Martumba Ditantang Untuk Menghentak Dunia

Secara umum manusia berusaha mengeskpresikan perasaan melalui perbuatan. Manusia berusaha mewujudkan situasi batin yang dialaminya melalui gerak fisik atau juga melalui mimik. Gerak fisik ini biasa disebut tarian. Sebuah seni yang memadukan gerak fisik dari yang lemah gemulai hingga gerak kaku dan patah-patah.

Kita harus memahami bahwa tarian adalah sebuah hasil atau akibat dari sebuah proses. Manusia merefleksikan sikap, gagasan dan bahkan pengalaman hidup melalui gerakan fisik yang terkadang disertai irama atau bunyi-bunyian.

Lomba Koreo Simbolon Martumba 2017 yang digelar di gedung Nyi Ageng Serang dapat dijadikan bagian dari proses untuk menjaga tradisi Batak dan selalu mengingatkan orang Batak agar tak lupa pada ibunya. Acara yang diselenggarakan di kawasan Kuningan ini diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai daerah di sekitar Jakarta. Ini seperti menunjukkan bahwa tradisi Batak telah diterima sebagai kekayaan budaya nusantara sehingga orang dari suku atau etnis yang berbeda bisa turut serta menjadi penari.

Martumba. Tarian tradisional masyarakat Batak Toba ini merupakan refleksi kegembiraan para anak muda. Kegembiraan dan keceriaan dalam kearifan lokal ini terkadang mempunyai momentum. Seperti malam terang bulan purnama atau masa panen raya dan seterusnya. Masyarakat muda Batak Toba di Pahae. Mereka berkomunikasi dan berekspresi melalui gerak dan lagu. Satu wadah telah dibangun para leluhur Batak Toba untuk mengikat erat sebuah kebersamaan.

Menurut M.T. Nainggolan, tokoh masyarakat Pahae Jae, tarian martumba berasal dari Huta Siburian Sarulla Pahae Jae. Pada malam bulan purnama, para gadis di Pahae berkumpul untuk menumbuk bahan pembuat tikar ( manduda baion) .

Di tengah mereka melakukan pekerjaan itu, para gadis bernyanyi dan menari. Tentu saja hal ini akan mengundang pemuda untuk berdatangan. Melihat keramaian dan keceriaan yang dibangun oleh para gadis. Tak jarang, kesempatan ini digunakan untuk mengucapkan kata “ aku naksir kamu” atau “ maukah kamu jadi pacarku?” hahaha tentu saja dengan cara yang berbeda dengan anak muda jaman sekarang. Orang-orang Batak terkenal dengan suara indah dan merdu. Dan sebagai bagian dari rumpun Melayu, pertemuan besar antara sekumpulan gadis dan pemuda itu akan menjadi tanya jawab dalam bentuk pantun atau sindiran. Pantun-pantun ini akan saling bersahutan dan bertanya jawab dengan bersaing keindahan suara. Mereka melagukan pantun-pantun ditengah tumbukan-tumbukan para gadis yang sedang manduda baion.

Dengan melingkar, beberapa penari menghentakkan kaki dalam derap langkah yang berpadu dengan tangan bertepuk mampu menggugah jiwa-jiwa yang sedang lunglai. Paduan suara dengan lirik yang bersemangat mampu menghangatkan suasana dalam kebersamaan. Ciri gerakan martumba memang mewakili suasana ceria. Bertepuk tangan, melompat ke kanan dan ke kiri. Menepuk pinggul bahkan melompat-lompat. Menjepit ulos dengan dua jari lalu dilambai atau digoyang juga menjadi ciri khas tari Martumba. Dan memang belum dapat dikatakan menari Martumba jika tidak ada ulos yang dikenakan. Karena ulos dan martumba ibarat sayur dan bumbu. Tentu akan menjadi fenomena yang menyedihkan ketika generasi Batak di abad milenial ini tidak menyimpan sehelai ulos di lemari bajunya. Tidak ada yang memalukan jika ulos ini dikenakan dalam acara keluarga ataupun acara bersama-sama dengan teman. Karena ulos adalah jati diri setiap orang Batak.

Martumba dapat digelar dalam perayaan apa saja. Perayaan kemerdekaan Republik Indonesia, ulang tahun, pembuka kongres atau pentas budaya. Dengan kemampuan martumba beradaptasi dan kecakapan koreografer tentu akan menjadikan martumba dapat diterima kalangan lebih luas. Bukan tidak mungkin Martumba dapat berkembang pesat dan segera go internasional karena tarian ini tidak bermuatan politis. Tidak pula disakralkan karena memang martumba lahir di tengah keceriaan bulan purnama. Inilah filosofi martumba yang menjiwai setiap gerak dan lagu. Bahwa keceriaan sewajarnya untuk disebarkan agar setiap orang merasakan keceriaan yang sama.

tangan do botohon da inang

ujung nai marjari-jari da inang

jonjong hami dison ale amang,

ale inang

jumolo hami marsantabi da inang

rege-regema

 

 

 

Horas!!

Salam Indonesia.

One thought on “Martumba Ditantang Untuk Menghentak Dunia

Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: