Soto Ayam Bergincu Merah

Tiwul Raharjo alias Mbudur saat itu tengah menanti kedatangan seorang karibnya yang berasal dari Sleman. Sendirian menunggu di pojok ruangan sebelah loket di Stasiun Gubeng Surabaya. Rasa bosan mulai menyapanya dengan mesra. Mbudur pun beranjak menuju kantin di bagian dalam stasiun. Hawa dingin setelah Surabaya diguyur hujan sejak subuh menjadikan rasa lapar datang menghampirinya. Mbudur pun memesan soto ayam lengkap dengan nasi ditambah jerohan (bagian dalam ayam seperti usus, rempela, hati), kemudian menikmati makanannya itu dengan gesit, lahap dan bersemangat.

Seorang perempuan muda yang jelita, bergincu merah mendekatinya dan duduk di hadapannya. Lantas terjadilah percakapan diantara keduanya.

Perempuan (P) ; Apakah mas lupa sama saya?

Mbudur (M) ; Sebentar..mmm..dimana ya kita pernah bertemu?

P : Aih..mas ini. Masih muda begini kok sudah amnesia?

M : (tersipu malu karena dibilang amnesia)..bener mbak. Saya masih mengingat kapan dan dimana kita bertemu. Beritahu dong mbak!

P : Mas ini sungguh terlalu. Baru saja bertemu saya dan sekarang bilang tak ingat. Bagaimana kalau kita berjodoh mas? Jangan-jangan mas lupa semalam berada dimana? (perempuan ini menggoda sambil bibir merahnya ditutupi telapak tangan)

M : (dengan hidung kembang kempis karena GR) ya tidak seperti itulah. Saya ini orangnya setia, baik hati dan tak sombong.

P : Baik hati bagaimana? Buktinya lupa sama saya (sambil mengedipkan mata)

M : Suerrrr mbak bro. Bener saya ini lupa. Saya janji kalau ingat nanti saya lamar mbak. (mulai melantur omongan si Mbudur)

P : Begini loh mas. Mas Mbudur kan baru saja makan soto ayam. Entah karena kelaparan atau apa, yang pasti mas tadi tidak berdoa. Sedikitpun mas tidak ada rasa syukur kecuali laparnya jadi hilang. Tetapi rasa syukur pada Pemberi Nikmat itu yang tidak ada. Nah saya ini ayam yang tadi mas.

Mbudur terkejut. Karena perempuan bergincu merah dengan busana yang asoy tiba-tiba lenyap dari pandangannya dan berganti sepiring jerohan yang terbakar hangus. Mbudur melihat di bawah piring itu sebuah kertas bertuliskan :

“Aku adalah berkah yang hangus karena engkau melupakan rasa terima kasih. Berterima kasihlah kepada manusia dan kepada Tuhanmu. Karena rasa terima kasih adalah bentuk lain dari kata menghormati dan menghargai suatu pemberian atau pertolongan. Bahkan sebuah kata terima kasih pun mampu meredam api setinggi Himalaya. Bila engkau adalah seorang manusia yang selalu berharap ganjaran atau pahala, maka aku adalah pahala yang gagal tercatat untukmu. Sebuah pahala yang tidak akan mampu engkau tebus sekalipun dengan emas seisi perut Himalaya”

“Dur..dur..bangun..ayo pulang” seseorang membangunkan Mbudur.

“ah syukurlah..ini hanya mimpi” gumam Mbudur dalam hati.

 

 

Demikianlah.

Salam hangat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: