Joko Widodo Mengejar 2510 Desa Gelap Untuk Menjadi Terang

Di awal kemerdekaan Indonesia, Presiden Soekarno membentuk Jawatan Listrik dan Gas di bawah Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga pada 27 Oktober 1945 untuk menampung (menasionalisasi) beberapa perusahaan Belanda yang bergerak di bidang perkebunan. Keputusan ini tak bisa dilepaskan dari peranan Komite Nasional Indonesia Pusat serta delegasi yang tergabung dalam komunitas buruh atau pegawai listrik dan gas pada perusahaan-perusahaan Belanda. Perusahaan-perusahaan Belanda ini saat itu secara mandiri telah memproduksi listrik untuk kepentingan sendiri. Saat itu kapasitas total pembangkit tenaga lisrik adalah sebesar 157,5 Mega Watt (MW).

Untuk saat ini (2017), pemerintah memberikan prioritas utama pada desa-desa yang belum teraliri listrik. Termasuk di dalam upaya ini adalah melistriki desa yang sebagian dusun atau kampungnya belum teraliri listrik.

Beberapa desa yang terlistriki :

Kabupaten Siak

Minas adalah sebuah lumbung energi sejak tahun 1944. Dan ekspor minyak dilakukan pada tahun 1950 dengan bendera Caltex Pacific Oil Company. Dan sejak Indonesia merdeka, Desa Minas Barat Kecamatan Minas Kabupaten Siak, Riau merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang belum merasakan adanya aliran listrik.

Tim Survey PLN dari Kanwil Riau dan Kepri yang dikepalai Andi Daulay (tahun 2016) menyebutkan bahwa luputnya dua desa ini dialiri lstrik lebih karena lemahnya data yang dimiliki sehingga dua desa ini tidak masuk dalam prioritas pemasangan jaringan baru. Artinya disini menunjukkan bahwa ada kelemahan data yang dimiliki oleh PLN. Sebagai konsekuensi logis dari lemahnya data ini adalah perluasan jaringan listrik juga akan semakin lambat.

Menurut saya, data yang tidak akurat memberi petunjuk bahwa ada kesalahan pada internal pemerintah. Entah itu PLM atau pemerintah setempat. Dan kesalahan ini nampaknya sudah mulai diidentifikasi sehingga rasio kelistrikan Siak mengalami peningkatan pesat.

Menurut keterangan yang disampaikan oleh Wakil Bupati Siak Alfedri bahwa pada tahun 2017 masih ada sekitar 14 desa di Siak yang belum teraliri listrik. Dan tentu informasi ini sangat menggembirakan jika dibandingkan dengan tahun 2011. Pada tahun 2011, rasio kelistrikan hanya sekitar 34 persen. Kemudian tahun 2017 sudah mencapai 70 persen. Dalam bahasa sederhana, sejak Indonesia merdeka dan dengan berbagai pergantian kekuasaan, Kabupaten Siak nyaris tidak mengalami kemajuan yang berarti dalam kelistrikan. Hal ini merupakan satu ironi karena Chevron Pasific, sebuah perusahaan energi atau minyak, berlokasi di Siak.

Kementerian ESDM telah menerbitkan Permen ESDM No.38 Tahun 2016 tentang Percepatan Elektrifikasi Di Pedesaaan Belum Berkembang, Terpencil, Perbatasan Dan Pulau Kecil Berpenduduk Melalui Pelaksanaan Usaha Penyediaan Tenaga Listrik Skala Kecil ini mungkin disebabkan strategi pemerintah untuk memberi kesempatan kepada pihak swasta agar turut berperan dalam mewujudkan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Terutama di wilayah-wilayah yang belum terjangkau oleh jaringan PLN.

Memang peraturan ini harus ada jika mengingat apa yang dialami oleh Desa Minas Barat dan sekitarnya bahwa di bawah rumah-rumah mereka terdapat sumber energi namun mereka tidak pernah merasakan dampak positif dari kekayaan yang ada pada alam sekitar mereka.

Suku Anak Dalam
Kabar lain yang menggembirakan adalah 41 keluarga Suku Anak Dalam di Kabupaten Sarolangun dan Merangin, Provinsi Jambi sudah merasakan energi listrik. Adalah Kementerian Sosial yang menjadi tulang punggung bekerja sama dengan yayasan Dwiyuna Jaya Foundation.

Listrik yang dipersembahkan untuk keluarga Suku Anak Dalam memang bukanlah listrik yang bersumber dari minyak. Kementerian Sosial memanfaatkan energi sinar matahari untuk menerangi Suku Anak Dalam. Dengan daya yang dihasilkan sebesar 400 volt amper, sel-se surya yang ditanam ini diharapkan mampu bertahan hingga 10 tahun. Dalam hal ini tentu ada sebuah harapan besar bahwa energi listrik bagi Suku Anak Dalam dalam berkelanjutan setelah usia sel-sel surya habis pada 10 tahun mendatang. Dan ketika masa itu tiba, pemerintah hendaknya sudah memiliki alternatif lain yang lebih baik dari apa yang telah dilakukan Kemensos pada hari ini untuk Suku Anak Dalam. Daya sebesar 400 volt ampere ini telah didistribusikan untuk 23 rumah keluarga di Desa Pulau Lintang, Kabupaten Sarolangun, dan 18 rumah keluara di Desa Sialang, Kabupaten Merangin.

Papua Terang

Kemajuan yang berbeda kini dirasakan oleh masyarakat Papua jika dibandingkan dengan saudara-saudara di Jambi dan Riau.

Program Papa Terang yang dicanangkan oleh pemerintah mulai menunjukkan hasil. Pada tahun 2016, PLN berhasil mengalirkan listrik untuk 92 desa di Papua Barat.. Target 365 lsitrik desa menjadi awal untuk tahun 2017 dengan total 1.273 desa yang sudah teraliri pada tahun 2020.

Target yang dicanangkan hingga tahun 2020 untuk kawasan Papua Barat tentu bukanlah hal yang mustahil untuk diraih. Kesediaan banyak pihak termasuk warga setempat juga diharapkan dapat mempercepat masuknya listrik hingga pelosok daerah. Keyakinan dan semangat tinggi ini harus dijaga karena bukan mustahil untuk diraih sebagaimana hampir mustahilnya mengekspor beras dari Papua. Tetapi Mentan Andi Amran Sulaeman beserta Gubernur Papua, Lukas Enembe dan Bupati Merauke, Fredrikus Gebze pada tanggal 13 Pebruari 2017 telah melakukan ekspor beras premium untuk pertama kalinya. Papua Nugini adalah negara tujuan pertama dan tidak menutup kemungkinan Papua akan menditribusikan ke banyak negara di kemudian hari.

Ekspor beras dari Papua ini boleh jadi tidak pernah terpikirkan dalam benak kita selama ini. Sejak 1980 atau mungkin sejak 1964, kita mungkin tidak berpikir tentang swasembada beras dengan Papua sebagai mesin utama.

Namun hari ini, Papua telah melakukan apa yang tidak kita pikirkan. Artinya Papua Terang 2020 adalah mimpi nyata yang akan diraih oleh anak bangsa.  Joko Widodo telah berdiri di depan dan memberi bukti bahwa Papua Terang bukanlah mimpi.

Penutup

Kita semua berharap bahwa masuknya listrik desa di kawasan terasing, tertinggal dan terpencil ini dapat membantu peningkatan kesejahteraan penduduk. Sehingga di masa depan, kita tidak mendengar lagi adanya marga yang musnah karena buruknya layanan kesehatan.

Dalam tulisan ini, saya berpikir bahwa ada kemungkinan para tenaga medis ini enggan untuk menelusuri kawasan-kawasan terpencil adalah minimnya sarana. Baik itu infrastruktur maupun energi listrik. Kita tidak bisa mengesampingkan hal itu semua. Periode 2014-2019 dibawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo telah nampak perubahan nyata memang telah terjadi sebuah revolusi. Beberapa tahun yang lalu, belasan tahun silam kita banyak mendengar dan membaca bahwa mungkin sekitar 70 persen daratan di Indonesia belum teraliri listrik. Namun pada hari ini, berkat kerja keras semua pihak dan kecepatan serta ketegasan pemerintah dalam menerbitkan payung hukum energi telah memberi dampak positif yang begitu luas.

Ada 2510 desa di seluruh Indonesia yang belum mendapatkan listrik. Pada tahun 2016 masih sekitar 86 desa yang terlistriki dari 2510 desa yang “gelap”. Dari desa yang masih gelap ini ada beberapa tersebar seperti di Kabupaten Kotabaru, beberapa dusun di Tapanuli Utara dan masih banyak lagi diseluruh wilayah Indonesia. Dan diharapkan pada tahun 2019 akan tercapai 2400 desa yang terlistriki. Kita harus memaklumi bahwa pada periode 2014-2019 masih ada pengembangan-pengembangan pada pembangkit listrik. Beberapa sudah memberikan kemajuan oleh karena itu pada tahun 2019 akan lebih banyak desa menjadi terang karena saat ini sedang dilakukan persiapan menuju terang.

Dari paparan diatas, hal paling sederhana yang bisa kita baca adalah Suku Anak Dalam telah bersiap untuk berubah. Sebuah kerjasama cantik antara Kemensos yang didukung PLN secara bertahap akan membawa Suku Anak Dalam ke dalam gerbong kemerdekaan dan keadilan sosial. Mereka kini bukan lagi sebagai warga negara kelas dua. Bukan lagi menjadi manusia yang terisolir dari peradaban dan kemajuan jaman. Mereka kini telah duduk beserta kita dalam satu kelas yang sama. Mereka telah mengambil nasi dari periuk yang sama dengan kita. Dan mereka memang berhak untuk kenikmatan itu karena Suku Anak Dalam adalah kita. Papua akan bergerak lebih maju ketika listrik sudah hadir dalam kehidupan mereka.

Apapun yang telah dilakukan pemerintah tetaplah akan selalu ada kelemahan. Kelemahan-kelemahan yang membutuhkan kritik dan evaluasi agar semakin baik dari waktu ke waktu. Dan pada titik ini, kita harus sadar bahwa seluruh potensi yang ada ternyata belum dimaksimalkan. Untuk itulah, pemerintaan Joko Widodo berupaya keras menyelesaikan permasalahan yang tersisa dari periode sebelumnya sembari tetap mencapai hasil terbaik bagi bangsa ini.

Tetapi keyakinan dan semangat para anak bangsa tidak boleh padam. Bangsa ini harus tetap menyalakan semangat dan keyakinan agar energi untuk bekerja keras itu selalu ada karena kita pernah bermimpi bahwa Indonesia menjadi terang.

Sumber :

http://riauone.com/otonomi/Dua-Desa-Di-Siak-Segera-Teraliri-Listrik-PLN

http://www.jawapos.com/read/2017/05/26/132617/indonesia-sudah-72-warga-minas-baru-tahun-ini-merdeka

https://id.wikipedia.org/wiki/Chevron_Pacific_Indonesia

http://rimanews.com/nasional/peristiwa/read/20170516/324592/41-keluarga-Suku-Anak-Dalam-sudah-nikmati-listrik

http://www.pln.co.id

http://www.djk.esdm.go.id/

#JokowiUntukIndonesia

 

 

Salam Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: