Bulan itu Hijau! Salah tapi Hitam. Lho kok?

Manusia pada dasarnya berada dalam 2 cara pandang tentang kekuasaan Allah.

Yang pertama, dia berpikir bahwa jerih payahnya selama ini adalah hasil usahanya dengan ijin Allah. Artinya, dia melihat bahwasanya sebab akibat itu terjadi karena jerih payahnya. Seperti bekerja agar mendapatkan uang sehingga mampu beli ini dan itu. Orang ini melihat ada hukum sebab akibat yang berlaku pada dirinya. Seperti belajarlah agar pandai, karena jika pandai maka tak akan pernah korupsi.

Yang kedua, dia berpikir bahwa apa yang dia dapatkan dan miliki adalah pemberianNya. Artinya begini, dia bekerja karena menyadari bahwa apa yang telah dia lakukan adalah garis hidupnya sehingga apapun hasilnya dia akan berpikir ini adalah kehendak Allah. Sederhananya begini, sebuah analogi atau persamaan saja ya, manusia tak pernah bisa memilih dari siapa dia akan dilahirkan.

Sebuah ayat dengan tegas menyatakan bahwa tidak ada satu makhluk pun yang tidak dijamin rejekinya. Lalu apakah dengan begitu boleh bermalas-malasan? Tak boleh.

Kenapa? Bukankah ada ayat yang sudah menjamin rejeki?

Jawaban saya, lha mbok ya malu sama ayam sedikitlah. Berusaha itu kewajiban manusia, dan menjadi kaya adalah hak manusia. Kita tak bisa menuntut Allah agar menjadikan kita kaya karena usaha kita. Bila kita menuntut kaya karena sudah merasa bekerja, maka pertanyaan yang harus kita jawab adalah : mengapa Allah menciptakan manusia dalam keadaan yang berbeda satu sama lain?

Ada yang lahir sebagai anak orang kaya. Ada yang lahir dalam keadaan penuh keprihatinan. Dan ada pula yang memilih jalan hidup sebagai kaum blo’on supaya bisa korupsi, baik dilakukan sendiri maupun dilakukan berjamaah dengan kaum blo’on yang lain. Nah dalam kasus blo’on itu korupsi e-ktp bisa dijadikan contoh.

Penutup.

Sering kali naik turunnya iman juga mempengaruhi kita untuk menempatkan diri sesuai sudut pandang diatas.  Dan keduanya adalah benar.  Tak sedikit orang yang berada di kategori pertama itu menyalahkan pendapat orang di kategori kedua. Serta sebaliknya, orang di kategori kedua meremehkan orang di kategori pertama. Keduanya itu benar dan suatu saat mungkin pengalaman akan mengajarkan pada kategori apa kita sebenarnya. Seperti itu pula kita melihat cahaya bulan. Dari sudut yang berbeda mungkin juga akan melahirkan spektrum warna yang berbeda.

 

Demikianlah. Wassalam

 

5 thoughts on “Bulan itu Hijau! Salah tapi Hitam. Lho kok?

Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: