(Fiksi Horor) Akhir Malam yang Panjang

 

Pada kisah sebelumnya (Fiksi Horor) Lingsir Wengi

Pak Sunar pun mengulang penjelasan yang diperolehnya dari Kyai Sogol. Bahwa syair lagu ini mungkin saja diubah tujuannya hingga akhirnya terkesan menyeramkan. Namun penjelasan pak Sunar ini tidak menghilangkan rasa ngeri pada kedua anak muda ini.

Dan suara lelaki yang menembang itu juga semakin dekat.

Pak Sunar mencoba menenangkan kedua anak muda yang sedang dilanda rasa takut nan hebat. Bersamaan dengan itu terdengar ringkik kuda yang diiringi gemerincing lonceng. Derap langkah kuda jelas terdengar oleh mereka bertiga. Eki dan Agung segera melarikan diri ke arah utara. Pak Sunar yang terkejut dengan suara-suara itu berusaha tenang. Dia mencoba tak menghiraukan dengus nafas kuda yang seolah sudah berada di depannya. Gemerincing lonceng dan langkah kuda sudah terdengar. Kini hanya dengus nafas kuda yang dirasakan Pak Sunar menerpa wajah Pak Sunar. Dia merasakan hawa dingin segera menyelimuti tubuhnya dan anehnya hanya bagian bibirnya yang terasa sedikit panas. Dia mengalihkan pikirannya untuk memikirkan kembali wejangan Kyai Sogol tentang Lingsir Wingi. Dia mencoba mengingat kembali.

Ana kidung rumekso ing wengi  (Ada senandung yang tulus di tengah malam)

Teguh hayu luputa ing lara (Untuk anak lelaki dan perempuan semoga bebas dari penyakit)

luputa bilahi kabeh  (Terbebas semuanya dari segala petaka)

jim setan datan purun  (Jin dan setan pun tidak mau mendekati)

paneluhan tan ana wani  (Segala jenis sihir/teluh tidak berani mendekati.)

niwah panggawe ala (Apalagi perbuatan jahat.)
gunaning wong luput (kiriman orang lain (santet/teluh/guna-guna) meleset)
koyo geni atemahan tirta (seperti api bertemu dengan air)
maling adoh tan ana ngarah mringtami (maling menjauh tanpa ada yang merintangi)
Kudu nduduk lan sirna (harus tunduk dan sirna/musnah)

Seperti itulah bait syair Lingsir Wengi yang diingat Pak Sunar. Pak Sunar mendendangkan dengan perlahan dan nyaris seperti bergumam. Namun, dengus kuda pun tak kunjung beranjak dari wajahnya. Aroma harus semerbak menebar memenuhi gardu*. Langkah kaki yang diseret menimbulkan jejak di tanah basah di dekat kaki  Sunar. Langkah ini terhenti. Dalam remang cahaya lampu gardu, tampaklah ada sesuatu yang membasahi papan kering di dekat Pak Sunar. Pak Sunar merasakan belaian di punggungnya. Dia melihat bawah papan yang basah itu kini berubah warna. Kabut yang seolah memberikan gambaran tentang sosok yang kini hadir di dekat Pak Sunar. Wajah itu semakin jelas memperlihatkan dirinya. Pak Sunar dengan gugup mencoba memaksakan diri untuk melihat wajah itu. Separuh wajah yang dilihat olehnya. Begitu mengerikan, dan wajah itu mendekati  sambil menjulurkan lidahnya yang bercabang tiga. Bau busuk segera memasuki rongga hidung Pak Sunar. Pak Sunar sudah merasa tak mampu melihat kengerian yang dialaminya dan kemudian bangkit lalu berlari menuju ke mushola.

Dari jarak yang lebih dekat, Kriwul melihat tubuh yang terbalut dalam kain berwarna coklat ketika sosok itu semakin mendekat. Tercium bau busuk yang sangat menyengat. Bau ini seolah sanggup membuat pepohonan menjadi kering lalu mati.  Kain itu tidak berbentuk seperti baju atau daster. Hanya sebuah kain yang diselimutkan pada tubuhnya. Sementara itu, kedua rekan Kriwul yang roboh dan sedang kejang makin merasakan kepedihan. Tubuh yang meronta itu semakin lemah kekuatannya. Hanya nafas yang tersengal menjadi tanda bila keduanya masih hidup.

Hardi yang makin tercekik melihat hewan kecil merayap  perlahan dari belakang lehernya. Hewan dengan jumlah tak begitu banyak sedang perlahan menuju setiap lubang yang ada di kepalanya. Telinga, hidung dan mulut Hardi terancam dimasuki oleh hewan-hewan kecil ini. Hewan ini mempunyai duri diatas punggungnya. Benda yang nampak seperti tali hitam itu perlahan mengendurkan belitannya. Binatang kecil yang berduri mulai mendekati lubang hidung Hardi. Hardi mencoba untuk mengusirnya dengan hembusan nafas dari mulut. Seketika belitan mencekik lehernya. Hardi menggoyangkan kepala untuk mencegah binatang kecil yang hendak memasuki hidungnya. Namun binatang itu tetap merangsek maju. Hardi merasakan benda itu terangkat ke atas, menyentuh telinganya namun lehernya masih dalam belitan. Hardi mendengar suara parau yang seolah berada di dalam telinganya. Suara parau itu mirip tangis seorang bayi.

Hardi mendengar dengan sangat jelas. Ketika Hardi menoleh ke sebelah kanan asal suara itu, dia melihat kepala yang tak terlihat wajahnya. Kepala tanpa leher itu perlahan menoleh berhadapan dengan wajah Hardi. Semakin dekat dan kini membuka mulutnya. Semakin lebar mulut itu terbuka, kemudian dari rongga mulut itu keluarlah sebuah wajah yang mengerikan. Wajah dengan lubang hidung yang diapit kedua mata berwarna putih. Wajah itu keluar dari mulut si kepala tanpa leher, dengan cepat dia melesat hendak menggigit urat leher Hardi.

Kriwul yang berjarak cukup dekat dengan sosok ini dapat melihat bentuk benda yang dipegang oleh sosok tubuh yang berada didepannya. Sebuah benda panjang yang ujung bawahnya tampak berbentuk lancip. Sebuah tombak. Tombak yang berkarat pada sebagian sisinya. Jarak itu masih belum cukup jelas untuk bagian depan dari sosok itu. Kriwul merasakan seperti ada yang memegang telapak tangannya. Padahal jarak diantara mereka masih terlalu jauh untuk dijangkau oleh lengan orang dewasa.

Dia merasakan bulu yang kasar pada telapak tangannya. Sebuah tangan yang telapaknya berbulu sedang merayap naik. Merambat pelan menyusuri tiap pori-pori lengan Kriwul. Dia merasakan gatal di bawah kulitnya. Rasa gatal ini menjalar dari telapak tangan hingga pangkal lengan. Kriwul menahan rasa sakit itu tanpa mampu menarik tangannya. Rasa gatal itu menuju ke urat lehernya.

Tidak ada nama Tuhan yang terlintas dalam benak Kriwul dan tiga rekannya. Terkejut dan rasa ngeri telah membungkam seluruh indra mereka. Mereka sudah melupakan arti kematian karena rasa sakit yang luar biasa. Waktu yang seolah berjalan lambat semakin menyiksa mereka. Kriwul melihat tangan yang menggenggam tombak itu terangkat dan diayunkan ke wajah Kriwul.

“…..traaaaaaaaaang…….!!!!!”

Sesaat sebelum Kriwul tiba di depan rumah Pak Sardin, sepasang mata menatap lekat bagian belakang rumah pak Sardin. Terlihat nyala lampu di bagian tengah dan belakang rumah. Derit besi yang saling bergeser jelas terdengar. Seseorang sedang mengambil air namun sepasang mata ini tidak melihat siapa pun di sekitar sumur. Dia beringsut mengubah posisi supaya makin jelas mengamati. Di balik korden rumahnya, dia melihat seseorang memukuli sesuatu yang tak nampak olehnya. Rumah pak Sardin menjadi gelap gulita kembali dan terdengar suara menjerit kesakitan. Suara ini mengerang panjang. Dari balik korden tempat sepasang mata ini melihat kejadian demi kejadian di rumah Pak Sardin, muncul sebuah wajah jelita berlumuran darah.

sumber gambar :www.pinterest.com

 

(bersambung)

 

 

terpublikasi di https://seword.com/cerpen/fiksi-horor-akhir-malam-yang-panjang/

©roni risdianto

One thought on “(Fiksi Horor) Akhir Malam yang Panjang

Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: