(Fiksi Horor) Pada hari ke Empat

Kisah sebelumnya Bungkusan Bulat Itu

Lantas Pak Lurah mempersilahkan semua orang untuk bubar dan meminta beberapa pemuda mengantarkan Mbok Wat pulang ke rumahnya.

Malam itu juga, Kyai Sogol mengundang Pak Lurah ke padepokan untuk membahas masalah rumah ini.

Pada hari ke empat.

Keesokan harinya, sejumlah orang nampak berbincang ramai di depan warung Pak Sunar. Mereka ramai membicarakan tentang peristiwa yang menimpa Mbok Wat semalam.

“ Eh, anu kasihan Mbok Wat ya. Wajahnya masih nampak pucat waktu ketemu saya di sebelah pasar Karang Ploso pagi tadi” kata Mbak Hesty.

“Iya wajarlah mbak. Mungkin saja dia tidak tidur semalam. Kan bagaimanapun juga yang namanya orang ketakutan pastilah masih terbayang. Apalagi dia bilang ada sepasang cahaya keluar dari bungkusan itu…..iiiiihhhh..ngeri ah” kata Ning Susy menimpali.

“ Itu katanya rumah pak Sardin dulu bekas ditempati orang Belanda ya?” tanya Mbak Hesty ingin tahu.

“ Kata siapa, mbak?” Ning Susy bertanya karena penasaran.

“ Lho.. ning Susy belum tahu ya? Itu kabar sudah sejak dari saya pindah kemari, Ning. Saya pindah ke desa Sukodadi kan sejak 1987 dan kabar itu sudah saya dengar sejak SMP” Mbak Hesty menerangkan.

“ Ah masa sih? Saya dengar malah dulunya itu lapangan kosong mbak. Saya kan tinggal di desa ini sejak 1980 tapi karena ikut bapak ke Surabaya ya jadi memang gak tahu sebenarnya seperti apa” Ning Susy mencoba menjelaskan.

“ Dulu kakek saya pernah cerita ya, tanah yang sekarang jadi rumah pak Sardin memang awalnya kosong. Dari sejak ayah saya masih kecil tanah itu memang kosong. Tapi seingat saya kalau tak salah..mmmmmm…itu dulu sempat ada sepetak sawah kok. Sebelum kembali jadi lapangan. Saya masih ingat kok itu dulu sempat menjadi lapangan sepak bola. Kadang kalau malam ada pasar malam yang keliling kampung. Begitu sih mbak Hesty ya kalau saya tak salah ingat” kata Pak Sunar yang sedari tadi hanya menyimak dengan serius.

“ Tapi kok aneh ya. Rumah ini kan tidak pernah kosong tanpa penghuni kan? Kok tiba-tiba jadi seperti hiiiiiiii..angker” Mbak Hesty menutup muka sambil berkata begitu.

“ Ah ingat saya. Dulu pernah loh sekali saya mencium bau wangi..wangi yang gimana gitu..ya seperti bau hio atau dupa dari rumah pak Sardin setiap subuh” kata Ning Susy.

“ Ah masa sih Pak Sardin piara dedemit eh makhluk halus?” tanya Mbak Hesty yang masih penasaran.

“ Lho mbak tidak boleh ada prasangka seperti itu. Tapi ada benarnya juga ya?”, kata Ning Susy,” mungkin juga orang ini punya semacam apa sih namanya yang buat pesugihan-pesugihan ?”

“Aduh, Ning Susy ini kok makin tak terarah sih omongannya. Yang namanya bau wangi kan tak selalu karena ada pesugihan,mbak. Tetapi mungkin saja orang ini memang gemar benda antik. Seperti keris atau tombak yang namanya aneh-aneh.Keris Setan Kober, Tombak Samber Nyawa, Keris Kencana Wungu, Keris Pragola. Pokoknya yang namanya seperti itu. Kan bisa saja toh!” Pak Sunar berlagak tahu tentang nama benda antik.

Siang datang menjelang. Orang-orang pun membubarkan diri. Suasana jalan utama desa pun menjadi lengang. Sedikit orang yang berlalu lalang. Sesekali menjadi ramai ketika anak-anak pulang dari sekolah dan bercanda di jalan itu.

Desa Sukodadi mendadak menjadi seperti desa tak berpenghuni setiap kali menjelang senja. Mushola yang biasanya ramai dipenuhi jamaah Maghrib pun kini menjadi lengang. Sebagian orang memilih untuk sholat di rumah untuk menghindari resiko jika melewati rumah pak Sardin. Jalan tercepat menuju mushola memang harus melewati rumah itu. Sedangkan jalan yang lain memang ada tetapi harus melewati beberapa kebun dan jarak tempuhnya lumayan jauh. Sayup-sayup masih terdengar suara beberapa anak mengaji namun keadaan tidak seperti biasanya. Sedikit gelak tawa dan canda diantara anak-anak ini.

Malam itu pak Lurah memutuskan untuk membagi warga yang bertugas menjaga keamanan menjadi dua regu. Pak Lurah bermaksud agar tidak ada kekosongan pengawas di ruas jalan depan rumah pak Sardin.

Menjelang subuh, Kriwul beserta beberapa pemuda yang tergabung dalam regunya berjalan melewati rumah itu. Mereka hendak bergabung dengan regu lainnya di sebelah barat rumah pak Sardin. Kabut mulai turun dan kali ini lebih tebal dari biasanya. Kriwul pun terpaksa menyalakan lampu senter. Angin berhembus pelan dan menembus tulang sumsum para peronda malam. Dari sekitar jarak yang begitu dekat. Ketika mereka hampir saja mencapai depan rumah pak Sardin. Kriwul beserta seluruh pemuda dalam regunya melihat dengan jelas. Sosok ini bukan lagi nampak seperti bayangan yang sekilas. Tetapi secara utuh terlihat bentuknya, hanya saja mereka ini berada belakang sosok itu.

 

 

(bersambung)

 

telah dipublikasin https://seword.com/cerpen/fiksi-horor-pada-hari-ke-empat/

© Roni Risdianto

One thought on “(Fiksi Horor) Pada hari ke Empat

Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: