Khilafah Adalah Pertaruhan Yang Sangat Mahal

Sistem Khilafah jika diterapkan dan benar-benar dijalankan maka itu akan mengundang bahaya yang sangat besar.

Para pengusung ide memandang bahwa mendirikan khilafah adalah kewajiban yang harus dimulai sejak dini, dimulai dari tiap pribadi muslim. Apakah mereka ini mempunyai dasar untuk mendirikan khilafah?

Benar. Mereka mempunyai dalil dari Al Quran.

Dan para pengusung ide mengartikan atau menerjemahkan beberapa ayat itu berdasarkan kepentingan. Maksud saya, setiap orang bisa menggunakan sebuah atau beberapa ayat suci untuk membenarkan tindakan atau argumennya. Analogi untuk ayat suci ini sama halnya dengan sebuah pisau. Kita bisa manfaatkan pisau untuk membantu pekerjaan rumah di dapur atau untuk menodong bahkan membunuh.

Saya ambil satu ayat pendukung yang mampu mengerakkan seseorang untuk mengeluarkan kemampuan maksimalnya.

Bertakwalah kalian kepada Allah menurut kesanggupan kalian; dengar dan taatlah, serta nafkahkanlah nafkah yang baik untuk diri kalian (At-taghabun 16)

Memahami kata takwa itu berarti melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala larangan Allah. Termasuk tidak melakukan fitnah. Tidak menyebar kabar palsu atau hoax. Artinya disini adalah jika ada sekelompok orang yang  menyebarkan berita palsu maupun fitnah sesungguhnya dia sudah menjadi kuda tunggangan bagi iblis.

Balik ke judul lagu.

Kaidah fiqh bahwa “Suatu kewajiban tidak akan sempurna kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu itu menjadi wajib.” Kaidah fiqh itu tidak salah. Yang salah adalah memahami bagaimana kaidah itu dapat diterapkan. Jika untuk meraih kesempurnaan iman itu dibutuhkan negara Islam, berarti Sunan Ampel dan para wali lainnya dan mungkin juga sesepuh yang telah wafat itu termasuk orang apes ya? Beliau-beliau ini tidak sempurna imannya karena ada sebagian yang hidup di jaman Majapahit, Belanda dan Jepang. Ya ya ya, pasti akan dibilang perbuatan beliau untuk mendirikan negara Islam sudah sempurna jika ada niat. Betul? Gundul !!!

Kalau kaidah fiqh itu dikaitkan dengan pendirian sistem khilafah ya tersesatlah umat dengan logika pemahaman yang salah. Kaidah dan pokok yang pertama dalam Islam adalah memperbaiki akhlak dulu.Dan itu bukan pekerjaan mudah.

Para pengusung ide khilafah ini meletakkan dasar bahwa khilafah adalah perintah yang wajib ditaati. Salah satu ayat yang menjadi dasar pendirian khilafah adalah Al Maidah 48 , saya kutip sebagian isinya :

maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.

Menurut para pengusung ide ini, khilafah adalah sebuah perintah yang telah diputuskan dan untuk itulah mereka berusaha menyerukan satu sistem pemerintahan yang bernama khilafah. Kata khilafah sendiri mempunyai arti penguasa, pemimpin, pengelola dan sejumlah makna yang lain namun dalam hal ini diperkenalkan sebagai sebuah cara berpolitik atau pemerintahan. Dan sebetulnya tidak berbeda sama sekali dengan apa yang ada saat ini di Indonesia. Dalam ruang lingkup lebih sederhana, sebenarnya pada jaman Nabi Muhammad masih hidup itu di Madinah sudah ada pembagian tugas yang mirip dengan sejumlah lembaga-lembaga di republik ini. Bahwa sistem khilafah itu sama halnya dengan sistem presidensial. Ada kementerian, ada tentara, ada kepolisian untuk keamanan dan lain sebagainya. Yang berbeda hanyalah di atas Nabi Muhammad sudah tidak ada lagi orang yang akan meminta pertanggunganjawab beliau karena pemberi mandat adalah Allah sendiri.

Lalu bagaimana seorang khalifah (pemimpin) dipilih atau diserahi kepercayaan? Pencalonan. Dan sejarah menyatakan bahwa khalifah yang akan dilantik adalah hasil dari musyawarah. Mengenai pemilihan seorang khalifah (pemimpin), saya yakin jika para pengusung ide belum memiliki konsep yang utuh dan jelas. Jika mereka menjawab itu (pemilihan) berdasarkan hasil musyawarah maka Anda bisa bayangkan berapa lama waktu dan biaya yang dibutuhkan. Musyawarah ini berbeda dengan pemilihan dengan cara one man one vote, musyawarah disini berarti masing-masing kelompok atau perorangan akan membawa profil kelebihan dan kelemahan calon khalifah.

Lalu bagaimana dengan calon titipan? Maksudnya, calon yang diusulkan oleh khalifah sebelumnya. Apakah itu bertentangan dengan hukum Islam (syariat) atau bagaimana? Sebenarnya tidak ada masalah tentang dari mana pencalonan khilafah berasal, dari umat atau dari khalifah sebelumnya, karena yang terpenting adalah musyawarah itu menghasilkan suara bulat. Umar bin Khattab telah memberi contoh tentang hal ini.  Beliau berkata kepada Suhaib, “Jika lima orang telah bersepakat, dan meridhai seseorang (untuk menjadi khalifah), sementara satu orang yang lain menolaknya, maka penggallah leher orang itu dengan pedang.”

Apa bedanya satu orang satu suara dengan apa yang telah diterapkan oleh Umar bin Khattab? Namun jangan diartikan hukuman mati bagi yang tidak setuju. Bukan itu. Menolak lalu dibunuh itu berarti menolak lalu keluar dari kesepaktan, entah dengan mengangkat diri sebagai khalifah sendiri atau pemberontakan. Konteksnya seperti itu. Jadi kalau ada makar atau kudeta di negeri ini ya itu apa yang disampaikan Umar bisa dijadikan acuan oleh pemerintah dalam hal ini aparat hukum untuk menghukum mati para pemberontak.

Madinah merupakan contoh sederhana. Lalu bagaimana penerapannya di Indonesia? Dengan wilayah geografi yang lebih rumit dari Madinah, dengan jumlah penduduk yang jauh lebih banyak dibandingkan umat Islam di Madinah saat itu, dengan aneka ragam suku dan keyakinan yang ada, apakah cara pemilihan khalifah sudah dipikirkan dan teruji? Jika belum, hanya satu pendapat yang saya punya yaitu : biaya sosial dan biaya ekonominya jauh lebih besar dan resiko kegagalan juga lebih besar. Dan bila biaya-biaya itu timbul, lalu bagaimana solusi dari para pengusung ide ini? Apakah dengan kalimat “ sabar dan pasrahkan kepada Allah.” Sedangkan kalimat itu adalah sebuah kalimat, dan ratusan juta orang yang ada di republik ini sudah tidak butuh kalimat tetapi hasil kerja dan fakta. Kan aneh ya kalau ada orang hampir mati kelaparan lalu kita beri motivasi dengan kalimat itu. Yang waras siapa?  Jadinya lucu, banyak orang diajak bereksperimen lalu ketika eksperimen itu gagal ya tinggal cuci tangan lalu berkata : tawakal titik

Terus membangun negeri ini kapan dimulainya kalau tiap hari sudah gaduh dan ribut melulu tentang balik ke alam demokrasi atau meneruskan kekhilafahan? Sedangkan kerugian-kerugian sudah nampak dengan nyata. Lantas jika ada yang membandingkan usaha penegakkan khilafah ini sama seperti perang Badr atau generasi awal Islam ya itu namanya seperti membandingkan sumur dengan tong kosong. Situasi jaman sudah berbeda. Pada jaman generasi awal, itu semua orang Islam bahu membahu membangun negeri. Lha jaman sekarang? Presiden Joko Widodo seperti membangun negara ini sendirian kan? Kalian dimana sekarang?

Khalifah bukan esensi dari sebuah agama yang dinamakan Islam titik

Salam Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: