(fiksi horor) Bungkusan Bulat Itu

Kisah sebelumnya  Teror Rumah Pak Sardin

Hari-hari yang mencemaskan mulai menyelimuti setiap warga desa.

Pada hari ketiga sejak terjadinya peristiwa di rumah pak Sardin, warga desa Sukodadi menyelenggarakan acara peringatan Isra Miraj. Acara ini telah direncanakan jauh hari sebelumnya, pak Lurah dan kyai Sogol pun tetap meyakinkan warga desa supaya tidak terpengaruh dengan kejadian beberapa malam terakhir ini.

Pada peringatan Isra Miraj itu, kyai Sogol menyampaikan nasehat dari podium :
” Bapak, ibu sekalian dan anak-anakku yang tersayang. Diriwayatkan pada malam Isra, Nabi Besar Muhammad SAW dikejar jin Ifrit saat dalam perjalanan menuju ke Sidratul Muntaha. Namun saya tak hendak membahas perjalanan Miraj, Karena Buraq adalah makhluk yang terbuat dari cahaya jadi dan jin terbuat dari panas api jadi jangan kita bayangkan Nabi Muhammad dikejar jin Ifrit seperti kita dikejar orang. Sebaiknya kita membaca pengejaran itu ketika keadaan Nabi masih di bumi. Yaitu saat Nabi berjalan kaki menuju Buraq. Seperti ketika Nabi Ibrahim digoda iblis agar membangkang perintah menyembelih nabi Ismail. Apakah bapak dan ibu serta semua yang hadir juga membayangkan kalau jin Ifrit itu berwajah seram?”

“Iyaaa…bener pak yai” para hadirin menjawab serentak.

“Enggak ada yang bayangin kalau jin Ifrit itu kecil unyu-unyu kan?”

“Iyaaa…bener pak yai” seru semua orang sambil terkekeh.

“Ada enggak sih yang bayangin Ifrit saat itu bertampang manis, rambutnya disisir rapi, aroma bajunya harum?”

“Ha ha ha ha….” terbahak-bahak para jamaah yang hadir dalam pengajian itu mendengar pertanyaan Kyai Sogol.

” Bapak, ibu, adik-adik yang saya hormati dan saya sayangi. Yang namanya godaan atau ujian dari Allah tiu tidak selalu berupa hal yang kita benci. Malah kadang juga berupa sesuatu yang kita sayang, kita cintai, kita puja. Nah karena Nabi Muhammad ini orangnya berwajah tampan, mungkin atau tidak mungkinkah kalau Ifrit itu malah menampakkan dirinya sebagai wanita cantik ? Atau bahkan Ifrit menampakkan diri sebagai wanita yang berpakaian warna merah jambu dan tembus pandang? ”

” Yaaa..mungkin saja pak Kyai” jawab para bapak tergelak, sebagian malah bersuit-suit.

” Mungkinkah saat itu Ifrit justru menampakkan diri sebagai anak kecil yang lucu ? Tapi bukan tuyul loh ya?”

” Ha ha ha..pak Kyai bisa saja. Ya mungkin sajalah hahaha ” jawab para hadirin, terutama kaum Hawa.

Lalu..

” Aaaaahhhhh..huaaaaaa…aaahhh” terdengar suara histeris dari sebelah barat tenda utama.

Semua orang segera bangkit dan menoleh ke arah suara. Sebagian anak muda malah sudah berlari menuju sumber suara. Anak-anak muda ini kemudian melihat Mbok Wat tergeletak pingsan di tengah jalan. Segera anak-anak muda membopong Mbok Wat ke beranda depan rumah Mpok Intan. Rumah Mpok Intan ini hanya terpisahkan satu rumah dengan rumah Pak Sardin.

Orang-orang berduyun-duyun datang untuk melihat keadaan Mbok Wat. Rupanya pengajian Isra Miraj ini telah diakhiri Kyai Sogol lebih awal dengan pertimbangan situasi yang menjadi kacau. Di ruang tamu, Mpok Intan sedang berupaya menenangkan Mbok Wat. Dengan tersengal dan terisak, Mbok mengisahkan ” Mpok, saya tadi itu sedang dalam perjalanan pulang. Biasanya memang dijemput sama suami tapi suami saya sedang lembur kerja jadi saya putuskan untuk pulang sendiri. Toh malam juga belum larut. Ini baru jam 8 lebih kan Mpok?”

” Iya, betul Mbok. Dan juga di balai desa juga ada keramaian. Yah wajarlah kalau Mbok Wat pulang sendiri” ujar Mpok Intan mendukung Mbok Wat.

” Nah, ketika saya melintasi jalan depan rumah Pak Sardin juga tak ada perasaan yang aneh- aneh ,gimana gitu mpok. Toh saya juga lihat Mbak Hesty sedang gendong anaknya di teras. Eh sesaat ketika saya melihat ke depan kok sekilas terlihat bayangan berjalan menuju bagian belakang rumah Pak Sardin. Dia lewat halaman samping, Mpok. Entah dia menenteng bungkusan bulat atau apa, kok sepertinyta bungkusan itu tersenyum ke arah saya. Yang mengerikan itu rasanya iihhh duh gimana ya..seperti ada sepasang cahaya dari bungkusan itu. Lalu saya gak sadar diri sampai mpok bangunkan saya”

Di ruangan itu ada Kyai Sogol, Pak Lurah Sulis dan beberapa orang lainnya. Mereka menyimak serius dan saling bertukar pandang satu sama lain. Beberapa orang mengatakan telah memeriksa rumah itu dan tidak ada apapun yang bisa dicurigai. Lantas Pak Lurah mempersilahkan semua orang untuk bubar dan meminta beberapa pemuda mengantarkan Mbok Wat pulang ke rumahnya.

Malam itu juga, Kyai Sogol mengundang Pak Lurah ke padepokan untuk membahas masalah rumah ini.

 

(Bersambung)

One thought on “(fiksi horor) Bungkusan Bulat Itu

Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: