Membagi Cinta, antara Aku, Engkau dan Dia

Sebagai konsekuensi logis dari kalimat syahadat adalah keyakinan ada pahala dan dosa. Ada kewajiban dan ada pula larangan. Mengenai hal ini, Nabi Muhammad juga menegaskan bahwa iman, islam dan ihsan adalah tiga hal yang terkait dan erat. Ketiganya tidak dapat dipisahkan.  Dan dalam rangka menyambung ketiganya, orang dapat berbeda metode lelaku/tirakat/amaliah dan pendekatan logisnya. Ini tak lain disebabkan oleh guru, lokasi dan pengalaman yang berbeda diantara manusia itu sendiri.

Kita kembali ke konsep cinta. Rabiatul Hadawiyah, dikenal sebagai pelopor atau pencetus pertama kata “cinta” dalam merajut hubungan dengan Tuhan. Dia mengenalkan bahwa penghambaan kepada Allah itu bukan karena pahala ataupun dosa, bukan pula karena ada surga dan neraka tetapi karena cinta. Beliau menyatakan hal ini dalam tiga hal yang dapat kita rasakan terkait dengan cinta. Yaitu ;

  1. keintiman
  2. kerinduan
  3. perasaan

Seperti yang dikatakan oleh beliau bahwa cinta berbicara dengan kerinduan dan perasaan. Mereka yang merasakan cinta saja yang dapat mengenal apa itu cinta. Cinta tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Tak mungkin orang dapat menjelaskan sesuatu yang belum dikenalnya. Atau mengenali sesuatu yang belum pernah digaulinya. Cinta tak mungkin dikenal lewat hawa nafsu terlebih bila tuntutan cinta itu dikesampingkan. Cinta bisa membuat orang jadi bingung, akan menutup untuk menyatakan sesuatu. Cinta mampu menguasai hati.

Lantas ada beberapa orang di sekitar kita berkata Rabiah mengingkari fitrah karena dia tidak menikah.

Sebelumnya kita harus mengerti hukum nikah pada dasarnya adalah jaiz atau bebas. Boleh nikah dan boleh tidak menikah. Bila kemudian menjadi wajib, sunah, makruh dan haram adalah karena niat dan latar belakang penyebab pernikahan. Artinya bila kemudian Rabiah dikatakan tidak termasuk umat Nabi karena tidak menikah, maka sebaiknya kita berdiri dengan prasangka baik. Bahwa Rabiah tidak menikah karena keinginan beliau untuk itu telah dikalahkan, telah ditutupi oleh besarnya cinta kepada Rabbnya.

Sehingga bila beliau memutuskan untuk menikah justru akan menjadikan situasi rohani beliau menjadi lebih buruk. Kita harus jujur bahwa kita memang tidak mengetahui secara pasti alasan beliau untuk tidak menikah dan kita berhenti berprasangka buruk.

Ndeso itu membiarkan prasangka berkembang menjadi sebuah teori lalu tersusun menjadi pemikiran dan kemudian melahirkan perbuatan.

Hari ini lebih baik bagi kita adalah melangkah dalam koridor hadits, ikutilah sunnahku berarti engkau mengikutiku, siapa yang mengikutiku berarti dia mencintaiku, siapa mencintaiku berarti dia mencintai Allah, Rabbnya, Tuhannya dan kekasihnya.

 

Demikianlah. Wassalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: