Bekas Napi Korupsi Maju Pilgub Sulsel, Golkar Sehat?

Dalam Pasal 25 Kovenan Hak Sipil disebutkan bahwa pencabutan hak politik hanya bisa dilakukan jika terkait dengan hak dipilih untuk jabatan politis seperti bupati, walikota, gubernur, presiden dan parlemen.

Dalam buku yang berjudul Korupsi Dalam Perspektif Teori Sosial Kontemporer yang ditulis oleh Edy Herry Pryhantoro, Msi. Pada lampiran terdapat beberapa kasus korupsi yang melibatkan Nurdin Halid.

Nurdin Halid, mungkin adalah satu-satunya ketua federasi sepak bola di dunia yang mampu mengendalikan PSSI di balik jeruji besi. Hanya saja, kita harus paham itu terjadi di masa sebelum 2014.

Dan dikabarkan oleh Idrus Marham bahwa Erwin Aksa, yang merupakan keponakan Jusuf Kalla, mendukung seratus persen pencalonan orang ini dalam Pilgub Sulawesi Selatan 2018. Sekalipun dukungan Erwin Aksa ini tidak dapat diartikan sebagai  representasi dukungan Jusuf Kalla tetapi bisa saja dalam kalkulasi politik itu bertujuan lain. Artinya, kita semua sudah tahu, Golkar dengan kemahiran menggandakan diri ini nanti bisa berubah dukungan pada pilpres 2019. Sekalipun saat ini dibawah Setya Novanto, Golkar menyatakan akan mendukung Presiden Joko Widodo untuk maju di pilpres 2019. Tetapi itu tidak akan ada artinya jika di gubernur di daerah memiliki pendapat yang berbeda.

Kita harus paham bahwa tidak ada kewajiban bagi kader partai untuk tunduk pada partai. Kita ambil contoh Pilkada DKI. Secara perorangan, Erwin Aksa berada di belakang Anies Baswedan dan menggalang dukungan untuk gubernur Al Maidah ini dari kalangan pengusaha muda. Apakah itu berarti Jusuf Kalla ada di belakang Erwin Aksa? Bukan kapasitas saya untuk menjawabnya tetapi dengan ditunjuknya Sudirman Said sebagai ketua tim sinkronisasi Jakarta android dan Sofyan Wanandi sebagai sponsor tentu kita harus paham.

Entah penyakit apa yang sebenarnya menjangkiti mayoritas politisi di Golkar hingga mencalonkan seseorang yang pernah menjalani hukuman penjara selama 2 tahun atas kasus korupsi.  Logikanya, ketika seseorang pernah mencuri dan lolos dari kejaran aparat. Biasanya akan mengulangi dan mengulangi karena ada kenikmatan dalam mencuri. Kita juga harus tahu bahwa seorang koruptor biasanya memiliki bakat sebagai seorang psikopat. Dia tidak akan merasa bersalah dengan perbuatannya.

Rp 8.15 milyar adalah angka terakhir yang dilaporkan oleh Nurdin Halid pada tahun 2002 dan selanjutnya hingga tulisan ini dpublikasikan, saya belum menemukan info apapun. Apakah Nurdin Halid ini ikut program Tax Amnesty atau bagaimana, mbah Google pun tak tahu. Kalau sudah begini, sebagai orang yang tidak berkepentingan dalam pilgub Sulsel, saya merasa heran dan takjub dengan matinya timbangan logika dan hati nurani.

Bicara tentang hati nurani berarti tak jauh dengan moral. Ada peristiwa aneh dalam standar moral untuk orang seperti ini.

Kalau mau maju di Munas, maju saja. Tinggal nanti DPD menilai, ini orang bermoral atau tidak,” ucap Nurdin.

http://nasional.kompas.com/read/2016/03/14/15370281/Nurdin.Halid.Masa.Ketua.DPR.Teken.Surat.Tanpa.Dibaca.Rakyat.Bisa.Ketawa

Paham ya? Jadi bicara tentang moral tetapi dia sendiri melupakan kenyataan bahwa dia pernah bertitik titik. Buktinya sudah ada dengan menjalani hukuman di penjara dengan kasus korupsi dan beberapa sangkaan korupsi yang lain tapi karena sakti ya dia bisa lolos. Dan pasal yang berada di paragraf pertama adalah acuan buat kita untuk bicara tentang standar moral bagi para calon pemimpin politik.

Melalui majunya Nurdin Halid pada akhirnya membuka mata kita semua bahwa dalam politik itu tidak perlu mempunyai etika. Apabila seorang tokoh politik berkata sowan atau apapun itu lebih baik dimaknai sebaliknya. Kalau mereka berkata lari ya anda jangan lari. Karena apapun yang diucapkan politisi psikopat alias politisi busuk alias koruptor alias maling itu selalu mempunyai arti berlawanan. Jika dia bilang si A itu komunis ya berarti dia yang komunis. Jika dia berkata ada kesenjangan antara mayoritas dan etnis minoritas maka dia juga berperan dalam melebarkan kesenjangan itu.

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air dimanapun anda berada.

Kini mata telah membaca bukti-bukti bahwa memang partai yang satu ini sangat miskin integritas dan memiliki standar moral yang rendah. Ideologi yang diperjuangkan juga sudah tidak ada, tetapi saya yakin bahwa masih ada kader Golkar yang memiliki integritas tinggi dan standar moral yang tinggi. Dan untuk saat ini hingga 2019, kita mungkin akan disuguhi permainan politik kelas rendahan. Pencitraan murahan. Dan itu harus kita terima karena memang fakta. Saran saya hanya satu hal, jangan pernah mempercayai seorang psikopat.

 

 

Salam Indonesia

One thought on “Bekas Napi Korupsi Maju Pilgub Sulsel, Golkar Sehat?

Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: