(Fiksi Horor) Dia yang Berkepala Terpisah

Pada kisah sebelumnya   Akhir Malam yang Panjang

Suara ini mengerang panjang. Dari balik korden tempat sepasang mata ini melihat kejadian demi kejadian di rumah Pak Sardin, muncul sebuah wajah jelita berlumuran darah.

Sepasang mata itu terkejut dan segera berlari menuju bagian dalam rumah. Wajah berdarah menembus jendela kaca dan mengejarnya. Sepasang mata ini segera bersembunyi di dalam sebuah lemari di bagian dalam rumah.

Sosok berlumuran darah itu lantas berhenti di depan ruang yang nampaknya seperti ruang makan. Memutar kepala tanpa menggerakkan tubuhnya. Mengamati setiap inci di setiap ruangan. Desis halus keluar dari mulutnya. Tubuh ini berjalan mengitari ruang makan. Dan berhenti tepat di samping kanan lemari makan. Kemudian mengalirlah cairan berwarna sedikit gelap dari dalam lemari. Tidak ada penghuni selain sepasang mata ini di dalam rumah itu. Tidak ada teriakan atau suara lainnya dari dalam lemari. Begitu senyap.

Kriwul yang baru saja siuman dari pingsannya kelihatan masih belum menguasai diri. Dia beserta teman-temannya sudah berada di sakah sebuah kamar di Puskesmas Sukodadi.
Lurah Sulis yang duduk di sebelah atas dekat kepalanya mengusap kening Kriwul.
“Kejadian itu memang sangat menakutkan siapa saja, Wul. Saya sudah bicarakan dengan pak kyai. Keputusan untuk melakukan ronda itu tidak sepenuhnya salah tetapi karena yang kita hadapi juga bukan manusia atau binatang. Entah siluman apa yang mempunyai wujud seperti itu.”

” Iya pak lurah. Baru kali ini bertemu makhluk seperti itu. Sebelumnya juga saya tidak ada firasat apapun. Sungguh tak menyangka ada makhluk yang berbeda seperti yang dibicarakan orang selama ini”

Kriwul diijinkan untuk pulang siang itu, namun ketiga temannya masih memerlukan perawatan lebih lanjut. Sesampainya di padepokan, Kriwul segera menemui Kyai Sogol untuk menceritakan semua tentang peristiwa semalam. Kyai Sogol lantas menyuruh Kriwul untuk segera beristirahat hingga kondisi fisik dan mentalnya benar-benar pulih seperti sedia kala.

Cahaya merah di ufuk barat menampakkan diri seperti gelombang di tengah samudra. Sesaat lagi lentera besar itu akan tenggelam. Tirai malam mulai menutupi desa dan bulan pun malu-malu menampakkan dirinya. Ribuan kelelawar nampak mulai beranjak pergi menuju alam bebas untuk menjalani takdir di malam itu. peristiwa yang menimpa Kriwul beserta teman-temannya sangat mempengaruhi suasana desa. Jarum jam baru saja menyentuh angka 8 namun kesunyian terasa sangat mencekam. Setiap binatang merasakan kengerian. Beberapa anjing melolong panjang di ujung jalan.Kandang kambing milik Gunawan pun terdengar gaduh. Begitu pula beberapa kandang hewan ternak yang lain. Suara binatang ternak milik warga menambah kengerian malam itu. Pak Lurah Sulis hanya menugaskan satu regu peronda dan mereka diminta untuk tidak berkeliling desa. Mereka hanya diminta mengawasi jalanan depan rumah Pak Sardin.

Waktu terus menapakkan jejaknya tanpa menoleh ke belakang. Kegaduhan yang ditimbulkan oleh suara sejumlah hewan kini berganti keheningan. Sesekali sorot lampu menerpa jalanan depan rumah itu. Beberapa warga yang pulang memacu kendaraanya lebih cepat bila melewati rumah Pak Sardin. Seseorang berjalan memasuki halaman rumah itu dan segera menuju sebelah kiri rumah. Dia segera duduk di sebuah bangku yang berjarak sekitar 2-3 meter dari sumur Pak Sardin. Mengamati sekelilingnya dengan sesekali berjalan mengitari sumur itu. Terdengar derit suara logam, seseorang seperti membuka pintu belakang dan menyuruh orang itu untuk memasuki rumah. Orang ini hanya melihat tanpa bergerak sama sekali. Pintu kembali tertutup.

“klik”

Terkunci dari dalam. Tak berapa lama pintu itu terbuka kembali. Kali ini dengan satu sorot cahaya dari dalam rumah. Orang ini masih tak bergerak dan hanya menatap pintu itu dengan tenang. Semerbak bau busuk menerpa rongga penciuman orang ini. Sesuatu dia rasakan seperti mengusap dada serta perutnya dan dia masih begitu tenang. Berkecipak suara air dari dalam sumur, asap membumbung keluar dari bibir sumur lalu lenyap!

“…brakkkk…”

Bersamaan dengan itu pintu tertutup dengan keras. Orang ini segera menghampiri pintu belakang dan mencoba untuk mendorongnya. Nihil! Dia tidak mampu membuka pintu yang terkucni dari dalam. Kemudian dia berdiri di sebelah pintu dan bersandar pada dinding rumah. Matanya menatap lekat pada sebuah timba yang bergerak-gerak sendiri di bawah bibir sumur. Kebimbangan mulai menggelayuti benaknya. Lalu dia mencoba mengangkat timba itu dan terasa sangat berat. Asap kembali membumbung keluar dari dalam sumur disertai dengan bau busuk yang menyengat. Asap semakin menebal dan menggumpal seperti mendung di musim hujan. Orang ini berjongkok dan tiba-tiba berdiri mengibaskan kdeua tangganya untuk mengusir asap itu. Lalu dia terjebak! Kini kedua tangannya berada di atas sumur. Dengan setengah tubuh di bibir sumur , orang ini terancam tercebur ke dalam sumur Dia meronta namun asap itu seperti membelitnya semakin kuat. Kini dia berupaya menggunakan kakinya untuk menolak tubuhnya ke belakang. Dia merasakan sesuatu yang sangat berat menariknya ke dalam sumur. Kaki kanannya kini sudah menginjak tepi sumur, kemudian terjadilah saling menarik diantara keduanya.

“..srek..srek…srek..srek..dukkk…!

Tubuhnya terhuyung ke belakang kemudian membentur dinding. Dia berhasil menjauh dari sumur tetapi asap itu masih membelit kedua tangannya. Orang ini menggerakan kedua tangan ke arah berlawanan tetapi upayanya belum berhasil. Asap semakin membesar dan mencoba untuk membelit tubuh orang ini. Tak lama kemudian terjadilah pergumulan antara orang ini dengan asap. Dia nampak beberapa kali meludahi asap dan asap pun mulai menipis. Perlahan berubah wujud menjadi sosok hantu tanpa kepala dan berselimut kain berwarna coklat. Tangan kirinya menggenggam tombak yang sebagian sudah berkarat. Dia mengayunkan tombak itu dan menghunjamkan ke dada orang itu. Orang ini berhasil menghindar dan sebuah papan kayu pun disambarnya. Kedua makhluk yang berbeda jenis ini sekarang berdiri saling berhadapan. Keduanya terlibat dalam satu keinginan kuat untuk saling membunuh dengan alasan yang berbeda.

 

(bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: