Lanjutan Api di Bukit Menoreh 397 – 1

Sejenak kemudian mereka menyadari bahwa perempuan yang mereka kenal dengan nama Ranti sebenarnyalah bukan sekedar seorang perempuan yang lemah.

Orang bertubuh tinggi besar itu kemudian meloncat surut dan menebar pandangan ke sekelilingnya. Ketiga orang lainnya pun serentak mengikuti kawannya. Kemudian mereka membentuk garis setengah lingkaran berhadapan dengan Rara Wulan. Agaknya mereka tidak mengetahui bahwa ada seseorang yang melakukan pengamatan dengan tajam di belakang mereka. Glagah Putih yang berada di belakang mereka itu lantas mengurungkan niatnya untuk menampakkan diri dan membantu Rara Wulan.

Lalu berkatalah orang yang rambutnya ubanan kepada orang-orang yang kembali ke halaman depan,” hei kalian orang yang merasa lebih suci dari kami, apakah kalian telah menyadari bahwa memang sudah sepantasnyalah perempuan ini dapat dibungkam selamanya? Apakah kalian telah menyadari bahwa kehadiran perempuan ini sebenarnyalah telah merusak tatanan serta bebrayan yang sudah kita lakukan selama ini?”

Tidak ada seorang pun yang menyahut ucapan orang ubanan itu. Sebenarnyalah mereka kembali ke halaman depan karena tertarik pada perkembangan yang terjadi. Mereka mengira perempuan itu akan menjerit ketakutan dan suara Nyi Kanthil akan semakin terdengar menyayat hati.

“Ingatlah tujuan dan maksud kalian sejak berada di rumah ini. Kalian dengan sadar telah menjadikan Pangeran Ranapati sebagai junjungan, lebih dari seorang Panembahan Hanyakrawati maupun Pangeran Jayaraga. Kalian meyakini Pangeran Ranapati lebih berhak atas tahta Mataram karena itulah kita sekarang berada di rumah ini untuk satu tujuan,” kata orang yang rambutnya ubanan kemudian,” lalu apakah kalian akan meninggalkan rumah ini begitu saja? Bukankah kalian telah mendengar janji Pangeran Ranapati jika kelak nantinya kalian akan meraih kamukten?”

Orang-orang yang berada di halaman itu kemudian saling berpandangan. Seorang dari mereka kemudian berkata,” kakang, kami menyadari tujuan kami sejak semula dan kami juga percaya janji Pangeran Ranapati. Tetapi perkataan kakang telah menyakiti hati kami dan untuk itulah kami tidak melibatkan diri dalam pertempuran dengan perempuan itu.”

Orang yang dipanggil kakang itu kemudian menatap dengan mata seakan-akan menyala pada sekelompok orang yang kembali dari belakang rumah.

“Agaknya perempuan iblis itu telah menaburi otak kalian dengan lidahnya yang berbisa. Sudahlah, aku dan ketiga kawan kita akan segera membunuh perempuan binal itu. Kemudian giliran kalian yang akan kami bunuh setelah kulit kalian terpisah dari daging,” kata orang yang berambut ubanan sambil mengeluarkan goloknya.

Sejenak kemudian orang itu  meloncat maju menebas mendatar goloknya ke lambung Rara Wulan. Melihat serangan yang cukup liar itu kemudian Rara Wulan meloncat surut dengan langkah panjang.

Dia tidak berhenti berkata-kata sambil terus mengacu goloknya ke dada Rara Wulan,” apakah kalian hanya diam saja menyaksikan pertempuran ini? Cepatlah bantu kami menangkap perempuan iblis ini. Selama ini kita telah tertipu karena sebenarnyalah perempuan iblis ini adalah petugas sandi Mataram.”

Beberapa orang tertegun mendengar ucapan orang yang dipanggil kakang itu. Agaknya orang itu termasuk pimpinan para pengikut Pangeran Ranapati yang berada di dalam rumah itu. Orang-orang yang berada di halaman itu termangu-mangu sejenak. Keraguan pun membersit dalam hati mereka.

Glagah Putih yang bersembunyi di balik pohon mangga yang besar agaknya menyadari bahwa beberapa pengikut Pangeran Ranapati mulai tercekam keraguan. Lalu dia melangkah perlahan menuju kerumunan orang-orang dan berkata,” marilah Ki Sanak sekalian, tidak ada salahnya kita melakukan pengamatan diri. Pangeran Ranapati saat ini telah memperoleh kedudukan sebagai Senapati Panaraga dan akan diwisuda sesuai dengan petunjuk Pangeran Jayaraga. Baiklah, ki sanak mengingat kembali tentang sanak kadang yang ditinggalkan. Ki Sanak belum tentu pasti meraih kamukten seperti yang dijanjikan oleh Pangeran Ranapati.”

Jantung para pengikut Pangeran Ranapati seakan-akan berhenti berdetak. Seoang lelaki muda tiba-tiba dating dan berjalan tenang diantara sela-sela kepungan keempat orang dari mereka. Sebelum mereka mendapatkan jawaban tentang keberadaan Glagah Putih, kini mereka seakan-akan merasakan darah mereka berhenti mengalir mendengar kata-kata Glagah Putih.

Lalu,”hentikan sesorahmu, anak muda! Aku akan membunuhmu terlebih dahulu baru kemudian perempuan binal itu,” kata orang yang ubanan itu kemudian,”nah, sekarang kalian telah melihat sendiri bahwa kedua orang ini adalah petugas sandi Mataram. Keduanya adalah iblis yang dikirim oleh orang tua yang dungu itu.”

Hampir saja Rara Wulan menyambar kening orang itu sebelum Glagah Putih menggamitnya. Kemudian,”tahanlah dirimu, Wulan. Mungkin ini kesempatan kita untuk membelah para pengikut Pangeran Ranapati,” desis Glagah Putih di dekat telinga Rara Wulan.

Tidak ada jalan lain bagi Rara Wulan selain menghela nafas panjang setelah mendengar rencana suaminya. Lalu,”baiklah, kakang. Aku akan mengikuti rencanamu selanjutnya. Tapi biarkan aku yang akan menyobek mulut orang ubanan itu.” Sambil tersenyum, Glagah Putih menganggukkan kepala perlahan.

Dalam pada itu, Ki Rangga Agung Sedayu telah mendapatkan ijin dari Ki Gede Menoreh untuk memulai pengembangan barak pasukan khusus.

“Ki Rangga, kita telah memulai satu pengembangan untuk barak pasukan khusus yang berkedudukan di Tanah Menoreh ini. Sebagai orang tua yang telah mendampingi angger selama ini, pengembangan pasukan khusus ini telah menjadi kebanggaan bagi rakyat Tanah Perdikan ini. Angger, ternyata telah memberikan arti yang sangat besar bagi orang tua yang serba sedikit telah mengenyam asam garam kehidupan,” Ki Gede Menoreh berkata perlahan sejenak setelah meneguk wedang sere dengan gula kelapa.

“Ah,” desah Ki Rangga Agung Sedayu kemudian,”Ki Gede, pasukan khusus yang semakin berkembang dan menjadi besar ini semata-mata merupakan jerih payah Ki Gede. Kehadiranku di tanah ini hanyalah seperti sebatang ilalang di sela-sela hamparan sawah yang membentang di Tanah Perdikan.”

Senyum kecil nampak mengembang dan wajah Ki Gede seperti bercahaya,”aku sudah menduga engkau akan menjawab seperti itu. Bukankah karena itu seorang Agung Sedayu lebih dikenal?”

Ki Rangga Agung Sedayu menundukkan kepala dan Ki Waskita yang kebetulan berada di pendapa pun tersenyum mendengar Ki Gede.

 

(bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: