Amin Rais Seharusnya Meniru Resi Bhisma

Demi sebuah keselamatan satu bangsa, satu negara dan untuk sebuah janji. Yup, itulah prinsip yang dijalani oleh sesepuh Pandawa dan Kurawa, Bhisma Putra Gangga.

 

Ketika Drestarata menjadi raja yang menggantikan Pandu, Bhisma tetap konsisten menjaga amanah yaitu melarang putra Pandu untuk kudeta atau menuntut hak waris dari ayah mereka. Dan Bhisma juga mencegah Duryudana naik menjadi raja karena hak atas tahta itu milik Yudhistita sebagai putra sulung dari Pandu.

Muhammadiyah, dahulu berdiri dengan tujuan mengembalikan seluruh penyimpangan yang terjadi dalam proses dakwah.

Dalam konteks bernegara dan politik dalam hari-hari belakangan ini, justru Muhammadiyah memasuki arena penyimpangan. Mengancam, ini bukan watak dalam Islam. Tunggu dulu, saya bicara dalam tataran hati, saya tidak bicara dalam konteks sesuai huruf atau kalimat. Kita tidak membicarakan kulit.
Nah, mengancam itu bisa dilakukan dengan pengerahan massa atau turut serta dalam mengerahkan massa, atau pernyataan atau bisa juga mendukung aksi massa.

Satu contoh adalah penyimpangan yang terjadi dalam Pilkada DKI tentang jenazah. Sampai hari ini saya belum dapat informasi tentang aksi nyata organisasi sayap Muhammadiyah terkait hal ini. Kalau hanya melontarkan pernyataan ya semua orang juga bisa. Tetapi mengambil alih fardlu kifayah dengan mengambil alih peran takmir atau masyarakat nampaknya belum mampu dilakukan oleh organisasi sayap Muhammadiyah.

Jujur saya tidak tahu, mengapa Pemuda Muhammadiyah tidak beraksi nyata. Sedangkan tujuan awal dari al mukaram K.H Ahmad Dahlan adalah meluruskan penyimpangan. Meluruskan ini wajib dengan tangan karena Muhammadiyah bukan organisasi kemarin sore yang mengamalkan ” hentikan kemungkaran dengan tangan, bila tak sanggup ya dengan lisan, bila tak sanggup ya berdoalah”.nah, dalam contoh penolakan sholat jenazah, apakah sayap Muhammadiyah termasuk bagian paling lemah? Yang hanya berdoa saja?

Seorang Bhisma akan melakukan satu perbuatan yang pastinya menentramkan rakyat Hastinapura. Seorang Bhisma mustahil akan membuat galau seluruh jagat Hastinapura. Hal itu pasti terjadi karena Bhisma memiliki jiwa satria. Standar mental dan rohani yang hanya dimiliki oleh manusia tingkat tinggi.

Bhisma adalah seorang panglima perang, namun kebersihan hatinya juga menjadikan dia sebagai seorang resi. Begitu pula seorang Amien Rais. Di satu sisi, Amien Rais adalah sesepuh Muhammadiyah. Dan yang namanya sesepuh itu pasti menjadi teladan bagi kalangan gegap gempita seperti saya. Namun yang menjadi masalah adalah jika sesepuh justru menyimpang dari jalur sebenarnya. Dalam bagian ini, semestinya Amien Rais mampu melihat suatu kepentingan yang lebih mulia.

Bhisma hanya menjalankan kewajiban sebagai prajurit. Menjaga kedaulatan negara, dan menjaga keselamatan raja atau pemimpin negara alias presiden itu menjadi wajib hukumnya karena termasuk bagian dari janji Bhisma. Akhirnya Bhisma menjadi bersalah jika dia melakukan kudeta terhadap Drestarata. Lho kan rajanya lalim? Yup, sejahat-jahatnya pemimpin atau raja tetap wajib bagi rakyat untuk taat. Kita bayangkan jika Bhisma melakukan pemberontakan. Berapa biaya sosial yang harus dikeluarkan?
1. Kerusakan materil bangunan
2. Jiwa-jiwa yang mati dalam pertempuran
3. Anak- anak kecil dan orang tua
4. Dan para wanita yang kehilangan anak dan suami atau saudara lelaki.

Sumber  Resi Bhisma

Dan apakah Amioen Rais sudah berpikir seperti yang dipikirkan oleh Bhisma? Apakah memang Amien Rais dan Din Syamsuddin lebih menginginkan banjir darah terjadi di Jakarta? Tentu pertanyaan itu hanya mereka berdua yang mampu menjawab dan memberikan bukti konkritnya.

Seseorang yang dianggap sesepuh itu memiliki arti bahwa dia adalah orang yang berpandangan jauh ke depan. Seorang grand master catur yang mampu memikirkan 30 langkah ke depan. Ditambah pengalaman, tentu sesepuh ini adalah satria jawara sepanjang masa. Satria jawara ini yang sekarang tidak saya lihat dalam tindak tanduk seorang Amien Rais.

Dalam pikiran pendek saya, Amien Rais adalah seorang guru bangsa. Satu nama yang pantas dan layak bersanding dengan sejumlah nama besar di negeri ini. Sebut saja K.H Mas Mansyur. Kekecewaan mulai menyapa ketika beliau mulai ngotot di Pilpres 2014.

Amien Rais, jika anda melihat Jokowi bukan sosok yang tepat maka lihatlah seorang tokoh fiksi yang bernama Bhisma. Saya hanya tahu Bhisma sebagai prajurit, ulama dan pemimpin bangsa. Saya tahu Amien Rais sebagai ulama dan prajurit di akademis. Saya hanya meminta satu hal kepada anda. Satukanlah kemampuan anda sebagai ulama dan akademis untuk menjadi pemimpin bangsa. Jadilah sesepuh bagi bangsa ini. Jadilah seorang guru bagi kami yang masih gegap gempita.

Dalam sejarah hidup seorang manusia, waktu akan memberitakan apakah seseorang itu hitam atau putih. Masalah keimanan di yaumil hisab, itu terkait dengan hitam atau putih yang kita tuliskan hari ini.

Secara sederhana itu begini, buat apa kita berjamaah di masjid dan mendapat ganjaran berlipat bila akhirnya ambil sandal milik orang? Buat apa kita mengejar subuh berjamaah bila selalu menyakiti hati orang lain di kala siang? Buat apa kita bicara tentang kebenaran bila kita bukan orang yang pertama melakukannya?

Pak Amien Rais, bawalah Muhammadiyah menjadi perekat dalam kehidupan yang majemuk dan penuh warna. Ajarilah mereka tentang arti sebuah perbedaan dalam kehidupan. Bila ada darah yang mengalir karena Pilkada DKI 2017 maka sepatutnya anda merenungkan, apakah itu termasuk tanggung jawab anda atau bukan. Saya ingatkan itu karena anda termasuk berperan aktif dalam aksi 411 dan belum mengubah pendapat sampai hari ini.

 Atau mungkin Bhisma berpikir lebih baik dia dibakar di neraka sendirian daripada dia melihat orang lain ikut dibakar karena dirinya.

Sumber : Resi Bhisma

Setiap perbuatan baik akan membawa doa kebaikan sepanjang masa.  Setiap hate of speech hanya membawa cibiran seperti halnya seorang “ulama” mesum dan “mubaligh” bus kota.

 

 

Demikianlah.

 

Salam Indonesia

telah dipublikasikan di https://seword.com/politik/amien-rais-seharusnya-meniru-resi-bhisma/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: