E-KTP, Cintaku Sebatas Dinding Penjara

 

Suamiku, isriku..ketahuilah jika cintaku padamu sebatas dinding penjara.

Bila berita itu benar dan terbukti, pada akhirnya memang sangat memalukan. Beberapa orang yang mengaku mendapat amanah, berjuang dengan segala cara untuk memperoleh amanah eh njekethek kok malah memakan amanah.

Saat ini sedang membayangkan bagaimana perasaan istri dan anaknya. Jadi begini, dengan segala kebanggaan tentunya, orang-orang menjalani kehormatan sebagai wakil rakyat. Anak dan istrinya tentu bangga dong, lha gimana tak bangga ya karena dari ratusan juta manusia Indonesia, berapa yang terpilih jadi anggota dewan?

Lantas, ketika para yang mulia ini kasak kusuk bicara pembagian uang, kok saya tidak yakin mereka ingat anak istri. Maksudnya, mereka ini sadar atau tidak sih saat berbuat jahat? Sadarkan? Setuju! Kalau tak sadar kan mana mungkin mereka bisa omong kesana kemari. Itu bisa terjadi korupsi berjamaah karena mereka sudah bosan menjalani kehidupan normal. Ibaratnya begini, saat ditangkap karena mencuri eh mereka malah menyalahkan yg menangkap. Sehingga wajarlah jika beberapa orang seperti Fachri Hamzah dan Fadli Zon menunjukkan kegelisahan luar biasa. Belepotan kesana kemari demi sebuah sesuatu yang wow. Tentu akan menjadi luar biasa dahsyat dan istimewa jika kedua orang ini terlibat. Yup, mungkin diantara kita ada yang berharap seperti itu dan ada pula yang berharap kedua suara fals ini bersih dari korupsi. Tetapi, siapa tahu?

Kalau sudah begini, saya kasihan sama anaknya. Selain daging yang tumbuh itu dari barang haram, juga perubahan gelar. Dari anak anggota dewan menjadi anak maling. Dari istri anggota dewan menjadi istri maling. Coba dan mari kita bayangkan jika kita yang menjadi anaknya, menjadi pencurinya, menjadi istrinya atau suaminya. Pedih hati atau biasa saja? Malu atau bagaimana?
Semisal harta seluruhnya disita oleh negara, bagaimana? Mau mempertahankan mati-matian atau biarkan saja?

Kalau merasa biasa saja ya berarti cinta itu hanya sebatas dinding penjara. Kita tak mencintai dirinya tetapi kita lebih cinta dinding penjara.

Uang 5 triliun itu sebanyak apa? coba bayangkan! Kalau satu kardus air mineral kemasan gelas 220 ml saja berisi 3 milyar dengan nominal seratus ribu. Lha ini? 5 triiun itu kamar ukuran 5 x 6 meter mungkin penuh sesak. Itu bisa bangun perpustakaan berapa banyak? Ribuan buku bisa dicetak. Wow bangets!

Sekarang mari kita bandingkan dengan iblis. Seiblis-iblisnya iblis itu masih gentle mengakui perbuatannya. Dia menolak tunduk pada Adam dan konsisten menerima hukuman. Mungkin, bagi iblis saat itu lebih baik jujur karena ada harga diri. Seandainya saat itu iblis berbohong tentu saat ini kita bisa berkata “owalah blis iblis, dadi ulo kok marani gepuk (jadi ular kok malah mendatangi pemukulnya). Apess nian! Kalau saya pahami sih logika iblis adalah membohongi manusia itu lebih keren dibandingkan membohongi Tuhan. Karena iblis tahu jika Tuhan tak bisa dibohongi. Mungkin, bagi iblis saat itu lebih baik jujur karena ada harga diri. Sekalipun harga dirinya terlalu besar karena berani membangkang Tuhan, tetapi lihat sisi baiknya. Karena harga diri, dia mau menjalani hukuman di neraka forever. Dan yang namanya manusia itu memang jagoan ngeles. Kemaluannya lebih kecil jadi wajar bila merasa tak punya malu. Mungkinkah para terduga korupsi E KTP mau jujur mengakui perbuatannya? Karena pada kejujuranlah, seseorang bisa disebut sebagai manusia.

Bapak, ibu, saudara-saudara sebangsa dan setanah air.

Hari ini mungkin kita geram, marah dan ingin cabut bulu ketiak mereka. Itu perasaan yang wajar, yang menjadi tidak wajar kan kalau kita tawarkan sama mereka ” kesalahan anda mau dilupakan? Wani piro?

Menjadi tidak wajar jika ada upaya menggembosi KPK. Kita juga termasuk mengkhianati rakyat Indonesia jika kita mendukung upaya pelemahan KPK. Sementara ini, KPK adalah palang pintu terakhir untuk melawan teroris yang bernama koruptor. Korupsi adalah bahaya laten karena setiap orang mempunyai potensi berbuat jahat.

Wajib bagi kita semua mencegah korupsi dan kita mulai itu dari hal terkecil. Mari kita jujur pada diri sendiri.

Demikianlah

Salam Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: