(F/silat Bondan Lelana) Banaspati dari Gunung Kidul – 1

sumber gambar : http://www.wisatasenibudaya.com

Dusun Selopuro di lereng Gunung Kelud digegerkan dengan terjadinya pencurian sapi yang terjadi beberapa kali. Lurah prajurit pun sudah menambah jumlah untuk menjaga keamanan di wilayahnya. Namun pencurian itu tidak dilakukan oleh satu atau dua orang. Beberapa kali lurah prajurit sampai harus turun tangan sendiri dalam sejumlah pertarungan dengan gerombolan pencuri.

Seorang pemuda berbadan ramping dan berisi tampak sedang menyimak perbincangan di sebuah kedai. Pemuda ini duduk di pojok satu sudut dalam kedai. Mengenakan ikat kepala bermotif batik, dia terlihat sangat menikmati suasana pagi di Selopuro.

” Dua malam kemarin ki lurah tergores pedang waktu menyergap pencurian sapi di utara desa. Sejak saat itu kelihatannya para prajurit sekarang lebih banyak berkeliling dengan jumlah lebih banyak dari yang sudah-sudah” kata seseorang.

” Iya benar. Ki Lurah Guritno saja bisa terluka dengan 5 orang prajurit. Tadi pagi anakku bilang semalam terdengar banyak teriakan ketika dia naik dari sungai. Dan dia juga cerita sama saya kalau kepala gerombolan itu menantang ki lurah. Ki lurah, ayo hadapi, Ubandhana dan segeralah menyesal karena dilahirkan oleh ibumu seperti itu anakku menirukan suara bentakan” seseorang menimpali. Ubandhana adalah seorang yang kuat dan terkenal kejam di seantero Gunung Kelud. Dia bersenjata Sabit Matahari adalah sebuah senjata mirip tombak yang ujungnya tajam melengkung dan bergerigi. Senjata ini dahulu ditempa oleh Ki Panjul Rejo, seorang resi tua dari Gunung Kidul.

Mendengar nama Ki Panjul Rejo disebutkan, Bondan teringat kisah dari gurunya tentang seorang lelaki muda yang pernah menggetarkan dunia persilatan seantero jagat. Dan kini nama itu disebut terkait perbuatan jahat gerombolan pandung lembu (pencuri sapi).

Bondan masih mendengarkan dengan seksama dan berharap agar ada sedikit warta arah gerombolan itu menyembunyikan sapi-sapi hasil curian.

Ki Lurah Guritno yang telah mengetahui tempat persembunyian gerombolan Ubandhana sudah memutuskan untuk menyerbu gerombolan sebelum cakrawala merekah. Padahal dia sedang terluka saat berusaha menyergap gerombolan pencuri itu.   Menurut kabar dari lurah prajurit bahwa pencurian dilakukan karena Ubandhana merasa dia berhak atas setiap hewan yang merumput di padang rumput di sekitar lereng Gunung Kelud.

Bondan mendengarkan rencana ki lurah prajurit dari percakapan beberapa orang prajurit yang sedang berkeliling desa. Dia menetapkan hati untuk menginap di kedai sambil berencana untuk mengikuti para prajurit dalam serangan itu.

Malam itu Bondan termenung dalam bimbang tentang niat yang belum dia putuskan. Turut serta menyerang perkampungan penyamun adalah keputusan yang sangat beresiko untuk dilakukan. Ini sama dengan bunuh diri karena bisa saja justru dia ditangkap dan dihukum oleh pihak Majapahit karena wajahnya yang masih asing bagi para prajurit dan hampir seluruh perwira Bhayangkara pun tidak mengenal dirinya..

Membunuh Mpu Gemana adalah yang pertama kali dilakukan Bondan Lelana. Bayang-bayang wajah Mpu Gemana masih menghantui dirinya selama beberapa malam terakhir. Sebuah pertarungan antara hidup dan mati memang akan selalu menjadikan nyawa sebagai hasil akhir dari sebuah pertarungan. Siapapun orangnya dan dengan latar belakang apa saja tentu juga akan selalu merasa gugup dalam pelaksanaan untuk pertama kali. Namun membunuh juga tidak dapat dijadikan suatu ritual atau kebiasaan.

Resi Gajahyana pernah mengatakan kepadanya bahwa seseorang membentuk dirinya berdasarkan kebiasaan baik yang sudah menjadi tradisi atau bertentangan dengan tradisi. Bondan sepenuhnya menyadari bahwa keputusannya malam ini tidak berhubungan dengan tindakannya yang benar atau salah, tetapi menegakkan kebenaran adalah tanggung jawab Bondan sebagai putra Majapahit. Dan bisa saja membunuh penjahat adalah tindakan yang benar menurut tradisi saat itu, tetapi juga ada kekeliruan apabila dipandang dari apa yang dia pelajari dari gurunya selama bertahun-tahun.

Dinginnya malam yang merasuki setiap bagian bilik penginapannya dan lelah yang mendera, dia akhirnya tertidur. derap langkah para prajurit jelas tertangkap oleh pendengaran tajam Bondan. Dia segera menyelinap keluar tanpa sepengetahuan siapapun.

Mengikuti gerak langkah perjalanan prajurit dari atap rumah penduduk. Tubuh Bondan begitu ringan menjejak atap dan sesekali berkelebat mendahului Ki Guritno yang berada di depan.

Di tepi hutan, Ki Guritno memerintahkan prajuritnya untuk berhenti dan Ranggawesi memasuki hutan dengan beberapa tamtama.

” Ki lurah, tidak seorang pun terlihat di perkampungan. Sangat mencurigakan karena  terlalu lengang. Aku khawatir jika ini sebuah jebakan” Ranggawesi melaporkan situasi pada Ki Guritno.

” Rangga, kita sebar prajurit untuk mengepung mereka. Aku akan masuk dari utara memutari rawa-rawa. Kamu bawa sebagian melalui beringin kembar. Dengan begitu gerak mereka akan kamu ketahui meskipun mereka melalui sungai. Dan yang lainnya masuk melewati jalan setapak ini dengan menyebar” kata Ki Guritno sambil menunjuk arah yang dia maksudkan.

” Ki, firasatku buruk tentang hal ini. Lebih baik prajurit tetap berdekatan jika melalui jalan setapak ini” bisik Ranggawesi.

” Ya, aku maklumi itu, Rangga. Tetapi kita tak punya pilihan lain. Ketiga jalan masuk sama-sama mudahnya untuk dihabisi. Baiklah, jika begitu tempatkan orang sebagai penghubung. Jika satu diserang maka penghubung akan membantu dan memberi tahu yang lain”

” Baik ki lurah. Setidaknya kita sedikit aman dengan siasat ini” Ranggawesi segera membagi prajurit dan memimpin sebagian ke arah beringin kembar. Ki Guritno memerintahkan prajurit yang dipimpinnya untuk berjalan lebih cepat karena mengambil jalan memutar. Bondan segera mengikuti kelompok yang mengikuti jalan setapak dengan melompat diantara dahan pepohonan tanpa suara laksana seekor tupai.

(bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: