Karakter Asli Seseorang Dapat Diungkap Melalui Uang

Saat seseorang tidak memiliki cukup uang untuk membeli kesenangan yang dia inginkan, biasanya dia akan menekan keinginan tersebut. Dan situasi seperti ini akan terus terjadi hingga dia memiliki kesempatan untuk memenuhi atau membeli hal-hal yang menyenangkan bagi dirinya tersebut. Di sekitar kita, di banyak kesempatan dalam kehidupan ini seringkali kita mendengar atau mungkin justru kita sendiri yang menjadi pelakunya. Menjadi pelaku apa?  Bukankah kita sering mendaptkan kisah atau mendengar orang berkata “Sekarang si A tidak seperti dulu. Dulu waktu masih susah hidupnya, miskin, ia baik-baik saja. Dengan teman baik. Dengan istri dan anak-anaknya juga baik. Tapi sekarang, setelah sukses dan banyak uang ia berubah menjadi sombong, menjauh dari teman-temannya, dan tidak lagi memperhatikan keluarganya. Ini semua karena uang.”

Seolah-olah si A ini berubah ya? Sedangkan jika kita membaca bagian atas itu justru rasa sombong itu sebenarnya sudah ada dalam diri A. Hanya saja saat itu si A lagi miskin.

Tetapi ada juga loh yang malah tidak makin sombong. Makin dermawan, makin dekat dengan kalangan tidak mampu. Makin rendah hati dan sebagainya. Kok bisa ya?

Ada juga yang seseorang itu kelihatan baik dari apa yang dia katakan. Dia ini rajin memberi motivasi atau mungkin seolah-olah dia adalah dewa penyelamat serta menjunjung tinggi idealisme. Dan dalam taraf orang seperti ini biasanya sudah mapan secara ekonomi dan bisa saja dia itu seorang mubaligh atau ustadz. Tetapi itu semua belum teruji bila kita belum berurusan uang dengannya. Entah dalam kategori meminta bantuan untuk memberi nafas panjang sekedar bayar listrik atau apapun. Entah dalam bentuk pinjaman untuk modal kerja atau apapun.

 

Satu ayat memerintahkan untuk berjihad dengan amwalikum (hartamu) lalu diikuti wa anfusikum (jiwamu). Secara sederhana, ayat itu sudah mengatakan bahwa   mengeluarkan harta itu lebih berat. Dan kebanyakan dari manusia yang berkonflik juga berawal dari harta.

Mengapa? Karena pada dasarnya manusia memiliki naluri primitif seperti mencari kesenangan dan selalu ingin segera terpuaskan. Naluri primitif ini sebenarnya wajar dan memang sudah bawaan dari lahir. Yang membedakan adalah pengendalian naluri primitif itu. Jika dia tidak mampu mengendalikan yah akhirnya kesannya pelit, sombong yang justru ditebarkan dan lain-lain. Bila dia mampu mengendalikan bahkan menyalurkan dengan tepat, yah jadilah berkah bagi sekitarnya.

 

 

 

Demikianlah. Wassalam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: