Pasang Sarung ala PWNU Jawa Timur

 

Pasang Sarung ala PWNU Jatim

Para kyai sepuh warga nadhliyin segera mengencangkan sarung. Sarung sudah terkoyak dan mulai melorot oleh karena tingkah laku buas yang mengancam sendi keagamaan dan kenegaraan.

Sarung yang akan digelar hari Minggu tanggal 9 April 2017 di Stadion Gelora Delta Sidoarjo ini adalah deklarasi kaum nadhliyin. Seluruh elemen akan hadir, jika mereka berhalangan hadir di lokasi, para sesepuh mengijinkan untuk memasang sarung di mushola atau masjid di lingkungan mereka.

Bagi kami, para golongan gegap gempita, sarung ini adalah sebuah kerinduan. Kerinduan akan harmonis dan keserasian hidup beragama dan bernegara. Kerinduan atas suatu sikap bahwa agama hadir untuk mengayomi semua lapisan manusia tanpa melihat dari mana dia berasal. Kerinduan atas suatu sikap bahwa negara hadir untuk mengayomi semua lapisan warga negara.

Tidak ada dan memang sebaiknya tidak diberikan panggung untuk orasi politik atau pejabat. Kecuali Gus Ipul, karena beliau adalah orang yang lahirnya sudah bertulis ” wong NU”. Wakil Gubernur Jawa Timur dan juga ketua PBNU. Justru kalau Gus Ipul tak datang ya jadi aneh. Gus Ali akan bingung mencari soulmate nya.

Sarung ini juga sebagai deklarasi atas beberapa sikap dan pandangan radikal tentang NKRI yang khilafah. Sebenarnya untuk para pendukung khilafah, saya ingin tanya, kalau anak anda, bapak anda, ibu anda, kerabat anda tertangkap basah mencuri lantas bagaimana sikap anda?
Menyerahkan ke polisi atau memotong tangan mereka?

Mungkin akan ada beberapa orang sinis karena istighosah kubro itu tidak pernah diajarkan oleh Kanjeng Nabi Muhammad. Tapi biarlah, sinisme itu lahir karena ketidaktahuan mereka.

Mungkin akan ada beberapa orang yang tidak menghendaki istighosah iti berlangsung sukses dan lancar. Tapi biarlah, karena mereka bukan tuhan dan mereka juga manusia biasa.

Mungkin juga akan ada gerakan mendadak NU. Saling klaim bahwa darahnya mengalir darah NU tulen tetapi mengharamkan ziarah kubur, mengharamkan tahlilan dan yasinan. Bila benar NU tulen, silahkan ke Surabaya. Main ke rumah saya, kita bermalam di makam Sunan Ampel, Sunan Giri atau makam-makam yang lain.

Satu sisi yang bisa dilihat adalah sekalipun para kyai NU dikucilkan dari belantara politik, para kyai ini sedang menyatakan bahwa politik tidak akan pernah ada bila tidak ada umat. Dan NU mengingatkan bahwa mereka adalah pengayom umat manusia yang ada di bumi nusantara. Artinya mengucilkan kyai NU berarti melawan kehendak rakyat. Terpaksa saya katakan itu disini. Karena NU selalu bersama rakyat Indonesia sejak NU didirikan. Menyakiti hati kyai NU adalah menyakiti hati rakyat Indonesia. Jika TNI ada karena rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Maka begitu pula NU yang ada karena rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.

NU bukan organisasi kemarin malam yang tiba-tiba ada lalu menjaga negara. NU bukan lembaga atau organisasi radikal yang tiba-tiba menginginkan khilafah berdiri di nusantara. NU bukan pemimpi!

Jadi, saya minta kalian yang berpaham cingkrangisme, melihat sarung kami itu pada hari Minggu. Anggap saja Jawa Timur sedang lebaran. Tak perlu juga kalian membandingkan dengan gerakan Tujuh Juta orang di Monas. Tak perlu. Maksud dan tujuan kita sudah berbeda. Sarung ini ada karena keprihatinan bahwa di level pemerintahan pusat maupun daerah sedang krisis ketuhanan. Di legislatif juga sedang krisis ketuhanan.

Sarung dan kopiah hitam, peci putih dan macam-macam penutup kepala akan segera hadir di Jawa Timur karena NU memandang bahwa perbedaan adalah nikmat. Bagi saudara-saudara non muslim, kami harapkan dukungan anda semua demi kesuksesan acara ini. Saya anjurkan anda untuk segera membeli sarung di apotik terdekat. Jangan lupa memasang sarung tepat pada tenpatnya hahahaha… Kalau pasang sarung di kaca depan mobil ya jelas bikin repot anak-anak pak Tito. Kalau pasang sarung di gereja ya jemaatnya pasti pusing kalau kalian lupa cuci kan? Wkwkwk…

Jadi..saudara sebangsa setanah air…
Istighosah PWNU Jawa Timur adalah sebuah deklarasi. Sebuah sumpah pemuda. Sebuah demonstrasi ala kyai. Sebuah proklamasi bahwa warga nadhliyin menginginkan sebuah negara seperti yang dicita-citakan pada 17 Agustus 1945. Dan bagi saya, itu adalah sarung kebesaran yang sakral!

Salam Indonesia

Telah dipublikasikan di https://seword.com/politik/pasang-sarung-ala-pwnu-jawa-timur/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: