(Bondan Lelana) Ki Cendhala Geni – 4

 

Ketika matahari mulai menggelincirkan ke barat, Bondan yang merasa sudah cukup beristirahat segera keluar dari rumah Sela Anggara. Dengan mengajak Gumilang Prakoso yang mahir dalam mengenali senjata, Bondan pun berencana melihat dari dekat kediaman Mantri Rukmasara. Dengan perjalanan kaki, kedua anak muda ini berbincang serius mengenai pembunuhan Mantri Rukmasara beserta putrinya. Gumilang Prakoso menduga bahwa latar belakang pembunuhan itu adalah karena Mantri Rukmasara menolak tuduhan mencuri hasil panen raya sekitar empat purnama yang lalu.

Lalu sang mantri meminta bantuan Ki Curik Kemba, seorang tokoh yang disegani di Karangploso, untuk membungkam mulut orang suruhannya. Kabar yang didengar Gumilang mengatakan bahwa sangat sedikit orang yang mampu mengalahkan Ki Curik Kemba yang terkenal dengan pukulan tangan kosongnya. Konon hantaman Ki Curik Kemba ini sanggup memecahkan batu karang dan melubangi besi yang tebal. Dan malang nasib Ki Curik Kemba yang justru terbunuh dalam pertarungan di kaki bukit yang terletak diluar Kademangan Wringin Anom oleh seseorang yang tidak dikenal.

“Lalu siapakah Andini itu, Gumilang? Aku mendengar nama itu disebutkan ketika pertarungan beberapa waktu lalu di tepi Sungai Berantas” Tanya Bondan.

“Oh, Andini adalah putri Mantri Rukmasara” jawab Gumilang.

Lantas panjang lebar dia menjelaskan bahwa Andini  berusaha diculik oleh pembunuh ayahnya. Namun upaya  pembunuh ini gagal karena teriakan Andini telah mengundang para pengawal asrama keputrian berdatangan mengepung penculiknya. Namun begitu rupanya orang itu tidak ingin dikenali maka dia mendaratkan dua batang pasak kecil ke tubuh Andini.

Peristiwa itu sempat diketahui oleh Wiratama yang dengan segera memanggil para pengawal. Dan Wiratama berhasil mengejar hingga akhirnya terjadi pertarungan di dekat padukuhan Watu Kenongo.

Bondan menceritakan kepada Gumilang Prakoso bahwa dia bertemu seseorang yang juga menggunakan paku sebagai senjata.

“Bondan, yang menarik dari serangkaian kejadian ini adalah kemungkinan kaitan peristiwa Mantri Rukmasara dengan kejadian perampokan yang belakangan ini sering terjadi di Wringin Anom.”

“Ah, apalagi ini? Bukankah Wringin Anom itu jauh dari sini?”

“Itulah yang masih diselidiki oleh para perwira termasuk paman Ken Banawa.”

Tak lama kemudian keduanya telah tiba di depan gerbang rumah Rukmasara. Keduanya dengan cepat menyeberangi jalan lalu melompati dinding dan segera berada di dalam rumah Rukmasara. Keduanya berkelebat cepat memasuki tiap ruangan laksana dua ekor burung walet. Dalam kehati-hatian mereka bergerak begitu cepat dan tanpa kegaduhan. Mata tajam Gumilang Prakoso melihat kemilau dibawah terpaan matahari. Benda ini berada di luar ruangan. Gumilang keluar melewati jendela yang terbuka, dalam sekejap sudah mencabut benda berkilau tadi.

Bondan yang mengetahui pergerakan Gumilang segera menyusul.

”Hmmm..sepintas benda ini serupa dengan yang aku jumpai di Watu Kenongo”.

“Oh benarkah?”

Bondan menganggukkan kepala tanpa menyahut pertanyaan Gumilang.

”Kita tidak bisa sembarangan menuduh. Hanya dua orang yang lihai menggunakan senjata ini. Lihatlah, benda ini nyaris seluruhnya tertancap ke dinding batu. Kekuatan yang mengagumkan” gumam Gumilang

Keduanya lantas meninggalkan rumah Rukmasara yang sudah tak berpenghuni karena larangan dari kepala pengawal khusus kotaraja. Bondan memutuskan untuk menginap semalam lagi di rumah Sela Anggara. Dia mencoba menerka arah perjalanan Prana Sampar berdasarkan keterangan Gumilang Prakoso. Semalam dia mencoba mencari tahu dari Ken Banawa, seorang senapati yang merupakan orang kepercayaan bibinya, Retno Ayu Indrawati.

Retno Ayu Indrawati keberatan jika keponakannya ini harus menempuh bahaya untuk menangkap Prana Sampar. Namun memberitahukan pada perwira  juga merupakan kesulitan tersendiri. Karena barang yang menjadi bukti pembunuhan telah dicabut oleh Gumilang Prakoso. Maka Bondan meminta bantuan kepada Sela Anggara untuk meyakinkan ibunya bahwa Bondan akan mampu menjaga dirinya. Tak ingin menyusahkan hati orang yang menyayanginya, Bondan menerima tawaran untuk ditemani oleh Ken Banawa, seorang perwira yang juga kepercayaan Nyi Retno Ayu Indrawati.

Ken Banawa mendapatkan keterangan dari petugas telik sandi yang melaporkan bahwa ada seorang petugas yang melihat orang dengan ciri-ciri seperti yang dimiliki Prana Sampar. Petugas sandi mengatakan bahwa Sampar telah berada di sekitar Alas Cangkring sejak 3 hari lalu. Mereka berdua  segera  melakukan perjalanan ke arah barat dengan menunggang kuda.

 

 

(bersambung)

Kisah sebelumnya :

  1. https://tansaheling.com/2017/09/12/fiksi-silat-bondan-lelana-ki-cendhala-geni-1/
  2. https://tansaheling.com/2017/09/29/fiksi-silat-bondan-lelana-ki-cendhala-geni-2/
  3. https://tansaheling.com/2017/10/15/bondan-lelana-ki-cendhala-geni-3/

One thought on “(Bondan Lelana) Ki Cendhala Geni – 4

Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: