(Fiksi Silat – Bondan Lelana) Ki Cendhala Geni – 1

 

XXII Arabian Onenightstand

Awan tipis berarak seperti kabut putih yang perlahan terhembus angin pegunungan. Matahari yang mulai menghangatkan tubuh pun perlahan menanjak langit. Jalan setapak di tepi Sungai Brantas itu terlihat lengang dan terkadang tak jemu menerbangkan debu yang tertiup angin.

Seorang lelaki muda yang berperawakan sedang dan tidak begitu berotot terlihat menyusuri jalan setapak yang lengang itu. Tak lama kemudian dia melihat sebuah perahu kayu terguncang hebat di permukaan air yang tenang. Terdengar dentang senjata beradu dan sambaran angin yang begitu kuat berasal dari bilik kecil diatas perahu. Dia lantas melemparkan sebilah kayu seukuran betis orang dewasa ke bagian tengah sungai, lalu me-lompat dan menjadikannya sebagai jejakan untuk mencapai perahu kayu itu.

Sebatang pedang melesat keluar mengarah padanya sebelum kakinya mencapai bibir perahu. Menyadari bahaya yang mengancam, Bondan lekas menekuk kaki kirinya dan menggulingkan tubuhnya di udara kemudian mendarat di geladak perahu.

Satu sosok tubuh terpental keluar melewati pintu dan terjerembab jatuh di depan kaki Bondan. Bersamaan dengan itu seseorang melompat keluar dari bilik diiringi bentakan menggelegar.

”Enyahlah anak muda”! seru Prana Sampar, seseorang yang bertubuh kecil dengan rambut hitam sebahu dari lereng Gunung Wilis.

Bondan menjawab ”Tiba-tiba engkau mengusirku, ki sanak? Bukan satu kebetulan aku melewati jalan ini lalu melihat kalian bertempur.”

“Itu bukan urusanmu. Aku minta engkau segera pergi dari sini. Meskipun begitu aku lihat engkau memiliki ilmu lumayan tinggi. Pergilah!”

“Baiklah aku akan segera pergi. Tapi apakah tidak ada jalan lain selain kekerasan, ki sanak?”

“Diam! Apakah engkau ingin aku lemparkan ke sungai ini?”

Sementara itu tubuh yang terjatuh di depan Bondan sedikit beringsut dan agak sempoyongan dia mencoba untuk berdiri. Tetapi dia menepiskan uluran tangan Bondan yang mencoba untuk membantunya tegak berdiri.

“Minggirlah! Cepat pergi! Aku akan selesaikan urusan ini dengan setan itu” desis perlahan keluar dari bibirnya.

Bondan dengan menyimpan rasa penasaran tentang sebab perkelahian itu pun segera menjauhi kedua orang yang sedang bersabung nyawa. Sebenarnya dia ingin melerai kedua orang yang hampir lupa diri namun dia juga terkekang oleh rasa untuk tidak mencampuri urusan yang tidak dia ketahui. Melihat perkembangan sementara perkelahian itu memang tidak tampak sebagai pertarungan yang seimbang. Seseorang memang kalah beberapa tingkat dari lawannya. Bondan termangu-mangu karena dia sudah memperkirakan akhir dari perkelahian ini. Kebimbangan pun merasuki relung hatinya.

Orang itu mulai menata gerak persiapan untuk me-nyerang sambil berkata ” Sampar, urusan ini tidak akan berhenti di sungai ini. Engkau akan menyesali perbuatanmu itu!”

Sambil menggeram Prana Sampar pun menerjang maju mendahului lawannya sambil melontarkan serangkaian pukulan. Wiratama masih sanggup menghindar dan  tak kalah garang dia membalas serangan Prana Sampar. Wiratama terdorong oleh keinginan kuat untuk segera membinasakan lawannya. Sekejap kemudian kedua orang itu terlibat dalam serangan yang bergantian. Keduanya melepaskan pukulan dan tendangan yang sal-ing menyambar. Tubuh keduanya saling berloncatan untuk menghindari serangan demi serangan yang dilontarkan lawannya. Perahu kecil itu pun bergolak hebat.

Bondan Lelana segera melompat ke tepi sungai dan menyaksikan pertarungan dengan penuh perhatian. Luka-luka yang tidak bisa dikatakan ringan itu tidak menghalangi Wiratama untuk memberikan perlawanan sengit.

Rasa marah yang melanda dirinya seperti menambah satu kekuatan bagi Wiratama oleh karena itu serangannya meningkat berlipat ganda. Tubuh yang telah mengalami luka seperti membangkitkan tenaga yang tak terlihat oleh mata namun justru hal ini menjadikan dirinya dalam situasi sulit. Keseimbangan dirinya yang hilang karena gelap mata menjadi sebab pukulannya berkali-kali mengenai tempat kosong.

Kepalan tangan kiri Wiratama mengenai baju kanan Prana Sampar sekalipun hanya sebuah pukulan tangan kosong namun kepalan itu mampu merobek kain dan nyaris saja mengenai lambung Prana Sampar. Segera Prana Sampar melakukan tendangan balasan dan nyaris mengenai kepala Wiratama karena tubuhnya telah surut melompat ke belakang.

Tak lama kemudian keduanya berada di bibir perahu yang berseberangan. Wiratama menghentakkan kakinya ke bibir perahu agar tergoyang keras, Prana Sampar yang sedikit terhuyung dengan cepat melayang memanfaatkan dorongan perahu ke arah Wiratama sambil melepaskan serangan. Namun begitu, Wiratama masih bisa mengelak dan menangkis serangan Sampar. Hanya saja Sampar sedemikan cerdik mampu menangkap celah di diantara tangkisan Wiratama sehingga dirinya berada di bawah dada lawannya.

Satu pukulan telak yang disertai tenaga dalam menyusup di celah pertahanan dan mengenai dada Wiratama sehingga akhirnya terdengar keluhan tertahan. Wiratama terlontar melayang melewati bibir perahu.. Air sungai ternoda dengan warna merah ketika tubuh Wiratama menyentuh permukaan sungai. Tak lama kemudian tampak tubuh Wiratama telungkup tanpa ada gerakan lagi.

Menyaksikan Wiratama yang terpental jatuh ke air, Bondan lantas melayang secepat anak panah menyambar Wiratama yang terhanyut aliran sungai. Dengan menginjakkan tapak kakinya ke permukaan air, Bondan lantas melayang ke perahu  dan segera memeriksa keadaan Wiratama. Segera dia membuka baju yang menutup dada Wiratama dan nampaklah warna kebiruan berbentuk telapak tangan pada dada mayat Wiratama.

“Nampaknya orang ini terkena satu pukulan yang dilandasi tenaga luar biasa. Orang itu ternyata bukan orang sembarangan” gumam Bondan seolah bicara dengan dirinya sendiri sambil melirik Prana Sampar.

 

(bersambung)

####   Informasi   ####

Tulisan ini pernah tayang dengan alamat https://tansaheling.com/2017/04/03/fiksi-silat-bondan-lelana-pembunuhan-di-trowulan-1/ namun karena ada perubahan maka ditayangkan ulang dengan format baru. Tulisan ini akan dikemas dalam judul Ki Cendhala Geni yang sedang dalam pengerjaan untuk menjadi satu novel utuh.

 

Terima kasih. Wassalam

 

2 thoughts on “(Fiksi Silat – Bondan Lelana) Ki Cendhala Geni – 1

Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: