Amien Rais yang Membutakan Diri dan Dewi Gandari

Pernyataan Amien Rais tentang pergantian seluruh pimpinan KPK ini mengingatkan saya kepada sosok dalam dunia wayang. Dewi Gandari. Sebuah pernyataan yang (kebetulan) sama dengan ide tujuan pembentukan Pansus KPK (Panitia Susah Kawan Para Koruptor).

Dewi Gandari yang sengaja menutup kedua matanya dengan tujuan sebagai rasa setia kepada suaminya yang buta yaitu Raja Drestarata. Dewi Gandari yang tetap setia pada dharma/kebaikan ini memang berbeda dengan para putranya yaitu Kurawa. Ironi memang tapi itulah fakta yang kita peroleh dari kisah Mahabharata.

Dan kita tidak paham apa alasan sesungguhnya Amien Rais mengatakan hal yang bertolak belakang dengan apa yang pernah dia ucapkan beberapa waktu lalu. Saya tidak ingin menyinggung hal itu karena semakin tua usia kata orang akan semakin banyak lupa. Jadi saya pikir dia sengaja membiarkan dirinya dalam kelupaan dan mulai membiasakan dirinya dalam lupa.  Jadi bila teringat janji jalan kaki ya harus segera dilupakan karena kalau sudah lupa maka tidak akan pernah ada rasa bersalah. Sederhananya, kita bisa membiasakan diri untuk melupakan diri dari janji yang pernah kita ucapkan agar rasa bersalah itu tidak pernah ada lagi dalam diri kita. Anda siap? Siap gak waras maksud saya hahahaha… Membiasakan diri hidup tidak waras akan memudahkan kita lupa pada janji. Saya jamin itu, silahkan dicoba wkwkwkwk…

Ada baiknya bagi Amien Rais dan orang-orang yang berada di sekitarnya agar semakin yakin dengan kebenaran dari lupa. Filsafat Jawa ada yang menyatakan “mikul dhuwur mendhem jero”. Ini berarti meletakkan tinggi atau menghormati para pemimpin (mikul dhuwur). Dan menyimpan kesalahan para pemimpin secara rapi (mendem/menanam, jero/dalam..menanam dalam-dalam). Maksud dari filsafat ini adalah setiap pemimpin itu sebaiknya diberitakan yang baik-baik, dan kesalahan para pemimpin jangan disiarkan ke khalayak ramai. Akan tetapi seringkali filsafat itu dimanfaatkan dengan tidak benar. Para pemimpin memanipulasi filosofi agung demi kepentingan dirinya sendiri.

Filosofi ini dimaksudkan untuk selalu menghormat kepada orangtua dan pemimpin, namun filosofi ini juga tidak mengijinkan kita untuk membutakan diri dalam menilai perbuatan orangtua dan pemimpin. Para sesepuh atau orang tua dan pemimpin juga dituntut sama yaitu setia pada kebenaran, kebaikan dan keteguhan hati dalam menjalankan kewajiban.  Malah  justru yang tua dan pemimpin dituntut lebih dalam mengaktualisasikan budi pekerti luhur karena mereka adalah suri tauladan bagi banyak orang.

Lha Amien Rais serta pemimpin dari bani nyinyirun?

Ada baiknya kita melihat dari sisi lain, bahwa kita juga harus paham dan mengerti bahwa orangtua yang tidak memiliki budi luhur disebut tuwa tiwas lir sepah samun yang bermakna orangtua yang tidak ada guna dan makna sehingga tidak pantas ditauladani. Pemimpin yang tidak memiliki budi luhur juga bukan pemimpin.

Nah, Dewi Gandari membutakan dirinya atau menjadikan dirinya seperti orang buta adalah agar dia bisa merasakan susahnya orang yang tidak bisa melihat. Lha kalau ada orang yang membutakan dirinya agar tidak lagi melihat nilai kebenaran, itu pada posisi yang mana kalau kita ingin memberi rasa hormat?

Jika saya melihat sepak terjang KPK sejak berdirinya, ini saya melihat bahwa bangsa ini sedang  “menawa manungsa iku pancen wajib ihtiyar, nanging pepesthene dumunung ing astane Pangeran Kang Maha Wikan”. Maksudnya adalah bahwa manusia itu memang wajib berusaha , namun kepastian berada pada kekuasaan Tuhan Yang Maha Mengetahui”. Maksud saya, membubarkan KPK itu jangan dilakukan karena KPK adalah rekan terbaik dalam memberantas korupsi. Namun membubarkan DPR itu lebih baik karena Fahri Hamzah pernah berkata kita ini miskin. Jadi kemiskinan kita atau negara ini bisa lebih ringan jika sudah tidak lagi memberi makan pada tukang tidur Senayan.

Terkait dengan pernyataan Amien Rais tentang pergantian pimpinan KPK, ini sebenarnya ucapan dari orang frustasi dan gagal berlogika cerdas jika bukan dianggap sebagai sampah. Dia tidak menyadari bahwa bangsa ini sedang berusaha menuju lebih baik, namun bila memang akan diganti ya saya akan mencoba melamar sebagai komisioner KPK dan akan saya minta anggaran ke pemerintah untuk membangun penjara baru hunian koruptor. Lokasi yang saya pikir tepat adalah di sekitar Pos Lintas Batas Negara. Lumayan untuk menarik devisa dengan menjadikan penjara itu sebagai tujuan wisata. Para koruptor boleh dikunjungi dan dilihat seperti kita lihat pasien ICU yang dibatasi kaca. Tapi dilarang melempar pisang dan kacang!!!

Karena ndeso itu melihat koruptor dari balik kaca dan mencoba memberi pisang dan kacang.

Atau mungkin saya akan meminta pemerintah untuk mengganti hukuman penjara dengan kerja paksa. Para koruptor ini wajib bekerja di lokasi-lokasi pembangunan infrastruktur tanpa bayaran. Kejam? Lha memang siapa yang memulai perang ini? Para koruptor atau rakyat? Siapa yang menjadi sebab kecelakaan tunggal di jalan? Oli Fadli Zon atau penerangan yang remang-remang? Kalau karena penerangan yang remang-remang ya tolong dipahami itu duit lampu sudah disulap jadi oli mungkin bermerk Fadlizooon.

Penutup

Ide pergantian pimpinan KPK ini harus diimbangi dengan pergantian seluruh tukang tidur di Senayan. Saya pikir itu cukup layak. Rakyat Indonesia akan setuju bila Fahri Hamzah dan Fadli Zon digantikan dengan orang yang lebih mampu bekerja. Hanya saja saya meragukan hal ini karena sejauh ini Gerindra dan PKS adalah produsen kata-kata. Mungkin Surya Paloh bisa menjawab hal ini. Tapi saya juga meragukan komitmen Surya Paloh dan Nasdem tentang pemberantasan korupsi. Karena suara Surya Paloh dan Nasdem juga senyap terkait Panitia Susah Kawan Para Koruptor (Pansus KPK).

Demikianlah. Wassalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: