(F/silat – Bondan Lelana) Banaspati dari Gunung Kidul – Tamat

Berdiri dengan terhuyung-huyung, Bondan terancam tendangan beruntun dari Ki Panjul Rejo. Bondan segera menghindar dan membalas dengan keris yang digerakkan melingkar. Gerakan itu memberinya kesempatan untuk memasang kuda-kuda dan tidak disangka sebatang tombak meluncur deras ke arahnya, bersamaan dengan itu Ki Panjul Rejo segera memburu Bondan dengan sabetan kapak yang berputar-putar seperti roda bergigi tajam.

“..crassss..”

“..breet.”

sumber gambar : http://www.pinterest.com

Bondan masih sanggup menghindar dari maut tetapi ujung tombak telah menggores bahunya dan kibasan kapak nyaris merobek perutnya.

“..plaak..” Ki Panjul Rejo melakukan gerakan memutar sambil melepaskan tendangan yang tepat mengenai dagu Bondan. Dia terpental dan roboh namun dengan sigap cepat berdiri dan Ubandhana melihat kesempatan emas untuk mengirimkan tinjunya.

“..beggh..” ulu hati Bondan tepat terhantam tinju Ubandhana.

Bondan kembali terpental cukup jauh akan tetapi Ubandhana yang bernafsu membunuhnya terus berupaya untuk mengirimkan gempuran bertubi-tubi.

“ Ubandhana, awas!” diantara jilatan lidah api sebatang panah meluncur deras sedang mengarah ke punggung Ubandhana. Menyadari ancaman bahaya itu, Ubandhana menghindar ke samping. Tak lama kemudian, kobaran api berkibar-kibar tertiup angin kencang layaknya seekor kobra yang akan mematuk Ubandhana. Seorang lelaki muda memutar pedangnya yang angin dari pedangnya sanggup menghempaskan jilatan api ke Ubandhana. Gumilang Prakoso melayang mencecar Ubandhana dengan tusukan-tusukan pedang yang bertubi-tubi. Sambil membuat gerakan memutar pedangnya, Gumilang menghujani Ubandhana dengan tendangan demi tendangan yang susul menyusul secara beruntun. Serangan yang sangat berbahaya ini mampu melenyapkan nyawa Ubandhana dalam sekejap saja jika dia tidak segera memutar tombaknya untuk menutupi dirinya bak perisai besi.

Di bagian sayap yang lain terdengar gemuruh bala bantuan dari Trowulan yang bersamaan dengan masuknya Gumilang Prakoso ke palagan yang telah dibasahi darah. Ki Guritno tampaknya telah mewartakan rencananya dengan mengirim utusan ke Trowulan guna meminta bala bantuan. Utusan dari Ki Guritno diterima oleh Pu Sawajnyana yang menjabat sebagai Rakryan Rangga. Kemudian Pu Sawajnyana memerintahkan seorang perwira digdaya dan pilih tanding, Ken Banawa untuk memimpin penyerangan ke hutan Upasara.

Ken Banawa segera menghantam Ki Panjul Rejo dengan busurnya. Kecepatan sang perwira ini memang mengundang decak kagum. Betapa dia segera melesat seolah berlomba dengan anak panah yang dilontarkan ke Ubandhana. Dan langsung menyerang Ki Panjul Rejo. Tak ingin membuang waktu, segera Ken Banawa menghunus pedangnya dan melakukan serangan gencar ke arah Ki Panjul Rejo. Ki Panjul memutar-mutar kapaknya untuk menghadapi seorang perwira kawakan Majapahit yang disegani kawan maupun lawan di seantero dunia persilatan.  Melihat situasi yang sudah tidak menguntungkan dirinya karena bala bantuan dari Trowulan juga sudah mulai menghukum mati para penyamun, Ki Panjul Rejo melayang ringan  mendekati sebuah gubuk yang seperti bukti berapi. Ken Banawa yang tak ingin mangsanya lolos dari perburuan ini pun mengejarnya. Namun Ki Panjul dengan cerdik memanfaatkan panasnya api dan bara api yang berserakan sebagai tameng bagi dirinya. Dia memutar-mutar kapak dan serpihan bara api berterbangan berlomba-lomba mencapai Ken Banawa. Hujan api itu sangat merepotkan perwira sakti ini yang lekas-lekas memusingkan pedangnya seperti kitiran. Beberapa saat lamanya Ken Banawa kerepotan dengan hujan api dan Ki Panjul Rejo memanfaatkan kesempatan itu untuk menyisih dari laga dan segera menghilang di balik api yang menjilat-jilat tak tentu arah

Ubandhana yang melihat Gumilang Prakoso bertarung dalam kecemasan karena luka parah yang diderita Bondan, segera menarik seorang prajurit dan dilemparkan ke arah Gumilang Prakoso. Gumilang Prakoso cepat menghentikan serangan dan menangkap tubuh prajurit yang melayang deras ke arahnya. Kesempatan ini dimanfaatkan Ubandhana untuk melompati kobaran api dan menghilang di kegelapan hutan Upasara.

Melihat lawannya telah kabur, Gumilang mendekati Bondan dan cepat memanggulnya kemudian melompat lincah di tengah kobaran api lalu menghilang dalam pelukan dewi malam.

Kaburnya Ki Panjul Rejo dan Ubandhana, membuat para penyamun  bertarung dengan kesetanan. Mereka sudah meyakini akan dijemput maut bila mereka menyerah kepada Majapahit. Nampaknya penyamun ini lebih memilih mati dengan bertarung. Para penyamun yang kini sudah tak bertuan lagi semakin kejam dan ganas membabatkan senjata ke arah prajurit Majapahit. Ketenangan dan kematangan para prajurit Majapahit dalam bertempur mampu meredam jiwa-jiwa yang kalap dan putus asa dari para penyamun. Malam semakin larut tetapi tak juga menuntaskan setiap tetesan darah yang terus menerus mengalir membasahi tanah. Aroma amis segera merebak memenuhi udara malam bercampur dengan bau hangus yang berasal dari mayat yang terbakar dan bara api pada setiap kayu semakin menyesakkan dada.  Beberapa penyamun memilih untuk bunuh diri daripada mati dibunuh oleh prajurit Majapahit menjadi pemandangan mengerikan dan menggetarkan jantung. Para penyamun yang diselimuti rasa malu jika tertangkap hidup-hidup semakin menjadikan hawa maut berkuasa mencengkeram malam.

 

TAMAT.

Episode sebelumnya :

  1. (F/silat –  Bondan Lelana) Banaspati dari Gunung Kidul – 1
  2. (F/silat – Bondan Lelana) Banaspati dari Gunung Kidul – 2
  3. (F/silat – Bondan Lelana) Banaspati dari Gunung Kidul – 3

 

Terpublikasikan di https://seword.com/cerpen/fsilat-bondan-lelana-banaspati-dari-gunung-kidul-tamat/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: