Eep Saefulloh dan Kambing yang Dibedakin

“Kita tidak bisa dong mengatakan Anies-Sandi menang karena isu primordial. Apalagi kalau disimpulkan pemilih Jakarta primordial,” ujar Eep.

http://megapolitan.kompas.com/read/2017/04/22/15170591/konsultan.bantah.anies-sandi.menang.pilkada.karena.isu.primordial

Nampaknya Eep mengalami kegagalan memori dengan fakta yang terjadi sejak aksi togel 411. Dan dari situ pula, Eep berkelit dan memang seharusnya berkelit bahwa intimidasi yang kerap terjadi plus pengusiran Djarot dari masjid usai sholat Jumat itu bukan karena isu agama. Benar kan Ep?

Eep, coba sesekali anda berpikir arti tentang primitif. Mengusir Djarot yang muslim dari masjid seusai menunaikan ibadah itu apa bukan karena logika primitif? Dan ketika ada satu orang yang berencana memilih Ahok lalu melihat pengusiran itu,apakah dia tidak akan berpikir ulang? Tentu logika sehatnya ya dia akan memilih aman dengan mencoblos Anies.

Perbedaan besar antara penulis dan pemikir sehat dengan Eep adalah yang sehat tidak menggunakan masjid sebagai areal tebar benci apalagi pengusiran. Kecuali begini ya Eep, semisal Anda mengkafirkan saya dan sejumlah muslim lain lalu menolak pendapat kami maka itu wajar jika Anda berpikir sah untuk menjadikan masjid sebagai kawasan tebar benci.

Kasarannya lawannya (Ahok) kambing dibedakin juga akan ketat,” ujar Nusron di Balai Kota, Jakarta Pusat, Rabu 5/10/2016).

http://news.detik.com/berita/d-3314264/nusron-jangankan-lawan-anies-agus-ahok-lawan-kambing-dibedakin-juga-ketat

Eep, di tangan Anda ternyata memang benar yang dikatakan oleh Nusron bahwa kambing yang dibedakin akan bersaing ketat dengan Ahok. Bahkan menjadi pemenangnya karena isu agama. Dan saya ingatkan Anda bahwa strategi yang diterapkan untuk pasangan Anies-Sandi itu sebenarnya sudah tak layak diulang di pilkada atau pilpres yang berikutnya. Itu perilaku biadab. Fungsi masjid sebagai rumah Allah yang seharusnya penuh damai dan kesejukan tiba-tiba berubah menjadi rumah setan. Anda turut bertanggung jawab atas penyebaran kebencian melalui mimbar. Seluruh umat manusia dari jaman Nabi Adam sampai manusia terakhir akan melihat Anda bertanggung jawab di Padang Mahsyar.

Banyak cara untuk mengalahkan Ahok dan Djarot tetapi masjid bukan tempat untuk itu. Saya persilahkan Anda untuk bertanya melalui nomor saya yang ada di bawah. Tetapi bubur tak akan berubah menjadi nasi, jujur sudah menjadi basi.

Hanyalah yang memakmurkan mesjid-mesjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (At Taubah 18).

Boleh jadi Eep dan kaum sumbu pendek berpikiran bahwa masjid adalah pusat kebangkitan umat Islam. Yup,memang itu betul. Dan Anda terperangkap disitu karena mengabaikan makna sesungguhnya dari kata IMAN. Kebangkitan umat Islam itu berawal dari pendidikan akhlak. Moral. Kebangkitan generasi pertama itu berawal dari iman dan kemuliaan akhlak. Bukan kebangkitan yang diawali secara politik. Kecuali kita semua adalah bangsa penjajah dan itu berarti kebangkitan berawal dari senjata dan kebencian.

Ayat diatas tidak melulu berbicara tentang Taurat. Namun juga tentang Anda. Anda mengetahui satu ayat tentang masjid namun mengabaikan ayat lain tentang masjid. Jika bukan melempar satu ayat ke belakang, lalu istilah apa yang tepat untuk penyalahgunaan masjid?

Keempat, adalah perlawanan terhadap keunikan TPS atau potensi kejahatan kecurangan pemilu. Menurutnya, indikasi ini datang pada putaran pertama yang terkonsentrasi pada tempat-tempat paslon tertentu.

https://news.detik.com/berita/d-3481435/versi-eep-ini-5-faktor-anies-sandi-menang-telak-lawan-ahok-djarot

Eep, Anda melupakan faktor intimidasi. Dan ketika Anda berkata tentang isu agama seperti bendungan yang dibuka sebenarnya cukup sederhana untuk menarik kesimpulannya yaitu manfaatkan isu Al Maidah semaksimal mungkin. Bila pemikiran seperti itu ada di benak Anda dan benar-benar diterapkan oleh Anda beserta jajaran, sebaiknya Anda jujur pada hati nurani dan bila perlu berkatalah secara lantang bahwa orasi kebencian dan menolak sholat jenazah bagi pendukung Badja di masjid itu bukan rekomendasi dari Anda. Jujur harus diakui bahwa pernyataan anda :

“Tersedia potensi yang cukup besar, petahana dapat ditumbangkan dalam Pilkada Jakarta 2017 ini, mengulang fenomena serupa dalam Pilkada 2012 lalu,” tandas alumni FISIP Universitas Indonesia ini.

http://www.suara-islam.com/read/index/20017/Eep-Saefulloh—Potensi-Ahok-Tumbang-Besar

Apakah Anda bersedia membuka data tentang apa yang dimaksud dengan potensi yang cukup besar itu?

Menyimak video anda di Youtube, anda katakan :

Sempat saya coba untuk menulis ulang pernyataan terakhir Anda :

Saya secara pribadi ingin…kami sudah kembangkan beberapa hal terkait soal ini ingin itu menjadi alat mengalahkan pak Ahok

link Youtube https://www.youtube.com/watch?v=CTmlum5pe_o (mohon koreksi bila salah mentranskripkan).

Akhir kata.

Seekor kambing yang dibedakin pun akhirnya akan mampu menjadi pemenang di setiap jengkal negara ini bila mendapatkan isu agama yang anda katakan faktor agama itu seperti air bah. Calon muslim bila bersaing dengan yang muslim lain akan disematkan Syiah atau Wahabi untuk lawannya. Atau komunis. Benar begitu ya Eep? Pilpres 2014 adalah bukti nyata. Dan dugaan saya adalah strategi untuk menyematkan label Syiah dan komunis lagi untuk Pilpres 2019. Dan mengulang sejarah kelam 2017 yaitu menjadikan masjid sebagai arena kebencian. Apakah itu cara Islam yang beradab, Ep?

Salam Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: