(F/silat – Bondan Lelana) Banaspati dari Gunung Kidul – 2

Dalam episode di tansaheling.com dengan judul (F/silat Bondan Lelana) Banaspati dari Gunung Kidul – 1

” Baik ki lurah. Setidaknya kita sedikit aman dengan siasat ini” Ranggawesi segera membagi prajurit dan memimpin sebagian ke arah beringin kembar. Ki Guritno memerintahkan prajurit yang dipimpinnya untuk berjalan lebih cepat karena mengambil jalan memutar. Bondan segera mengikuti kelompok yang mengikuti jalan setapak dengan melompat diantara dahan pepohonan tanpa suara laksana seekor tupai.

Ranggawesi yang tiba lebih dahulu masih mengamati suasana yang lengang. Api unggun terlihat di beberapa sudut perkampungan para penyamun dan hanya beberapa orang yang duduk melingkarinya. Ranggawesi melihat kerlap-kerlip dari kejauhan yang merupakan pertanda bahwa ki lurah juga telah tiba di sisi yang lain.

Ki Lurah menggerak-gerakkan lempengan emas kecil yang tadinya terselip pada pinggangnya. Lempengan ini memantulkan cahaya yang ditimbulkan oleh nyala api kecil.

Mereka pun bergerak maju mendekati perkampungan itu setelah melihat tanda yang dikirimkan ki lurah. Binatang malam enggan berbisik-bisik ketika para prajurit mengendap maju mendekati sarang penyamun. Senandung malam yang biasa dilantunkan jangkrik pun seolah tergulung dalam dekapan malam.

“..guungg..” suara gong yang dipukulkan mengagetkan prajurit Ki Guritno. Tiba-tiba muncul sejumlah orang dari belakang mereka. Kepanikan melanda prajurit yang dengan tiba-tiba sudah berada dalam kepungan para penyamun.

“..Jangan balas serangan mereka. Bakar apapun yang bisa kalian bakar kita bertempur dalam api. Renggutlah nafas mereka yang terakhir. !!!” perintah Ki Guritno yang berada ditengah barisan agar lekas menyerbu masuk ke perkampungan dan membakar gubuk-gubuk kayu. Sudah kepalang tanggung bagi Ki Guritno untuk menghadapi gerombolan penyamun yang berada di belakang mereka. Satu-satunya jalan baginya adalah membakar belasan gubuk para penyamun dan bertempur di tengah api yang berkobar.

sumber http://prydain.wikia.com/

Seluruh gubuk atau rumah berukuran sedang yang berdinding kayu dan beratapkan jerami yang puncak atapnya setinggi 3 kali orang dewasa dengan cepat terbakar. Prajurit Majapahit segera bertempur dengan gagah berani dalam kepungan api yang tingginya seperti bukit kecil. Puluhan senjata pun berkelebat di antara bara yang berusaha menjilati mereka..

Ubandhana yang mengira bahwa Ki Guritno akan menghadapi para penyamun yang ada di belakang mereka, kini terkejut karena musuh-musuhnya justru tetap memasuki perkampungan membumihanguskan perkampungan yang susah payah telah dibangun untuk dijadikan sarang.

“..jangan pedulikan bagian kalian. Habisi dan keringkan darah para prajurit itu!” perintah Ubandhana sambil memutar-mutarkan tombak. Tombak yang berputar sangat cepat itu segera menghantam prajurit yang berada di dekatnya. Gulungan sinar yang berasal dari tombak begitu mengerikan dan menggetarkan setiap mata yang melihatnya.

Ki Guritno mengamuk dan memutarkan gadanya dengan seluruh kekuatan. Gada Ki Guritno menghantam setiap penyamun laksana beliung menerbangkan daun kering. Berkelebat satu sosok diantara kobaran api mendekati Ki Guritno. Lurah prajurit kini menghadapi lawan yang sangat tangguh. Ubandhana dengan ganas mengayunkan tombaknya yang ujungnya melengkung seperti bulan sabit ke arah Ki Guritno. Dalam beberapa gebrakan, gada Ki Guritno  terkurung tombak Ubandhana. Beberapa kali kulit Ki Guritno tersayat gerigi tajam ujung tombak Ubandhana.

Dalam waktu yang tidak lama, prajurit-prajurit ini mulai kewalahan menghadapi serangan para penyamun. Jumlah yang kalah banyak dan mereka pun belum bergabung satu sama lain makin membuat mereka terdesak oleh serangan penyamun yang ganas dan liar. Para penyamun seperti burung pemakan bangkai yang mencabik mangsanya. Mereka mengeroyok setiap prajurit dan menghunjamkan senjatanya sekalipun lawannya sudah mati tak berdaya.

Bondan yang sejak pertempuran dimulai sudah sibuk memberi pertolongan bagi para prajurit yang terluka. Tubuhnya melesat kesana kemari menggotong prajurit yang terluka ke tepi perkampungan. Dia berusaha mendekati Ranggawesi yang terlihat kewalahan dikepung para penyamun. Ranggawesi sudah bermandikan darah karena sabetan golok dan pedang para penyamun. Bondan membuka jalan darah dengan mengambil pedang prajurit yang sudah roboh tak bernyawa. Pedang yang digenggamnya seperti kilat yang menyambar tiap penyamun yang menghalanginya.

Pedang yang terhunus itu seperti srigala yang ingin menghisap darah setiap para  penyamun yang mengepungnya. Para penyamun yang berada diantara Bondan dan Ranggawesi pun satu persatu roboh oleh tebasan pedang Bondan.

Ranggawesi yang telah terhuyung dan bersimbah darah tampak kesulitan menghindari sebatang tombak yang meluncur deras ke arahnya.

“..aarrrgh” Tombak itu tepat menghunjam dada Ranggawesi. Bondan yang membelakangi Ranggawesi pun segera menoleh karena teriakan terakhir Ranggawesi.

Seorang yang lanjut usia namun masih gagah telah berdiri angkuh menginjak kepala Ranggawesi. Dada Bondan bergemuruh karena amarah. Majapahit telah dihina orang tua itu dengan menginjak kepala seorang balapati yang telah tewas.

Pedang pun dilontarkan ke arah orang tua itu dan Bondan melesat cepat di belakang pedang sambil melepas udengnya. Kaki orang tua yang berada di atas kepala Ranggawesi pun terpaksa berputar untuk menangkis lemparan pedang dari Bondan. Tangan kiri orang tua itu menyambut serangan Bondan.

“..plaak..” udeng Bondan beradu dengan telapak orang tua itu dan menimbulkan suara keras. Bondan merasakan denyut di pembuluh darahnya. Benturan itu memberi tahu Bondan tentang siapa lawan yang dihadapinya.

Bondan melanjutkan serangan dengan bertubi-tubi dan sama sekali tidak memberi kesempatan pada orang tua itu untuk membalas. Tak cukup dengan menghindari serangan demi serangan dari Bondan, si orang tua lantas mencabut kapak panjang miliknya. Pertarungan kedua orang pendekar yang berbeda masa ini berlangsung sangat cepat. Beberapa kali keduanya sama-sama terdorong ke belakang karena benturan dari senjata dan kaki yang terkadang beradu di udara. Ikat kepala Bondan terkadang lemas dan gemulai seperti seorang penari di istana raja. Terkadang sangat keras ketika berbenturan dengan kapak lawannya.

Bondan yang bertarung tanpa ketenangan akhirnya harus menerima akibat buruk. Satu bacokan kapak tidak mampu dihindari Bondan dengan sempurna. Si orang tua  segera mengirimkan satu tendangan samping dan mengenai bahu belakang Bondan. Telak mengenai Bondan tetapi sebelum jatuh, dia mencabut kerisnya dan melakukan satu gerakan salto sambil melakukan gerakan untuk memapas kaki lawannya. Orang tua ini tak kalah cepat menarik kakinya dan berbalik menyerang dengan bacokan ke dada Bondan.

(bersambung)

One thought on “(F/silat – Bondan Lelana) Banaspati dari Gunung Kidul – 2

Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: