Elite PAN Turut dalam Upaya Melenyapkan KPK demi Amien Rais

Tanggal 14 Mei 1998 adalah tanggal dideklarasikannya Majelis Amanat Rakyat (MARA) oleh beberapa orang yang diantaranya adalah Amien Rais, Rizal Ramli, dan Gunawan Muhammad. Hampir sebulan kemudian yaitu tepatnya tanggal 5-6 Agustus 1998 berdirilah Partai Amanat Nasional yang sebelumnya dinamai Partai Amanat Bangsa. Amien Rais bukanlah bapak reformasi seperti yang selama ini digembor-gemborkan. Bukti yang tersaji adalah kegagalan Amien Rais mengawal reformasi, dan itu sudah cukup.

Partai Amanat Nasional mempunyai anggaran dasar yang cukup ideal dan layak dibaca sekalipun fakta memberikan hasil lain. Pada Pasa 7 ayat 2 disebutkan bahwa Partai Amanat Nasional berusaha membangun masyarakat madani yang bebas dari kesengsaraan, rasa takut, penindasan dan kekerasan. Dan pembelaan yang dilakukan PAN terhadap Amien Rais justru membuka aib mereka sendiri. Masuknya Hanafi Rais sebagai delegasi PAN dalam panitia susah (pansus) angket KPK ini seperti menusuk dalam lipatan. Hanya karena satu orang, PAN telah menebar rasa takut dan waswas bagi bangsa ini. Sebuah rasa waswas akan musnahnya KPK dan mengokohkan DPR sebagai sarang penyamun.

Oh ya tentu, elite PAN akan membantah dan itu wajar. Karena dalam dunia politik Indonesia itu sudah sangat wajar bila politisi selalu berbohong. Selalu menutupi kesalahan gerombolan dan selalu mencuci tangan dari kesalahan yang dibuat para gerombolan. Saya berikan contoh, Nurdin Halid. Orang ini tidak jauh berbeda dengan Basuki (Ketua komis B DPRD Jawa Timur yang OTT oleh KPK). Entah apa yang menjadi alasan Golkar mencalonkan seorang narapidana dalam pilgub Sulsel 2018, tetapi karena tidak ada yang mempermasalahkan ya bagaimana lagi, kita harus terima fakta bahwa bangsa ini terkadang lucu. Lucu karena bersedia dipimpin oleh narapidana korupsi. Silahkan tanya Erwin Aksa Mahmud tentang pencalonan Nurdin Halid, apakah dia sudah dapat ijin dari Jusuf  Kalla atau bagaimana mungkin orang yang tersandung kasus penggelapan bisa maju sebagai calon gubernur?

Bekas Napi Korupsi Maju Pilgub Sulsel, Golkar Sehat?

Balik ke masalah PAN dan Amien Rais. Dalam kasus penyebutan nama Amien Rais dalam pusaran rp 600 juta ternyata sudah cukup membuktikan bahwa PAN adalah tempat sekelompok orang yang menamakan dirinya anak-anak. Alasan kuat dibalik penamaan ini adalah nama Amien Rais baru disebut. Bukan dituduh atau diduga secara hukum. Jujur saya hanya mampu tepok jidat ketika membaca pernyataan Zulkifli Hasan yang tidak mampu move on dari masa kanak-kanaknya. Dia ini ketua lembaga negara namun gagal memberikan profesionalitasnya. Karena status besan dari Amien Rais tentu akan menjadi jarak jika harus mengkritik Amien Rais. Keterlibatan aktif Amien Rais dalam aksi togel 411 sudah menunjukkan level priorotas Zulkifli Hasan. Karena bagaimanapun, Zulkifli Hasan juga akan menikmati hasilnya jika saja togel 411 atau makar 212 berhasil.

Jadi, Zulkifli Hasan, siapa yang pesan ke Jaksa KPK tentang penyebutan nama Amien Rais? Anda menebar fitnah kali ini bila tidak memberi klarifikasi.

Yang kedua, komentar dari Din Syamsuddin. Karib Amien Rais ini malah sudah sepantasnya tidak diwawancarai oleh media karena pernyataan yang cenderung lucu dan memalukan. Kalau Din Syamsuddin berburuk sangka pada KPK, tentu sangat memalukan karena Din Syamsuddin tidak mampu memberi data yang berseberangan, data yang membuktikan Amien Rais tidak menerima Rp 600 juta. Artinya begini, ketika saya berkata ada bola di dalam lingkaran eh Din Syamsuddin malah menuduh saya berbohong tapi dia tidak mampu membuktikan jika bola di luar lingkaran. Omongan Din Syamsuddin ini telah berada di luar koridor akal sehat. Saya pikir malah omongan itu sudah jauh dari kaidah ilmiah. Sudah jelas bumi itu bulat malah ngotot datar karena sebuah keyakinan. Terkadang, dalam sebuah debat, saya pikir omongan buruk sangka ala Din Syamsuddin ini justru menguatkan bahwa Amien Rais memang berada di dalam lingkaran. Karena situasi politik Indonesia yangg saat ini berlaku adalah sebuah hukum yaitu jika ada politisi berkata A plus maka situasi sebenarnya adalah A minus. Din seorang politisi? Terserah anda menilainya.

Sebenarnya PAN telah bersikap benar dengan menolak panitia susah angket KPK seperti yang dikatakan Yendri  tanggal 4 Mei 2017. Namun kini PAN berbalik arah, PAN kini bersiap ambil bagian untuk melenyapkan KPK dari sejarah anti korupsi. PAN berbalik arah karena satu alasan, siapapun yang mencoba melemahkan KPK berarti dia ada satu kubu dengan ya seperti itulah.

Kalau PAN itu merupakan sekumpulan orang dewasa, tentu akan bijak menanggapinya. Praduga tak bersalah sudah menjadi perlindungan bagi Amien Rais eh karena PAN malah bertingkah seperti cacing kepanasan maka jadinya mengesankan bahwa benar Amien Rais terlibat korupsi alat kesehatan. Dari besan, anak, menantu serta simpatisan atau kader PAN secara tiba-tiba menghantam KPK. Tapi kita harus maklumi situasi itu, karena kalau KPK membidik lawan politik maka KPK adalah pahlawan bagi PAN. Tapi karena KPK sebut nama Amien Rais maka PAN panik dan mengatakan macam-macam tentang KPK. Kepanikan itu secara tak sadar telah menelanjangi PAN di depan umun dan masih juga tak sadar hingga sekarang.

 

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air.

Korupsi adalah sumber kesengsaraan bangsa ini. Jaman Soeharto, karena korupsi maka Papua hingga banyak wilayah terluar belum merasakan hasil pembangunan secara merata. Masih di jaman Soeharto, APBN bocor hingga 30% dan tidak ada tindak lanjut tentang kebocoran itu di jaman Soeharto.

Dalam kasus Amien Rais, PAN belum mampu membebaskan dirinya dari kesengsaraan akibat korupsi. PAN masih dicengkeram rasa takut bila terdampak kasus korupsi.

Kita tidak boleh memberi kesempatan partai pendukung tindak korupsi dan pelaku korupsi untuk bernafas lega di masa mendatang.

 

Demikianlah. Wassalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: