Tradisi Bubur Merah Putih (katanya) Bidah

Tradisi Bubur Merah Putih

Hampir di tiap kegiatan adat yang dilakukan orang Jawa, entah itu sekedar syukuran (bancakan) atau menyambut suatu kegiatan seperti membangun rumah, hampir selalu ada  makanan berupa bubur beras yang dicampur gula merah dengan parutan kelapa di atasnya.  Namun ada juga berbahan beras beras yang dicampur gula merah dan diatasnya diberi bubur tanpa rasa.  Dan berbagai bentuk penyajian lainnya dengan inti yang sama, ada bubur berwarna merah dan putih.

Belum ada data yang pasti tentang kapan dan dimana bubur merah putih mulai dikenalkan dalam masyarakat. Selama ini orang cenderung berkata bahwa tradisi itu adalah peninggalan budaya Hindu yang berkembang di masa lalu. Sebagian berkata bahwa tradisi itu sudah dikenal orang Jawa sebelum agama Hindu mulai memasuki setiap sisi budaya masyarakat. Hanya saja dalam tulisan ini, saya tidak membahas dari kapan dan dimana bubur merah itu untuk pertama kali dikenal. Pembahasan masalah itu sama susahnya dengan menjawab sebuah pertanyaan sejak kapankah makanan jenis onde-onde dikenal oleh manusia.

Dan mungkin bagi sebagian muslim akan berpikir bahwa bubur merah putih itu bagian dari bidah. Hanya saja saya tak ambil pusing dengan tudingan bidah semacam ini karena kita akan berbicara inti pesan dari sebuah simbol. Berbicara tentang kulit tidak akan pernah ada selesainya dan berdebat tentang kulit sama halnya membuang waktu yang semestinya bisa maksimal saya manfaatkan untuk ngopi bareng kawan namun menjadi terbuang karena membahas kulit bubur. Dan saya hanya cukup menjawab tudingan bidah itu dengan : bersedekah ke tetangga dengan biaya termurah adalah membuat lalu berbagi bubur merah putih sebagai ungkapan rasa bersyukur. Saya katakan termurah karena tidak semua orang mampu menyembelih kambing.

Namun lebih dari sekedar biaya murah, tentu ada makna di balik warna merah dan putih yang terungkap dari bubur itu.

1058blood_cells

Merah biasa kita pahami sebagai simbol warna darah. Almarhum Gombloh dalam syair lagu Gebyar-Gebyar menuliskan “ merah darahku, putih tulangku bersatu dalam angan-anganku”. Tentu saja maksud dari beliau adalah angan-angan adalah sebuah bagian dari rencana yang hanya dan akan terwujud bila ada kegiatan untuk meraihnya. Kegiatan ini sudah pasti akan melibatkan tubuh dan di dalam tubuh kita ada darah dan tulang.

Dengan warna merah pula, itu dapat dijadikan sebagai lambing tentang usaha yang dilakukan akan lebih keras lagi dilakukan. Warna merah merupakan lambing semangat yang masih menyala untuk memperbaiki keadaan. Bukan sekedar warna merah jelita mesra merona-rona. Bukan sekedar itu saja. Sesekali mari kita coba merenungi hidangan bubur merah putih dengan satu pikiran bahwa merah adalah darah yang mengalir. Dan selama darah masih mengalir dalam tubuh kita maka tak sepantasnya kita menyerah dengan keadaan.

Jika kita berpikir bahwa itu bidah, saya hanya dapat mengatakan setiap ciptaan Tuhan yang tersebar di setiap jengkal alam semesta adalah ilmu. Tidak ada yang sia-sia termasuk bubur merah putih.

tulang-ekor

Dalam konteks agama Islam ketika berbicara tentang kematian maka tulang sulbi/tulang ekor adalah bagian yang tidak akan hancur oleh tanah. Singkatnya, tulang ekor disimbolkan dalam warna putih dan itu menjadi sebuah isyarat atau pertanda bahwa pada suatu saat akan tiba waktunya bagi kita untuk mati. Dan ketika kita dibangkitkan, maka tulang itulah yang menjadi penyusun dasar seluruh tubuh kita. Bukankah proses pembenihan manusia juga berawal dari sela-sela tulang sulbi dan tulang dada? Sehingga jika ada orang yang membuat lalu berbagi bubur merah putih sewajarnya kita melihatnya bahwa beliau sedang mengingatkan pesan untuk selalu bersyukur dan mengingat kematian. Susahnya kalau kita memandang bubur merah putih itu sebagai bidah. Tapi apa daya  itu hak sebagian orang yang mungkin memang baru berbicara tentang kulitnya saja.

Di sisi lain, warna putih pula menjadi media untuk mengungkapkan kepasrahan tingkat tinggi dan kebersihan hati. Bahwa orang yang membuat bubur merah putih itu sedang berusaha membersihkan dirinya. Entah dari kesalahan yang pernah dilakukan atau sekedar menolak bala atau sebuah harapan agar kita berkenan untuk mendoakan kebaikan bagi dirinya. Terlepas dari keyakinan yang beliau anut. Tidak ada salah bagi kita yang muslim untuk mendoakan kebaikan bagi saudaranya sekalipun berbeda keyakinan.

Akhir kata, jika ada yang bertanya tentang dalil yang menguatkan kehadiran bubur merah putih dalam setiap kegiatan.  Maka jawaban saya adalah pertanyaan yang salah sepatutnya ditanggapi dengan jawaban yang salah. Anda mau bersyukur dengan berbagi bubur itu boleh, dengan kambing guling juga tidak dilarang, dengan membaca doa pun diijinkan.

Kesimpulan : setiap karya manusia sejatinya adalah wujud lain dari penciptaan yang dilakukanNya.

 

Demikianlah. Wassalam

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: