemudian….

Sudah jamak kita paham bahwa turut membantu pembangunan masjid adalah amal jariyah. Namun jarang kita berpikir bahwa membantu biaya sekola tetangga tak mampu itu sebenarnya juga amal jariyah. Ada ilmu yang bermanfaat dan sedekah. Bila bantuan kita untuk makan, maka selama orangnya hidup maka selama itu pula ganjaran juga mengalir. lalu bagaimana jika orangnya meninggal? Lha kalau orang tersebut banyak menebar ilmu bermanfaat bukankah kita juga dapat dari tebaran ilmu tadi? Logikanya kan dia menebar ilmu karena sudah tak kelaparan, lalu dia belajar, berbagi ilmu dengan yang lain. Orang lain mengambil manfaat dari ilmunya dan seterusnya. Termasuk menulis di blog, surat kabar, media sosial itu semua juga bagian dari ilmu yang bermanfaat.

Akhir kata…

Sedekah jariyah itu tidak selalu berarti menyumbang masjid atau menyumbang pembangunan pondok pesantren. Menyumbang sesuap makanan bagi seorang pengajar pun bagian dari itu. Dan ilmu itu tidak selalu ilmu agama dalam arti ilmu yang mempelajari hukum agama seperti halal dan haram, fiqh, bahasa Arab dan lainnya. Ada seorang kawan yang tatkala mengetahui tujuan blog ini, dia lantas berkata : “aku ikut supaya menjadi jariyah”. Mungkin beliau ini paham bahwa selama ilmu itu berarti  pengetahuan yang bermanfaat bagi kemanusiaan maka itulah ilmu agama.

 

 

 

Demikianlah dan salam hangat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: