Prasangka Buruk Sebagai Ibu dari Kebohongan

Prasangka, sebuah kata yang penuh arti magis ini sering terucap dalam percakapan kita sehari-hari. Terkadang dengan prasangka, kita menjadi mudah terbawa perasaan alias baper. Kadang pula kita bisa mengatasinya selintas. Dan pada tahap tertentu, sebuah prasangka dapat berkembang menjadi susunan pemikiran, sebuah prasangka mampu mengatur irama untuk membawa logika agar tersesat. Hingga pada akhirnya prsangka dapat berkembang menjadi sebuah perbuatan.

Prasangka, lebih sering menimbulkan perasaan ekslusif seperti menganggap dirinya adalah ahli surga, atau justru dia menuduh orang lain sok menjadi ahli surga dan sebagainya. Kondisi demikian itu tak lebih karena kurang bergaul dengan budaya lain dan mengenal orang dari budaya tertentu.

Pernahkah kita menyadari bahwa kita terjebak dalam prasangka?

Pernahkah kita sibuk merangkai semua fakta yang tercecer, kesana kemari mencari dalil agar benar? Pernahkah kita melakukan itu agar sesuai dengan prasangka yang sudah membentuk susunan pemikiran? Lalu pada akhirnya ketika kita menemui satu kejadian atau seseorang kemudian kita susah membedakan mana fakta, mana data dan mana sejarah. Mungkin juga kita sudah kehilangan orientasi dan pada akhirnya membuahkan kebohongan baru. Kebohongan yang lama ditutupi atau disamarkan dengan kebohongan baru dan begitu seterusnya.

Lalu ketika seseorang bertanya “apakah masakan ini bernama rawon?”

Kita menjawab : “ bukan, aku memasak daging sapi berbumbu kare dengan sedikit tambahan kecap”.

Seseorang berkata bahwa orang sebelah adalah ahli surga. Sedikit-sedikit dosa, sedikit-sedikit haram. Sebenarnya orang itu yang belum mampu beradaptasi dengan dunia baru dalam komunitas yang baru saja ditemui. Atau mungkin orang itu telah terjebak dalam doktrin yang salah? Kita tak mungkin menilai apalai menuduhnya.

Sebagai penutup, ada sebuah pesan dari orang bijak bahwa kita jangan memandang buruk dari apa yang diucapkan oleh seseorang kepada kita, sedangkan ucapan itu masih bisa diberi makna yang baik oleh kita.

Ndeso itu ketika kita mengira ada gajah yang doyan makan ikan teri.

http://www.imgrum.org/media/1066681285639770282_1798056891
http://www.imgrum.org/media/1066681285639770282_1798056891

Demikianlah. Wassalam

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: