(Fiksi Silat – Bondan Lelana) Ki Cendhala Geni – 2

ki CEndhala Geni

“Setan” desis Prana Sampar geram. Seseorang telah tiba-tiba ada di dekatnya dan menyaksikan perkelahian yang berujung pada kematian seorang prajurit Majapahit. Tentu kematian ini akan mengguncangkan Trowulan dan dengan begitu dirinya akan diburu seluruh pasukan Majapahit sampai ujung langit. Satu-satunya jalan adalah menghilangkan jejaknya dengan membunuh Bondan.

Mata Prana Sampar menatap tajam ke arah Bondan Lelana yang belum beranjak dari tempatnya duduk di sebelah mayat Wiratama.

Prana Sampar tak ingin ada yang menjadikan berita kematian Wiratama menjadi tersebar.

Tiga pasak kecil meluncur deras ke arah Bondan yang dengan sigap melenting ke samping untuk menghindari senjata rahasia itu.

”Ki sanak, apa urusanmu dengan senjata itu?” Bondan bertanya dengan nada ingin tahu.

“Anak muda, menjadi urusanku dengan membunuhmu karena perkelahian ini!” seru Prana Sampar.

“Ini bukan kesalahanku. Aku melihat perkelahian itu karena aku melihatnya. Dan engkau, ki sanak, jangan jadikan membunuh itu sebagai kebiasaan” Bondan menyahut sambil menjelaskan keadaan dirinya.

Waktu merayap tanpa dirasakan oleh kedua orang yang usianya tidak terpaut jauh itu. Matahari mendaki langit semakin tinggi dan meninggalkan riak-riak kecil yang bermain-main dengan angin yang menyapu lembut permukaan Sungai Brantas.

Prana Sampar segera melesat cepat serta mengayunkan sebilah keris ke arah Bondan Lelana. Bondan tidak merasa ada masalah atau kepentingan terhadap perkelahian ini. Dia memutuskan untuk menghindar dan hanya mengimbangi serangan lawannya. Prana Sampar semakin marah dengan cara Bondan meladeni gerakannya. Dia merasa telah diremehkan karena bagaimanapun Prana Sampar adalah anak muda yang mempunyai kelebihan dibandingkan dengan yang seusianya. Selain itu dia juga merupakan murid dari seorang yang pilih tanding di lereng Gunung Wilis.

“Hei, anak gila! Jangan bertingkah seperti kambing yang sedang bermain-main. Agar aku tak menyesal telah membunuhmu maka bertarunglah seperti laki-laki!”  Prana Sampar dengan geram menebaskan keris ke lambung Bondan.

Bondan tidak menyahut. Dia sadar sepenuhnya bahwa orang yang sedang menyerangnya ini benar-benar ingin menghabisi dirinya. Dan jika melihat luka di dada Wiratama maka tampaklah kekuatan sesungguhnya dari penyerangnya ini. Namun begitu Bondan belum memutuskan untuk melawan atau segera melepaskan diri dari perkelahian. Akhirnya untuk sementara ini dia ingin menjajaki bagaimana kemampuan bertarung dari lawannya ini.

Bondan yang sudah menduga arah serangan lantas menggeserkan tubuhnya. Prana Sampar sedikit terkejut dengan kecepatan Bondan namun hal itu semakin menjadikan dirinya murka. Lantas mengerahkan hampir seluruh kemampuannya menerjang Bondan. Keris Sampar dengan segera memburu Bondan seolah datang dari berbagai arah. Demikian hal itu hingga akhirnya Bondan memutuskan untuk meladeni serangan Prana Sampar agar dirinya tidak tersayat dengan keris yang mematuk seperti ular liar yang ganas.

Suara letupan kecil terngiang di telinga Sampar. Terkejut dengan serangan balik dari Bondan menjadikan Prana Sampar nyaris kehilangan ketenangan. Sebaliknya ketenangan yang ada dalam diri Bondan ketika menghindari serangannya dan kekuatan yang keluar dari letupan ikat kepala, justru menjadikan Sampar gelap mata serta semakin bernafsu untuk segera menghabisi anak muda itu.

Sampar memutar badannya serta menggetarkan kerisnya seperti angin puyuh. Bondan merasakan dorongan angin yang begitu kuat dari putaran keris Sampar, dia mulai menangkis dan sesekali membalas dengan kibasan udengnya.

Sedikit merendahkan tubuh untuk menghindari terjangan keris Sampar, Bondan segera membalikkan tubuhnya dengan melecutkan udengnya mematuk dada Sampar. Menyadari perubahan itu, Sampar menekuk tubuhnya ke belakang. Bagian atas yang terbuka segera dimanfaatkan Bondan untuk melancarkan tendangan dengan tangan sebagai tumpuan.

Terdengar benturan keras ketika Prana Sampar masih mampu menolakkan tendangan Bondan.

Karena tidak merasa ada masalah dengan lawannya itu, Bondan pun memikirkan cara untuk melepaskan dirinya dari serangan Sampar.

 

kisah sebelumnya https://tansaheling.com/2017/09/12/fiksi-silat-bondan-lelana-ki-cendhala-geni-1/

####   Informasi   ####

Tulisan ini pernah tayang dengan alamat https://tansaheling.com/2017/04/03/fiksi-silat-bondan-lelana-pembunuhan-di-trowulan-2/ namun karena ada perubahan maka ditayangkan ulang dengan format baru. Tulisan ini akan dikemas dalam judul Ki Cendhala Geni yang sedang dalam pengerjaan untuk menjadi satu novel utuh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: