(Bondan Lelana) Ki Cendhala Geni – 3

 

”Ki sanak, siapapun dirimu, aku sama sekali tidak bermaksud mencampuri urusanmu. Aku hanya pengelana yang akan ke Trowulan” kata Bondan sambil meningkatkan serangan dengan ikat kepalanya disertai dengan pukulan yang bertubi-tubi bagaikan gulungan ombak di lautan. Bondan memutuskan untuk membalas serangan sambil menimbang kemungkinan untuk melepaskan diri dari Prana Sampar.

Tak menyangka akan datangnya serangan yang bergelombang dan bertubi-tubi ini Sampar pun melompat ke belakang.

“Baiklah, terima kasih ki sanak. Semoga engkau mendapat ketenangan” seru Bondan sambil meninggalkan perkelahian melompati rerimbunan semak dan berlari cepat menuju arah ke Trowulan.

”Kurang ajar! Anak ingusan sepertimu telah mencampuri urusan orang dan sekarang hendak kabur? Berhenti!”

Sampar mencoba mengejar namun kini dia menyadari bahwa anak muda ini bukan pemuda biasa. Prana Sampar bernafsu untuk membunuh Bondan yang dia khawatirkan akan menjadi sumber berita tentang tersiarnya kabar pembunuhan Wiratama.

Dengan begitu beberapa paku dilontarkan mengejar Bondan, namun Bondan hampir menghilang dari pandangan mata. Dalam waktu singkat, pemuda ini telah menghilang dari pandangan sekalipun Sampar yang sudah mengerahkan tenaganya untuk mengejar Bondan.

Serabut merah menggelayut di langit senja Trowulan. Beberapa rumah mulai memperlihatkan gemerlap pelita kecil. Malu-malu debu jalanan menyapa setiap derap langkah yang melintasinya. Bondan Lelana mengayunkan langkah kaki ke rumah Sela Anggara. Dalam ayunan langkahnya itu Bondan merasakan perasaan bersalah karena peristiwa siang tadi di tepi Sungai Brantas.  Dia berpikir bahwa jika saja dia tadi bergerak lebih cepat untuk melerai perkelahian maka tentu saja korban akan dapat dihindari. Namun di sisi lain, pakaian yang dikenakan oleh Wiratama pun memberikan tanda bahwa dia adalah prajurit yang sedang melaksanakan tugas.

Maka setiap bantuan yang diberikan Bondan pada saat perkelahian berlangsung dapat saja menjadikan diri prajurit itu terhina. Dan jika dia tidak membantu pun mungkin perasaan itu akan selamanya ada.

“Ah sudahlah, kejadian telah berlalu dan tak ada yang bisa aku lakukan untuk menghidupkan mayat tadi. Lagipula aku juga tidak tahu sama sekali dalam urusan apakah mereka menyabung nyawa” gumam Bondan dalam hatinya.

Malam itu Bondan merasakan ada sesuatu yang aneh di ibukota Majapahit. Setiap mata menaruh curiga kepadanya, sebuah pandangan mata yang tak pernah dia jumpai ketika menghabiskan masa kecilnya di ibukota kerajaan. Bondan mendapati satu keanehan bahwa banyak sekali penjaga yang melakukan ronda pada awal malam.

Perlahan mengetuk pintu, terdengar langkah kaki bergegas membuka pintu.

“Siapa?” terdengar suara seorang lelaki dari dalam ruangan.

”Aku Bondan” jawab Bondan dalam kehangatan. Lelaki muda seusia Bondan yang membuka pintu itu sedikit terkejut.

”Selamat datang saudaraku ” tersenyum lebar lelaki muda ketika melihat paras yang tak asing baginya. Dua orang bersaudara  ini lantas berpelukan penuh kerinduan. Setelah sekian puluh tahun terpisah karena berguru pada orang yang berbeda.

Bercengkerama layaknya dua jiwa yang kembali bersatu, tanpa mereka sadar fajar pun menampakkan diri di ufuk Trowulan.

“Oh kakang Sela, ada apakah di Trowulan saat ini? Setiap orang menatapku curiga” Bondan bertanya sambil meletakkan cawan.

”Hmmm..Beberapa hari yang lalu terjadi sebuah pembunuhan. Belum diketahui siapa pembunuhnya tetapi tentunya kematian seorang balamantri dengan tragis tentu mengguncangkan istana” suara Sela Anggara terdengar sangat pelan. Seolah dia khawatir terdengar oleh dinding-dinding yang bisa saja bertelinga.

”Pembunuhan itu dilakukan dari jarak yang cukup jauh. Sebatang paku tertancap di leher Mantri Rukmasara. Tubuhnya ditemukan dalam keadaan sudah membiru dan mulut yang berbusa,” Sela Anggara melanjutkan penjelasannya.

“Terlebih lagi pembunuhan terjadi ketika keadaan di istana sedang menghangat.”

Bondan pun meminta penjelasan lebih lanjut untuk kemudian keduanya terpisah karena Nyai Malini mendekati mereka dan menyuruh mereka agar segera beristirahat. Kedua anak muda ini lantas tersenyum dan terkenang betapa kasih Nyai Malini saat mengasuh keduanya di masa kecil. Lantas mereka berdua mohon diri memasuki bilik masing-masing untuk beristirahat.

 

Kisah sebelumnya : https://tansaheling.com/2017/09/29/fiksi-silat-bondan-lelana-ki-cendhala-geni-2/

2 thoughts on “(Bondan Lelana) Ki Cendhala Geni – 3

Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: