Sabun Mandi untuk Panu Ken Dedes

(keterangan gambar : buah lerek/kluek/klerek)

Sabun Mandi Untuk Panu Ken Dedes

Ken Dedes dipaksa Tunggul Ametung agar bersedia menikah. Tentu saja Ken Dedes tak bisa menolak karena ayahnya, Mpu Purwa, sedang tak ada ditempat. Kisah yang beredar adalah Mpu Purwa mengutuk Tunggul Ametung bakal mati dibunuh dengan keris.
Lantas, mengapa Ken Deses tak mengungkap ke publik tentang pembunuh suaminya itu? Kalau menurut saya yah karena Ken Dedes merasa ditindas dalam rumah tangganya. Cinta tumbuh karena kebiasaan. Witing trisno jalaran soko kulino. Entah berapa lama pernikahan itu tetapi yang pasti adalah Tunggul Ametung gagal menghadirkan suasana di kota santri eh maaf..maksud saya di rumah tangganya.

Mungkin Ken Dedes juga tersiksa karena merasakan kebebasan yang sudah terenggut. Ibarat burung yang tak akan bahagia sekalipun berada di sangkar emas. Dan bila kemudian datang seorang Ken Arok, itu bukan berarti seperti pucuk dicinta ulam pun tiba. Karena sebelumnya Ken Dedes juga tak mengenal Ken Arok. Dan Ken Dedes juga pasti tahu persis bahwa berselingkuh dengan Ken Arok sama saja dengan meminta hukuman mati dari Tunggul Ametung. Dan seperti yang saya tulis di bagian Keringat Ken Arok Tak Berbau Ikan Pindang akhirnya terjadi kompromi politik. Lalu karena Ken Arok mampu menempatkan diri dan memahami situasi dengan Ken Umang maka tidak terjadi konflik seperti yang kita lihat di sinetron Indonesia yang berkualitas parah tak layak tonton.

Peristiwa penculikan Ken Dedes dan kawin paksa oleh Tunggul Ametung ini ibarat sebuah panu. Ken Dedes tahu jika peristiwa itu mencoreng harga diri dan merendahkan martabat keluarganya. Tapi apa daya? Penguasa tertinggi Tumapel adalah harga mati. Mereka tidak melawan dan tidak mengeluarkan fitnah bahwa Tunggul Ametung ini gemar perempuan muda. Tidak ada bukti sejarah yang melaporkan ada fitnah kan? Jadi kita berpikir positif saja. Nah karena panu itu penyakit kulit sering bikin orang tidak percaya diri dan banyak yang merasa malu, begitu juga Ken Dedes. Tetapi satu hal, kita harus mengakui kehebatan Ken Dedes memendam rasa sakitnya. Sakitnya itu disini bray (#sambil tunjuk dada..) Dia tidak mencoba memerintahkan dayang atau pembantunya untuk meracuni sang akuwu. Tidak pula berusaha menyingkirkan sang camat ini dengan cara apapun. Ken Dedes hanya diam dan mungkin saja beliau ini hanya mengerti bahwa berdoa adalah cara terbaik melepaskan kegelisahan hati dan jenis-jenis penyakit hati lainnya yang seperti panu. Segenap hati dia melayani suaminya, buktinya hamil kan? Anusapati pun dikandungnya.

Selepas kematian Tunggul Ametung, Ken Dedes dinikahi oleh Ken Arok kemudian lahirlah Anusapati. Sebetulnya bisa saja bagi Ken Arok untuk membunuh Anusapati dan Ken Dedes setelah Ken Dedes melahirkan anak dari benih Ken Arok. Ini terkait ramalan ya kan pendeta Lohgawe mengatakan keturunan Ken Dedes akan menjadi nenek moyang para raja di Pulau Jawa.

Maksud saya begini, ketika Ken Dedes sudah melahirkan Mahisa Wonga Teleng, sebenarnya sudah cukup bagi Ken Arok untuk menghabisi nyawa Ken Dedes. Tetapi tidak dilakukan. Tentu ada alasan kan? Yah namanya cinta kalau sudah jatuh di hati sampai kaki ya mana mungkin tega kan? Hingga akhirnya lahir empat orang dari rahim Ken Dedes. Nah Anusapati karena merasa berhak atas tahta Singasari maka dia membunuh Ken Arok. Serat Pararaton menyatakan bahwa Anusapati membunuh karena dendam dan berstatus anak tiri. Boleh kan berpendapat lain? Toh hanya sebuah pendapat yang tak didukung catatan sejarah. Negarakertagama tidak menceritakan peristiwa pembunuhan itu. Sedangkan selisih antara Serat Pararaton dengan Negarakertagama adalah 118 tahun.

sumber gambar : wikipedia

Baiklah, karena tulisan ini tak membahas pembunuhan-pembunuhan seputar tahta Singasari. Jadi…kembali ke sabun mandi .

Berkeluarga itu tidak bisa lepas dari kata sakti yaitu konflik. Bagaimana cara mengatasi konflik dalam rumah tangga yah hanya satu solusi yaitu komunikasi. Itu dulu yang harus dilakukan. Selebihnya itu jelas panjenengan semua lebih paham daripada saya dalam mengatasi konflik. Karena tiap konflik dalam rumah tangga itu mempunyai keunikan dan perbedaan dengan rumah tangga orang lain.

Sebagai penutup, marilah kita berperan sebagai sabun mandi bagi pasangan masing-masing. Saya pernah mendengar dalam suatu ceramah tentang Amirul Mukminin Abu Bakr ketika ditanya tentang istrinya. Singkatnya seperti ini (mohon dikoreksi jika salah)

Penanya : bagaimana kabar istrimu?

Abu Bakr : baik- baik saja. Itu bukan urusanmu.

Ketika ditanya tentang kabar istrinya setelah perceraian :

Penanya :bagaimana kabar wanita itu?

Abu Bakr : itu bukan urusanku lagi.

Demikianlah.

Salam hangat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: