Ortuku itu Ortumu,Ortumu ya Urus Aja Sendiri

Saya meyakini bahwa sebagian dari kita tentu sudah paham tentang pepatah mutiara seperti yang menjadi judul tulisan ini.

Beberapa orang memang membedakan antara orang tua mereka sendiri dengan mertua. Tentu saja mereka mempunyai alasan yang berbeda dengan sejumlah orang yang benar-benar tidak membedakan antara orang tua kandung dengan mertua.

Sebenarnya apa sih maksudnya? Bukankah mertua itu sama sekali tidak mengerti dan bahkan tidak ikut bersusah payah membesarkan menantunya? Bukankah mertua juga tidak mengalami suka duka kala menantu masih menjadi orang lain? Dan seterusnya…lalu kenapa ada yang ribut jika ada yang membedakan perlakuan bagi mertua dibandingkan dengan orang tua?

Dan bagaimana kedudukan mertua dalam hukum agama? Ya yang pasti saya tidak akan mengkaji hukum agama tetapi sebuah nilai moral tentang mertua.

Merupakan perintah agama adalah berbakti kepada orang tua. Lalu apakah juga wajib berbakti kepada mertua? Jika anda seorang wanita ya tentu anda wajib berbakti kepada mertua sebagaimana anda berbakti kepada orang tua kandung anda tanpa perbedaan. Rawat jika mereka sakit, jenguk jika mereka sehat dan sebagainya. Kedudukan mertua bukanlah objek pelengkap semata dalam kehidupan ini karena anda disebut menjadi seorang istri karena menikah dengan seorang anak dari satu pasangan. Mertua anda telah berperang penting dalam kehidupan anda. Caranya? Melalui orang yang anda nikahi. Jika anda mengingkari hal ini ya sederhana saja saya akan katakan bahwa anda termasuk orang yang ingkar nikmat. Mertua anda telah bersusah payah membesarkan anak lelaki/perempuannya lalu di saat mereka sudah tiba saatnya eh tiba-tiba anda mengabaikan peran mereka di masa lalu.

Dan salah besar jika anda berpikir tulisan ini menuntut anda membalas jerih payah mertua anda. Bukan sama sekali bukan seperti itu. Tulisan ini mengingatkan anda bahwa kedudukan mertua itu sama sebangun dengan kedudukan orang tua anda.

Jika anda seorang lelaki ya tentu anda wajib berbakti kepada mertua sebagaimana anda berbakti kepada orang tua kandung anda tanpa perbedaan. Rawat jika mereka sakit, jenguk jika mereka sehat dan sebagainya. Kedudukan mertua bukanlah objek pelengkap semata dalam kehidupan ini karena anda berada dalam kdudukan tertinggi di lingkungan keluarga kecil anda. Seorang lelaki akan menjadi contoh bagi anak-anaknya tentang bagaimana bersikap kepada orang tua kandung. Tiada padi yang dituai melainkan apa yang telah ditaburkan.

Tidak sedikit kenyataan yang berada di sekitar kita memang menyuguhkan keadaan yang berbeda dengan teori. Seorang suami dengan sadar membatasi istrinya untuk bergerak lebih jauh dalam merawat orang tua kandungnya. Atau sebaliknya, seorang istri bersikap seperti anak kecil ketika suaminya bergerak menuju kaki kedua orang tuanya. Salah satu pihak menuntut pihak lain untuk bersikap rawatlah orang tuaku sebagaimana engkau merawat orang tuamu, tetapi rawatlah orang tuamu dan urus mereka sendiri.

Dan apakah kita termasuk orang yang disebutkan dalam kalimat bergaris miring?

Dalam rumah tangga, sebuah kompromi dan toleransi akan menjadi kunci dasar menuju rumah tangga yang tenang dan ceria.

 

Demikianlah. Wassalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: