(Fiksi Silat-Bondan Lelana) Pembunuhan di Trowulan – 3

sumber gambar http://forgottenrealms.wikia.com/wiki/Shadar-kai

Pada kisah sebelumnya (Fiksi Silat-Bondan Lelana) Pembunuhan di Trowulan 2

Sela Anggara meyakinkan ibunya bahwa Bondan akan mampu menjaga dirinya. Tak ingin menyusahkan hati orang yang menyayanginya, Bondan menerima tawaran untuk ditemani oleh Ken Banawa, seorang perwira yang juga kepercayaan Nyai Retno Ayu Indrawati.

Ken Banawa mendengar kabar bila Prana Sampar berada di Daha sejak 3 hari lalu. Mereka segera  pergi ke arah barat kutaraja dengan menunggang kuda milik Ken Banawa.

Setibanya di Daha, sepasang mata segera mengawasi kedatangan keduanya sejak dari gerbang kota. Pakaian Bondan dan Ken Banawa memang berbeda dari kebanyakan orang berlalu lalang di jalanan Daha. Dia semakin curiga ketika seorang pengawal gerbang kota memberikan hormat pada Ken Banawa.

” Bondan, kita beristirahat dulu malam ini. Kita berangkat ke Banjaranyar sebelum fajar esok hari” kata Ken Banawa.

” Tidak, paman. Saya akan berangkat malam ini sehingga esok pagi sudah menemukan Prana Sampar” Bondan menolak tegas.

Ken Banawa yang memahami semangat anak muda ini hanya menghela nafas. Dia mengetahui bahwa di Banjaranyar ada salah seorang digdaya yang pilih tanding. Ken Banawa sudah memperhitungkan resiko paling buruk karena jika dugaannya benar maka esok hari mungkin akan bertemu dengan Mpu Gemana. Mpu Gemana adalah salah seorang yang lolos dari sergapan prajurit elit Bhayangkara ketika meletus pemberontakan Sadeng.

Gelapnya malam yang bermandikan gerimis pun memeluk Daha semakin erat. Awan berarak menutupi rembulan yang berusaha untuk tersenyum. Bondan beranjak dan keluar dari kamar penginapan, diikuti Ken Banawa yang berjalan cepat sambil memeriksa busur dan panahnya.

Menembus pekatnya malam dibawah rintik hujan yang tipis membasahi bumi, keduanya menunggang kuda menuju ke Banjaranyar. Tanpa ada percakapan sepanjang perjalanan, kedua orang berbeda generasi ini akhirnya berhenti ketika tapal batas Banjaranyar sudah terlihat. Beberapa orang nampak berjaga di gardu gerbang desa. Pelita kecil menghiasi langit gardu.

“Beritahu aku di mana tinggal Prana Sampar!” bisik Bondan sambil meletakkan keris di leher seorang penjaga. Ke-4 temannya telah terbujur kaku karena totokan Ken Banawa yang bergerak sangat cepat di gelap malam.

“Prana Sampar! Keluarlah dan patuhi perintah raja!” Ken Banawa berteriak lantang. Bondan segera menyuruh penjaga untuk segera pergi.

“.…..sing…sing….” telinga kedua orang ini mendengar desing dari sebelah kiri Bondan. Ken Banawa segera melemparkan dua busur menyambut senjata rahasia yang meluncur deras ke arah mereka berdua.

“…tring..tring…” kedua senjata beradu di udara dan sempat terpecik api ketika dua ujung senjata beradu.

Bondan merasakan angin dari samping kiri kepalanya dan segera melepaskan ikat kepalanya untuk menerima serangan pertama yang ditujukan padanya. Ken Banawa tampak khawatir karena dia sudah hafal dengan suara senjata yang berputar itu. Sebuah rantai bermata runcing milik Mpu Gemana. Namun sebelum dia memperingatkan agar Bondan lebih waspada, sebuah tendangan dengan deras dan bertenaga nyaris mengenai dadanya. Terpecahnya konsentrasi Ken Banawa justru menjadikannya lengah dan tidak sadar jika tumit Prana Sampar nyaris menghantam ulu hatinya.

Udeng atau ikat kepala yang dikibaskan Bondan membelit rantai yang berujung mata tombak milik Mpu Gemana. Tak pelak lagi, pertarungan terjadi diantara keduanya dalam jarak dekat. Mpu Gemana kesulitan melepaskan rantai yang terbelit udeng Bondan. Bondan begitu lihai memutar berlawanan arah setiap kali Mpu Gemana berupaya melepaskan belitan. Udeng yang teraliri tenaga dalam itu begitu kokoh mempertahankan keadaan.

Mpu Gemana melontarkan ujung lainnya dari bagian punggungnya, mengarah ke muka Bondan yang hanya berjarak kurang dari satu jengkal di depannya. Bondan tidak menyangka akan ada serangan maut itu pun terkejut lalu melepaskan belitan udengnya lalu melentingkan tubuhnya ke belakang.

Mpu Gemana tidak membuang kesempatan saat pertahanan Bondan menjadi lemah. Kedua ujung rantainya dilontarkan dan bersamaan dengan itu Mpu Gemana melompat ke arah Bondan yang sedang melayang. Bondan merasakan deru angin memburunya, dengan seketika tangannya yang memegang udeng membuat gerakan satu lingkaran penuh menangkis satu ujung yang terdekat. Tangan kirinya segera mencabut keris yang terselip di pinggang dan dibenturkan pada ujung yang lain.

“..trang..”

Mpu Gemana menarik tinju kanannya dan meraih satu ujung yang terbuang ke samping, dia masih melesat dengan cepat dan ujung itu dilemparkan tepat ke arah jantung Bondan. Dalam jarak sekitar dua depa, rantai Mpu Gemana menjangkau semakin dekat tubuh Bondan.

“..sriiinnggg..”

Bondan menahan satu ujung dengan keris yang diselipkannya ke lubang besi rantai Mpu Gemana.

 

(bersambung)

 

2 thoughts on “(Fiksi Silat-Bondan Lelana) Pembunuhan di Trowulan – 3

Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: