(fiksi) Teror Rumah Pak Sardin

Siang itu Kriwul, Mbudur dan Badrun bersenda gurau dengan para pemuda desa Sukodadi. Mereka bersemangat membantu warga membuat beberapa bilik kecil. Oh ya, tradisi gotong royong ini sudah biasa dilakukan oleh warga desa Sukodadi setiap kali mempunyai hajatan besar. Kali ini mereka bersatu dal semangat untuk pemilihan kepala desa.

Esok harinya.
Didepan warung Pak Sunar, Mpok Intan terlibat pembicaraan serius dengan Ning Susy.
“Lho iya loh jeng. Semalam suami saya lewat jalan depan rumah Pak Sardin itu gak melihat apa-apa loh” dengan mimik muka serius, Mpok Intan bersuara dengan nada meyakinkan.
“Lho iya mpok. Memang kalau malam itu gak ada apa-apa. Tapi kalau sudah malamnya kaya gimana gitu..ihhhh..merinding…nih nih..kudukku saja sudah berdiri….” Ning Susy berkata sambil mengusap tengkuk dan lengannya.
“Iya ya, sebetulnya ada apa sih di desa kita ini, jeng”
Ning Susy yang masih mengusap-usap lengan menjawab ” mana kutahulah mpok, Mbok Siti sempat cerita sama saya kalau bagian belakang rumahnya sering terdengar suara gaduh. Tapi kalau sumber suaranya didatangi eh tiba-tiba diam,gitu”

Dari ujung jalan, mereka mendengar teriakan seseorang.
“Aaaaaaah..tolooooong..tooloooooong”

Serentak kedua wanita ini bergegas menuju sumber suara sambil mengajak beberapa orang untuk menghampiri. Adalah Pak Sunar yang berlari mendahului orang-orang ini. Setibanya di tempat asal suara, seorang lelaki duduk bersimpuh dan menangis. Nampak darah berceceran di sekitar tempat duduk lelaki itu. Darah itu bahkan menempel juga di dinding bagian luar rumah Pak Sardin.

Tak lama kemudian, ramai warga berkerumun karena penasaran. Mereka saling bertanya kenapa ada darah di rumah Pak Sardin. Sedangkan sejak 2 minggu lalu, Pak Sardin beserta keluarganya meninggalkan rumah. Sebagai PNS, Pak Sardin dipindahtugaskan ke Yogyakarta. Dan menurut rencana yang didengar warga katanya Pak Sardin baru balik ke desa Sukodadi minggu depan untuk berpamitan dan mengemasi beberapa perkakas.

Lelaki yang bersimpuh itu pun dituntun warga untuk diistirahatkan di padepokan. Usai sholat Isya, kyai Sogol mengajak lelaki yang belakangan diketahui bernama Sugeng Agus. Menurut pengakuannya, hari itu dia berencana menuju ke desa Bogangin. Dan satu-satunya jalan tercepat menuju desa Bogangin ya melewati desa Sukodadi kalau berangkat dari utara. Kemudian ketika dia hampir melewati rumah Pak Sardin, dia bilang melihat sosok bertubuh langsing, berbaju coklat bergerak cepat menuju bagian belakang rumah. Karena curiga, Sugeng pun mencoba mencari tahu dan dia berkata jika mencium bau anyir dan melihat darah berceceran.

Kyai Sogol manggut sambil mengelus janggutnya yang tak berjenggot.

“Apa tak sebaiknya kita laporkan ke polisi, mas Sugeng?”

“Oh monggo pak kyai. Kalau pak kyai berpendapat seperti itu, monggo. Dalem nderek kemawon ( saya ikut saja).!”

Kriwul pun menyela.
“Yai, sementara ini lebih baik tak usah dilaporkan ke polisi. Karena kejadiannya menurut saya belum bisa dijadikan pijakan dasar pemeriksaan lokasi. Kan saya sama beberapa orang tadi sempat memeriksa bagian belakang rumah tapi tak menemukan sedikitpun jejak orang. Pintu dan jendela rumah Pak Sardin juga tak terlihat ada kerusakan. Yang saya heran kan bayangan berbaju atau berkaos coklat itu lari kemana ? Karena bagian belakangnya kan tembok rumah Mpok Intan.”

Begitulah dengan ditemani Mbudur, mereka berempat berbincang hingga terdengar suara kenthongan dipukul 10 kali.

Selepas sholat Subuh, warga desa dikejutkan dengan suara seperti ringkik kuda dari rumah Pak Sardin. Beberapa jamaah termasuk Kyai Sogol pun bergegas menuju rumah pak Sardin. Dan mereka tidak melihat apapun namun bau bangkai menyengat indra penciuman mereka. Sambil menutup hidung, orang-orang ini memeriksa setiap sudut halaman depan hingga belakang rumah pak Sardin. Terlihat darah tercecer dan menempel di bagian dinding yang berbeda dengan yang kemarin siang.
Para warga juga saling berkata kepada yang lain jika mereka tidak kehilangan hewan ternak. Ayam, sapi, kerbau dan kambing pun tidak ada yang hilang.

Seminggu pun berlalu. Upaya mendatangkan polisi juga seperti sia-sia karena berdasarkan pemeriksaan telah diketahui bahwa itu bukan darah manusia. Setiap malam datang mengunjungi desa Sukodadi, para penduduk pun dicekam rasa ketakutan. Anak-anak kecil yang biasanya nampak bermain di depan bakai desa pun sudah jarang terlihat.

Di padepokan Similikithi, kyai Sogol terus mengadakan pertemuan dengan para ustadz serta santri senior. Mereka berupaya keras untuk menjaga keamanan desa dengan mengadakan ronda keliling setiap malam. Namun, suara-suara aneh masih nyaring terdengar. Terkadang seperti tangis perempuan, di lain waktu terdengar suara bayi dan setiap kali terdengar suara selalu ada darah yang masih segar tercecer di sekitar tempat suara berasal. Dan bau yang tercium pun semakin hari semakin mirip bau bangkai.

Di hari menjelang pemilihan kepala desa yang selalu hangat dan ceria di masa lalu, saat ini suasana menjadi seperti teror. Warga desa mulai tidak merasakan kehangatan seperti hari sebelumnya. Kecurigaan mulai timbul diantara warga meskipun belum sampai ke saling menuduh. Pak Sulis, sebagai lurah yang akan selesai bertugas pun nampak gelisah merasakan teror suara dan bau anyir setiap malam. Hari-hari yang mencemaskan mulai menyelimuti setiap warga desa.

 

 

(Bersambung)

3 thoughts on “(fiksi) Teror Rumah Pak Sardin

Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: