(fiksi horor) Lingsir Wengi

Pada kisah sebelumnya Pada Hari ke Empat

Sosok ini bukan lagi nampak seperti bayangan yang sekilas. Tetapi secara utuh terlihat bentuknya, hanya saja mereka ini berada belakang sosok itu.

Karena kabut yang tebal dan penerangan yang tidak memadai, mereka terkejut dengan penglihatan di depan mereka. Entah darimana datangnya sosok yang tiba-tiba berada di depan mereka. Sosok itu seperti berjalan menjauhi mereka. Dan karena sangat ingin menangkap sosok itu, segera saja mereka berlima bergegas hendak mengejarnya.

“Hei… hei … kamu berhenti!” seru Kriwul beserta 3 orang temannya. Mereka berteriak-teriak bergantian dan bersahutan. Kemudian teriakan mereka terhenti. Sesaat mereka saling menoleh penuh keheranan. Mereka tidak mendengar suara mereka sendiri. Mereka hanya membuka mulut namun tidak ada suara yang keluar dari mulut mereka.

Bahkan mereka merasakan tubuh mereka juga tidak dapat bergerak sedikit pun. Mereka seperti terpaku di tempat masing-masing. Hanya mata dan kepala saja yang bisa digerakkan. Sosok itu pun berhenti. Waktu berjalan seolah lebih lambat. Lampu senter yang dipegang Kriwul juga terjatuh. Mereka hanya mengandalkan penerangan dari temaram senter yang sudah tak begitu terang karena terselimuti kabut. Sosok itu terlihat seperti menenteng sesuatu yang bulat. Kriwul menduga bahwa sosok itulah yang diceritakan oleh Mbok Wat kemarin malam. Dan sekarang mereka berada begitu dekat dengannya. Sosok itu berada diantara jarak 4 sampai 5 meter dari tempat kriwul berdiri. Bau amis pun mulai menyebar. Seolah memberi kabar buruk bagi setiap orang yang menciumnya.

Terlihat oleh Kriwul ada semacam cairan yang menetes keluar dari bungkusan yang dibawa sosok itu. Kriwul tidak dapat memastikan apakah cairan itu benar keluar dari bungkusan atau menetes dari tangannya. Sosok itu juga masih berdiri dan belum bergerak. Kriwul memaksakan diri untuk bergerak namun gagal, dia merasakan seperti ada kekuatan yang memaksanya untuk duduk. Kriwul pun melawannya karena di saat yang bersamaan, dia juga melihat ada seperti tali hitam membelit leher Hardi.

Hardi, yang berada di sebelah kiri Kriwul, merasakan lehernya tercekik. Nafasnya tersengal-sengal, Kriwul mengetahui hal itu tetapi dia tidak dapat melakukan apapun untuk menolong temannya itu. Hardi merasakan ada sesuatu yang membelai belakang telinganya dan menghembuskan nafas yang beraroma wangi Hardi makin merasa seperti dicekik. Dia ingin meronta, dia ingin berteriak tetapi tubuhnya tidak dapat digerakkan. Suaranya pun tak dapat dikeluarkan. Dia merasa bahwa ada sesuatu yang seperti benang atau apapun mulai membelit lehernya. Mata Hardi seolah-olah hampir saja keluar. Lidahnya terjulur keluar.

Sosok itu kelihatan bergerak. Entah bergerak maju atau mundur karena keadaan begitu gelap dan akibatnya sulit melihat apakah sosok itu berdiri berhadapan atau membelakangi mereka. Sosok itu makin mendekat, dan Hardi makin tersiksa karena lehernya makin tercekik. Dua orang lainnya pun mengalami hal yang sama dengan Hardi. Kini Kriwul merasakan tetesan seperti cairan pada mukanya. Rambutnya juga terasa seperti dialiri cairan. Kriwul tak bisa melihat apakah cairan ini adalah air ataukah darah karena Kriwul merasakan sedikit gatal pada kulit yang terkena tetesan itu. Hampir saja Kriwul tak mampu bernafas karena bau yang ditimbulkan cairan itu sangat menyengat hidung. Dua orang yang berada di belakangnya telah roboh, mereka berkelojotan sambil memegangi leher. Sosok itu makin dekat dengan mereka. Bungkusan yang ada di tangannya telah lenyap. Berganti dengan sebuah benda yang sedikit berkilau oleh terpaan temaram lampu senter.

Sementara itu, regu Pak Sunar telah sampai di gardu tempat dua regu peronda berencana untuk berkumpul. Mereka menanti kedatangan regu ronda yang dipimpin oleh Kriwul sambil berbincang.

“ Kriwul sama Hardi kok belum datang ya Pak?” tanya Eki pada pak Sunar. Pak Sunar menjawab “Kita tunggu saja dulu sampai adzan Subuh. Mungkin mereka sedang berkeliling lebih lambat karena kabutnya tebal seperti ini”.

“Iya, betul juga pak. Oh ya, omong-omong sekarang tak ada siaran langsung Liga Champion ya?” Eki berkata sambil mengalihkan perhatian dan juga memberi sedikit hiburan.

“ Belum ada. Baru saja juga diadakan undian antar pemenang. Barcelona hebat juga ya, sekalipun ada sedikit curiga tapi membalikkan keadaan dari hampir tak mungkin lolos akhirnya menjadi lolos” jawab Agung dengan senyum merekah karena klub kesayangannya dapat lolos ke babak selanjutnya.

Sayup-sayup namun jelas di telinga, suara seorang lelaki mendendangkan sebuah tembang ;

Aku lagi bang wingo wingo ((aku sedang gelisah)

Jin setan kang tak utusi (Jin setan aku perintahkan)

Jin setan kang tak utusi (Jin setan aku perintahkan)

Dadyo sebarang (Jadilah apapun juga)

Wojo lelayu sebet (Asal bukan membawa kematian)

Mendengar lagu itu, sontak Eki dan Agung pun merasakan ngeri. Karena,konon, mereka mendengar kabar bahwa lagu ini adalah lagu untuk mengundang kuntilanak. Mereka mengatakan itu pada pak Sunar. Namun pak Sunar pun menjelaskan bahwa menurut penuturan Kyai Sogol, lagu ini awalnya bukan lagu untuk setan. Tetapi seperti curahan hati seorang manusia kepada Tuhannya. Pak Sunar pun mengulang penjelasan yang diperolehnya dari Kyai Sogol. Bahwa syair lagu ini mungkin saja diubah tujuannya hingga akhirnya terkesan menyeramkan. Namun penjelasan pak Sunar ini tidak menghilangkan rasa ngeri pada kedua anak muda ini.

Dan suara lelaki yang menembang itu juga semakin dekat.

 

(bersambung)

 

One thought on “(fiksi horor) Lingsir Wengi

Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: