Dewi Drupadi Juga Mengajarkan Antri

Dewi Drupadi, tokoh wanita cantik dalam jagat perwayangan. Seorang wanita spesial yang menjadi hadiah sebuah sayembara. Karena satu dan beberapa hal maka akhirnya beliau menolak mas Karna sebagai pemenang. Dan selain itu, mas Karna juga bukan peserta langsung, lelaki ksatria ini hanya mewakili Duryudana. Penolakan sang dewi juga disebabkan campur tangan pihak ketiga yaitu Sri Kresna. Singkat kisah, Dewi Drupadi harus dinikahi oleh Pandawa sebagai amanat dari ibu mereka, Dewi Kunti.

Tentu dalam pernikahan itu bukan membahasnya dari sisi halal dan haram, karena bagaimanapun juga pernikahan itu bagian dari agama Hindu. Biarlah rekan Hindu yang menjelaskan bila ada yang bertanya, bukan hak dan kewajiban saya untuk menjelaskannya. Namun sisi menarik yang seharusnya dijadikan pelajaran adalah budaya antri dalam sabar. Setiap lelaki Pandawa harus bersabar menunggu waktunya untuk bersanding dengan Drupadi.

Antri adalah bentuk pemaksaan yang tidak kita sadari dan antri pula merupakan hukum Allah yang sering kita langgar. Lho kok?

Penjelasannya adalah kita tidak menyadari bahwa antri itu bukan saja sesuai dengan nomor urut kehadiran. Yang lebih datang awal itu yang menjadi prioritas. Bukan itu saja.

Menurut Kamus Bahasa Indonesia, antri adalah deretan orang, barang olahan, atau unit yang sedang menunggu giliran untuk dilayani, diolah, dan sebagainya.

Coba kita perhatikan : barang atau unit yang menunggu giliran untuk dilayani.

Kita, manusia adalah benda. Kita adalah barang yang tadinya hanya sebuah benda mati kemudian diberi nafas agar bisa hidup, lalu akal untuk berpikir. Artinya kelahiran kita adalah metode Allah untuk mengajari budaya antri dan disiplin.
Orang Jawa sering mengatakan ” kabeh iku wis ono wayahe” (semua itu sudah ada waktunya).

Kalau ada diantara kita masih suka selonong boy atau serobot barisan ya coba kenapa dulu tidak minta lahir lebih awal atau lebih lambat dari ketentuan? Atau kenapa tidak meminta mati lebih cepat? Mari kita pikirkan kenapa Rasulullah melarang kita berdoa meminta kematian yang dipercepat?
Apa karena meminta kematian dipercepat itu mengambil hak Allah yang mematikan dan menghidupkan? Nah kalau sudah punya pikiran seperti itu, lalu kenapa antri karcis saja tidak bisa? Kalau memang tergesa-gesa kan bisa antri dari kemarin toh?

Termasuk yang wajib menjadi bagian ibadah adalah tidak zig zag plus ngebut jika di jalan raya. Jika memang terburu berangkat kerja atau antar sekokah..ya tetap tenang sekalipun pasti terlambat dan dikenai sanksi. Coba pikirkan besarnya sanksi dengan besarnya sial. Misal brakk, menabrak trotoar. Yang susah siapa? Bagaimana dengan anak yang kita bonceng di depan dan belakang? Terus mengalami gegar otak, kan anak yang jadi korban karena orang tuanya tidak mau antri berkendara. Itu kalau menimpa kita, kalau orang lain? Gara-gara kita tak mau antri, pengendara lain akhirnya menderita cacat tetap. Apa sampeyan mau tanggung jawab kasih nafkah keluarganya?

Sering ya mungkin kita mengalami hal serobot yang menjengkelkan. Susah payah mengajari anak untuk budaya antri eh ada orang tua lain yang malah suruh anaknya serobot maju. Lalu apa sebaiknya yang kita lakukan? Kalau saya pribadi, selama anak tidak menunjukkan protes saat itu ya akan saya jelaskan setelah penyerobotan usai. Kalau dia bertanya, saya biasanya akan berkata dengan volume bariton ” tak apa, karena mungkin dia lagi mencret”.

Lalu bagaimana kalau yang menyerobot itu kaum bumi datar? Maksud saya yang menyerobot ini berpakaian dinas, entah instansi militer atau instansi pemerintah atau mungkin anggota dewan atau mungkin pak ustadz? Ya bicaralah dengan sopan dan baik-baik karena kita harus memaklumi bahwa perilaku menyerobot hanya bisa dilakukan oleh mereka yang pendek jika dilakukan tanpa meminta izin pada yang berada di depan mereka.

Lalu bagaimana bila yang kasih serobot itu malah karyawan atau pegawai tempat kita sedang mengantri? Idem juga. Malah lebih parah sih. Karena ada pegawai itu sama dengan membuka peluang kekacauan terjadi. Itu pegawainya mungkin penghuni kolam ikan.

Mohon maaf bila ada kata yang nylekit karena Indonesia adalah bangsa besar dan bermartabat. Sudah sepantasnya dan menjadi keharusan untuk mewariskan budaya antri pada anak cucu kita.

 

 

Demikianlah.

Salam hangat

2 thoughts on “Dewi Drupadi Juga Mengajarkan Antri

Add yours

  1. Mantap! Betul banget nih kita memang sejatinya hidup dalam budaya antri dan tertib. Bukankah Islam juga mengajarkan kita untuk tertib dan disiplin, contohnya solat saja ada waktu2nya dan urutan2 yg tdk blh terlewati… Seharusnya budaya antri dan disiplin bisa mendarahdaging, apalagi budaya di Indonesia yang santun sangat mendukung hal ini…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: