Lanjutan Api di Bukit Menoreh 397 – 4

Sebenarnyalah Pangeran Ranapati telah kembali ke rumah yang ditinggalkannya. Sejenak ketika ia tiba di rumah yang disediakan Pangeran Jayaraga, utusan Mas Panji Wangsadrana telah memintanya untuk bertemu di pendapa kadipaten.

Meski belum banyak dikenal oleh prajurit yang sedang bertugas jaga, Pangeran Ranapati tidak menemui kesulitan memasuki regol kadipaten karena ditemani oleh utusan Mas Panji Wangsadrana.

“Pangeran, kita telah memasuki pusaran mendekati Pangeran Jayaraga. Sejauh ini usaha kita masih belum dapat dikatakan berhasil. Aku ingin mengingatkan, agar Pangeran mulai memberi bahan-bahan untuk mengaburkan pengamatan Pangeran Jayaraga,” kata Mas Panji membuka percakapan.

Setelah menatap mata Mas Panji, Pangeran Ranapati menundukkan kepala. Ia berkata dalam hatinya,”orang ini benar-benar gila. Justru akulah pendorong rencana agar Pangeran Jayaraga bersedia menjauh dari Mataram.”

“Lalu bagaimana penilaian kakang terhadap keadaan di sekitar Pangeran Jayaraga?” berkata Pangeran Ranapati.

“Aku telah memberi pendapat kepadanya untuk melakukan pergeseran senapati. Sementara itu Pangeran tidak perlu merubah jalur perintah yang telah ada,” kata Mas Panji. Kemudian katanya,”selain itu aku telah menemukan Ki Kebo Langit dan Eyang Kalayudha. Mungkin Pangeran pernah mendengar nama-nama itu?”

“Ki Kebo Langit?” desis Pangeran Ranapati keheranan. Keningnya berkerut lalu katanya,” orang yang telah kalah dari Agung Sedayu. Dan kau menaruh harapan kepada orang itu.”

“Kemampuannya sudah pasti akan mengalami peningkatan sejak kekalahannya dari Agung Sedayu,” berkata Mas Panji.

“Dan Agung Sedayu sudah barang tentu tidak akan berdiam diri dalam masa yang panjang itu,” gemeretak gigi Pangeran Ranapati terdengar ketika ia mengatupkan bibirnya.

“Baiklah, kita tinggalkan barang sejenak orang yang bernama Ki Kebo Langit itu. Sekarang aku minta Pangeran mengamati orang yang bernama Kalayudha. Di pesisir selatan Madiun, orang itu sudah cukup tua dan telah dikenal sebagai pengembara pinunjul dan berkemampuan tinggi,” kemudian Mas Panji melanjutkan,”dahulu ia sempat menjadi senapati Tumenggung Prabadaru. Akan tetapi ia kemudian meninggalkan kesatuannya beberapa saat sebelum pecah perang Pajang.”

“Lalu?” tanya Pangeran Ranapati.

“Ia telah bertemu denganku dan bersedia membantu perjuangan Pangeran,” jawab Mas Panji.

“Apakah ia mempunyai pamrih dan ingin mengadakan perjanjian denganku? Atau ia mempunyai maksud yang lain dengan tawaran bantuan itu?” Pangeran Ranapati dengan nada tinggi.

Lalu Mas Panji menjawabnya dengan datar,” sudah barang tentu ada yang ia inginkan.”

“Sebutkan!” desak Pangeran Ranapati yang mulai kehilangan kesabaran.

“Ia berpesan kepadaku agar anaknya dapat diberi surat kekancingan untuk Pucangombo sebagai Tanah Perdikan. Surat kekancingan itu juga memasukkan pesisir selatan Sudimoro. Namun sebelumnya, ia juga ingin anaknya dapat berada dalam deretan senapati yang akan dipimpin Pangeran,” kata Mas Panji.

“Gila! Permintaan gila yang pernah aku dengar!” seru Pangeran sambil meletakkan kedua tangannya diatas kepala. Sesekali ia mengusap mukanya seolah ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia tidak salah mendengar. Ia mengerti jika wilayah yang diminta Eyang Kalayudha ini sangat luas. Ditambah permintaan bagi anaknya agar dijadikan sebagai senapati pilihan.

“Aku belum melihat kemampuan Eyang Kalayudha dan anaknya, Mas Panji,” berkata Pangeran setelah gejolak dalam dadanya mulai mereda.

“Pangeran jangan melihatnya sebagai potongan kecil begitu saja. Penilaian yang lebih mendalam dapat kita lakukan. Jika mereka memang dibutuhkan menghadapi Mataram maka perjanjian itu dapat saja terjadi.”

“Baiklah, aku bukanlah ksatria. Aku akan siapkan jalan keluar begitu kita menduduki Mataram.”

Untuk beberapa saat mereka terdiam. Bayangan tahta Mataram seakan-akan terpapar jelas memenuhi gelapnya malam. Masing-masing tenggelam dalam gambaran yang tidak terungkap untuk sementara waktu.

Tiba-tiba seorang perwira muda berlari memasuki regol halaman. Para penjaga regol keheranan dan mereka juga tidak menghentikan perwira itu.

“Kakang Mas Panji,” kata perwira itu terengah-engah. Nafasnya terdengar seakan-akan berebut keluar dari lubang hidungnya.

Serentak Pangeran Ranapati dan Mas Panji Wangsadrana berdiri dan melangkan menuju tangga pendapa.

” Hei ada apa?” bertanya Mas Panji lalu ia menuruni tangga pendapa.

Perwira itu diam sejenak sekedar mengatur pernafasannya. Kemudian katanya,”aku tidak melihat kegiatan apapun di rumah Pangeran Ranapati.”

Mas Panji menoleh ke Pangeran Ranapati yang keheranan mendengar perwira muda itu.

“Katakanlah,” kata Mas Panji. Lantas diceritakan olehnya bahwa ia tidak melihat orang-orang yang biasa berada di dalam rumah itu. Ia menuturkan tidak ada orang yang berjaga di regol halaman rumah, selain itu juga tidak terlihat lampu minyak menyala dari dalam rumah.

Dengan mata terbelalak, Pangeran Ranapati terdiam sesaat. Ia merasakan seakan jantungnya berhenti berdetak. Dalam hatinya, ia berkata,” Orang-orangku pergi sudah tentu dengan sebuah landasan nalar. Akan tetapi mereka itu orang-orang yang dungu.”

“Marilah Pangeran. Kita harus melihat keadaan rumah Pangeran,” kata Mas Panji seperti menyadarkan Pangeran Ranapati dari lamunannya. Mas Panji membawa satu dua pengawal di rumahnya lalu berlima mereka menaiki kuda ke rumah Pangeran Ranapati.

Rumah itu dalam keadaan gelap gulita. Pangeran Ranapati memacu kudanya lebih cepat seakan-akan terbang diatas jalan. Sejenak kemudian ia meloncat turun dari kuda dan berlari ke ruang dalam. Sesekali berteriak memanggil nama pengikutnya. Ia mengumpat dengan kata-kata kasar dan kotor ketika tidak ada satu orang pun menjawabnya.

“Kita nyalakan lampu,Pangeran,” kata Mas Panji yang sudah berada dalam ruangan. Satu lampu kemudian menyala dan Mas Panji memeriksa satu satu bilik yang ada di dalam rumah.

Seorang pengawal yang telah menyalakan lampu terkejut ketika sebuah dingklik terbang di atas kepalanya. Agaknya Pangeran Ranapati tidak mengekang dirinya lagi hingga kemudian ia menumpahkan amarah seperti topan prahara.

Dalam pada itu, terdengar seseorang dari dalam bilik berseru kepadanya,”Pangeran, ada empat orang terikat disini!”

Pangeran Ranapati dengan langkah panjang menghampiri pemilik suara. Ketika ia memasuki bilik maka ia melihat empat orang kepercayaanya dalam keadaan terikat kaki,tangan dan mulut mereka.

“Dasar iblis! Siapa yang melakukan ini?” bertanya Pangerang dengan mengguncang tubuh salah satu pengikutnya. Dengan mengulang pertanyaan, Pangeran Ranapati melepaskan buntalan kain yang menyumpal mulut pengikutnya.

“Ranti,pangeran” kata pengikutnya menjawab pertanyaan Pangeran.

“Ranti?” kata Pangeran bernada tinggi.

“Siapakah Ranti, pangeran?” Mas Panji bertanya dengan kerut berkening. Seingatnya hanya ada satu perempuan di dalam rumah yaitu Nyi Kantill.

“Ya. Ranti. Perempuan yang baru saja tiba di rumah ini beberapa hari sebelum pemilihan senapati. Aku tidak mengira ia dapat mengalahkan keempatnya,” jawab Pangeran Ranapati dengan bertolak pinggang dan menundukkan kepala.

“Kalian benar-benar tidak berguna. Dasar dungu!” Pangeran Ranapati memaki-maki sebisanya sambil memukuli empat pengikutnya.

“Ampun pangeran!” kata para pengikutnya.

“Cepat kejar mereka. Jika perempuan itu ternyata petugas sandi Mataram, maka akan aku bunuh kalian semua!” geram Pangeran Ranapati dengan tatap mata yang menyala-nyala.

Serentak keempatnya bangkit dan mengambil kuda di halaman belakang.

“Kakang, aku dengan sebagian orang akan menuju ke barat. Lalu mengambil arah kanan setelah simpang empat,” kata Pangeran Ranapati.

Sejenak kemudian sembilan orang itu telah keluar dari halaman rumah Pangeran Ranapati.

Pada malam Rara Wulan bertempur dengan keempat pengikut Pangeran Ranapati, Glagah Putih berusaha menyentuh perasaan serta nalar orang-orang yang ada di halaman depan.

“Mungkin saja wujud wadag Pangeran Ranapati memang meyakinkan bila ada yang percaya pengakuannya. Akan tetapi jika Ki Sanak sekalian berkenan menggunakan penalaran, aku kira Ki Sanak sekalian akan !enolaknya,” berkata Glagah Putih.

“Anak muda, memang mudah berkata seperti itu. Tapi kau tidak mengalami sendiri segala kesulitan yang kami alami di tanah kami,” berkata seseorang dari mereka yang mulai mengepung Glagah Putih dan Rara Wulan.

Glagah Putih berusaha tersenyum, lalu,” Ki Sanak, segala kesulitan yang kita hadapi bukanlah karena selalu disebabkan orang lain. Akan tetapi kita yang lebih dahulu melakukan penilaian. Kami berdua adalah pengembara hingga tlatah Demak. Kami telah melihat satu pedukuhan berada dalam kekeringan. Lalu ki bekel bergerak untuk mengangkat air dari sungai terdekat, maka kemudian sawah di pedukuhan itu mendapatkan air yang cukup.” Glagah Putih mengenangkan sebuah pedukuhan ketika berdua melakukan pengejaran terhadap Ki Saba Lintang.

“Nah, akhirnyalah kedua orang ini sudah mengakui jika mereka ternyata orang-orang suruhan dari Mataram! Marilah, kita tangkap keduanya lalu segalanya terserah Pangeran Ranapati!” teriak orang yang berambut ubanan itu kepada para pengikut Pangeran Ranapati yang berada di sekelilingnya. Meski demikian, tidak ada satu orang yang beringsut dari tempatnya. Agaknya orang-orang ini diam-diam menyetujui ucapan Glagah Putih.

“Persetan dengan kalian. Aku akan menangkap keduanya sendiri,” kata orang yang beruban lalu,” kalian semuanya. Dengarkan aku. Kalian telah meninggalkan kampung halaman, sanak kadang dan keluarga untuk mengikuti Pangeran Ranapati. Malam ini Pangeran Ranapati telah berhasil mendapatkan pijakan demi kehidupan kalian. Anan tetapi, kalian telah berbelok arah. Lelaki dan perempuan ini sebenarnya petugas sandi Mataram.”

Kemudian ia mengedarkan pandangan ke setiap wajah kawan-kawannya,katanya,” malam ini kalian akan kembali ke keluarga kalian sebagai seorang pengecut yang tidak berani menjalani hidup yang keras. Pangeran Ranapati justru mengajak kita untuk tidak tergesa-gesa meraih apa yang telah menjadi mimpi kita selama ini. Kalian telah mengetahui kemampuan Pangeran Ranapati yang luar biasa sejak kalian berada di rumah sendiri. Kalian juga telah mengetahui otak Pangeran Ranapati yang cemerlang dan sekarang kalian akan pergi begitu saja mengubur mimpi dalam-dalam.”

“Tidak seperti itu, Ki Sanak. Aku kira Pangeran Ranapati memang cerdik dengan mengumpulkan orang-orang yang tidak dapat lagi menggunakan nalarnya. Jawablah pertanyaanku, Ki Sanak. Janji apa yang telah diberikan Pangeran Ranapati kepadamu? Apakah menjadi seorang demang atau seorang panji atau mungkin kedudukan tumenggung? Lihatlah diri kalian sendiri!” berkata Glagah Putih.

“Atau mungkin kalian dijanjikan sebuah tanah perdikan? Akan tetapi, apa yang dapat kalian lakukan apabila Mataram datang kemari dengan pasukan segelar sepapan dan menumpas habis Pangeran Ranapati dan pengikutnya? Lihatlah Pati dan Demak. Dan mungkin sebentar lagi Panaraga akan menjadi karang abang dan entah dimana kalian akan dikuburkan,” Glagah Putih melanjutkan ucapannya penuh kesungguhan. Sebenarnyalah ia berharap dapat mengembalikan kesadaran orang-orang yang terlanjur mengikuti Pangeran Ranapati. Selain itu, Glagah Putih juga tidak ingin terjadi benturan kekerasan yang lebih luas jika seandainya kelak Pangeran Ranapati benar-benar ingin menduduki tahta Mataram.

“Kau benar-benar ingin mati, anak muda. Kau hina kami sebagai orang-orang yang dungu,” geram lelaki itu sambil mengacungkan goloknya kea rah Glagah Putih.

Glagah Putih masih tegak berdiri kemudian tiba-tiba lelaki ubanan itu meloncat-loncat seakan-akan kakinya menginjak bara api. Tanah yang dipijaknya meletup dan seberkas api telah menjilat telapak kakinya.

“Anak setan! Rupanya engkau bermain dengan sihir di hadapan kami!” seru lelaki itu dengan menahan kesakitan oleh panas jilatan api.

“Marilah. Aku akan membunuhmu tanpa bergerak dari tempatku berdiri,” berkata Glagah Putih sambil mencoba tetap menjaga segala kemungkinan. Lelaki ubanan itu hanya menunjukkan wajah bersungut-sungut dan bergumam yang tidak jelas didengar.

“Lihatlah diri kalian. Lihatlah sekeliling kalian. Amatilah keinginan kalian,” kata Rara Wulan. Lalu ia bergeser ke depan mendekati orang-orang yang mulai dihinggapi keraguan,”jika Pangeran Ranapati berhasil meraih keinginannya, apakah kalian akan dibawa serta dengannya? Sedangkan malam ini ia telah menjadi seorang senapati namun kalian ditinggalkan di rumah ini dengan sebuah janji.”

Rara Wulan masih melanjutkan,”tanyakanlah kepada Nyi Kantil. Nyi Kantil telah dijanjikan untuk menjadi seorang pendamping, namun sekarang ia tinggalkan begitu saja.”

Beberapa orang menganggukkan kepala lalu seorang diantara mereka berkata,”baiklah, Nyai. Sekarang katakan apa yang harus kami lakukan. Kami semua tidak mempunyai tempat tinggal di Panaraga.”

Sejenak Rara Wulan bertukar pandang dengan Glagah Putih. Glagah Putih menanggapi isyarat itu kemudian melangkah mendekati Rara Wulan, lalu katanya,” aku akan mengantar kalian keluar dari kota ini dan menempatkan kalian di satu rumah yang cukup jauh dari sini.”

“Marilah Rara Wulan. Kita selesaikan ini,” bisik Glagah Putih. Rara Wulan menganggukkan kepala dan secepat tatit di langit, ia melompat sebelah menyebelah dengan Glagah Putih. Ia menyerang dua orang penyerangnya sebelum mereka mempersiapkan diri.

Nyi Kantil dengan mata terbelalak menyaksikan kemampuan Rara Wulan, katanya dalam hati,”perempuan ini bisa membunuhku kapan saja kalau dia mau.”

“Dasar licik,” kata seorang dari mereka. Tiba-tiba saja mereka merasakan tubuhnya lemas lalu terhuyung roboh. Dua orang yang lain pun telah roboh setelah Glagah Putih memukul tengkuk mereka dengan kecepatan yang tidak mereka mengerti.

“Bantulah kami. Ikat kaki, tangan dan mulut mereka,” perintah Glagah Putih kepada orang-orang yang ingin melepaskan diri dari Pangeran Ranapati. Sejenak kemudian keempat orang itu telah terikat dan dipindah ke salah satu bilik di dalam rumah itu.

“Kita akan berjalan terpisah. Kelompok pertama akan bersamaku. Kelompok kedua berjalan bersama Ranti,” berkata Glagah Putih.

Sebenarnyalah ia akan membawa orang-orang itu ke rumah Madyasta terlebih dahulu. Untuk kemudian mereka akan dipindah ke rumah yang pernah ditempati Sumbaga dan Sungkana.

Tubuh Nyi Kantil pun tergetar ketakutan jika Rara Wulan akan membalas perlakuannya selama di rumah Pangeran Ranapati. Rara Wulan yang sekilas melihat keadaan Nyi Kanthil lalu menghampirinya dan katanya,”sudahlah, Nyi. Kita lupakan apa yang telah terjadi. Marilah, sekarang Nyi Kantil harus bergegas keluar dari kota ini sebelum Pangeran Ranapati kembali kemari.”

Perasaan gugup menyelubungi Nyi Kantil akan tetapi ia tetap berusaha melangkahkan kaki dengan tegar. Rara Wulan merangkulnya dan menuntunnya. Nyi Kantil seperti merasakan embun sejuk membasahi jantungnya, dengan isak tertahan ia melangkahkan kakinya mengikuti orang-orang yang berjalan terlebih dahulu.

Glagah Putih telah membagi orang-orang itu menjadi dua kelompok. Ia sendiri yang memimpin kelompok yang berjalan terlebih dahulu, kemudian Rara Wulan berada di kelompok kedua dalam jarak yang tak jauh.

Tanpa banyak rintangan, kelompok pertama telah memasuki pedukuhan kecil itu kemudian langsung menuju rumah Madyasta.

Kelompok kedua berhenti di luar pedukuhan, Glagah Putih sengaja melakukan itu sambil melakukan pengamatan lebih lanjut.

Madyasta yang masih terjaga di lincak bambu dapat menangkap suara orang melangkah.

“Apakah suara kaki Glagah Putih? Mengapa jadi begitu banyak langkah yang terdengar?” gumam Madyasta seorang diri. Ia berjalan mengendap mendekati regol halaman.

“Wangi cendana putih,” kata Glagah Putih ketika telinganya dengan tajam menangkap desir langkah seseorang di balik regol halaman. Mereka yang bersamanya kemudian tersentak kebingungan. Dalam gelap malam,mereka saling berpandangan seakan mencari tahu maksud Glagah Putih.

“Lintang menjelang pagi,” seseorang menjawab dari balik regol lalu muncullah orang itu dari balik regol. Madyasta menyongsong kedatangan mereka. Sebelum ia bertanya, Glagah Putih meletakkan telunjuknya di depan bibir. Kemudian katanya,”mereka adalah pengikut Pangeran Ranapati. Sebagian aku tinggalkan di luar pedukuhan bersama Rara Wulan.”

Kemudian Glagah Putih membeberkan rencananya kepada Madyasta. Sejenak kemudian, Madyasta menuju tempat yang ditunjukkan Glagah Putih. Malam itu juga Rara Wulan serta kelompoknya harus digeser ke rumah yang pernah dihuni Sumbaga. Dengan begitu Glagah Putih berharap dapat mengaburkan jejak pelarian orang-orang yang menyertai mereka.

Setelah mempersilahkan orang-orang itu membersihkan diri, Glagah Putih mengumpulkan mereka di ruang dalam. Lalu katanya,”Sebentar lagi kita akan beristirahat barang sejenak. Setelah kokok ayam yang kedua, aku akan mengantarkan kalian keluar dari Panaraga. Setelah itu kalian pergi Jati Anom, temuilah orang yang bernama Ki Widura. Kemudian ceritakan jika kalian bertemu denganku disini. Katakan kepada Ki Gede dan Ki Jayaraga bahwa Glagah Putih berpesan rinding Ki Citra Gati.”

Sejenak termangu-mangu karena tidak mengetahui jalan menuju Jati Anom. Selain itu, mereka juga dilanda kebingungan karena tidak tahu apa yang dikerjakan setibanya di Jati Anom. Orang yang lebih tua diantara mereka lalu bertanya,” Angger Glagah Putih, apa kira-kira yang kami kerjakan ketika tiba di Jati Anom? Aku kira nama angger adalah Glagah Putih seperti pesan angger tadi.”

“Memang benar namaku Glagah Putih, Ki Sanak. Nanti segala sesuatunya akan diatur Ki Widura,” kata Glagah Putih sambil mengangguk pelan.

“Marilah semuanya. Kita beristirahat dan besok kita akan menempuh perjalanan panjang,” kata orang itu pada kawan-kawannya. Setelah itu mereka membaringkan diri di atas tikar yang tergelar.

Lelaki tua tadi sempat bergumam kepada orang disebelahnya,” semoga arah tujuan kita benar kali ini. Anak muda itu ada benarnya. Ia telah mengingatkan kita untuk tidak mudah percaya pada Pangeran Ranapati. Andai Nyi Kantil tidak diperlakukan seperti itu, tentu aku masih percaya padanya.”

“Benar kakang. Setelah aku renungkan dalam perjalanan ke rumah ini, sebenarnyalah aku teringat dengan anak istriku di desa. Mereka aku tinggalkan dengan sebuah janji. Meski begitu, janji yang aku terima tidaklah lebih baik dari apa yang telah aku jalani selama ini,” kata kawannya itu. Lalu,” aku akan pulang ke desaku sendiri setelah tiba di Jati Anom. Baru kemudian aku putuskan sikap setelah melihat keadaan Jati Anom.”

“Sudahlah, mari kita coba pejamkan mata,” kata lelaki tua itu.

Dalam pada itu, Madyasta telah bertemu Rara Wulan dan berbicara serba sedikit tentang rencana Glagah Putih.

Sesekali Rara Wulan mengerutkan kening mendengar penjelasan rencana Glagah Putih yang disampaikan Madyasta. Demikianlah akhirnya Rara Wulan berkata,” baiklah ki, lebih baik kita bergegas sekarang. Aku seperti merasakan bahwa orang-orang Pangeran Ranapati mulai melakukan pengejaran.”

Kemudian mereka berjalan melintasi pategalan dan pematang untuk menghindari para perondan. Sedangkan Madyasta sendiri akan menemui Ki Darma Tanda untuk meminta ijin agar dapat menempatkan Nyi Kantil. Akan tetapi mereka sudah sepakat jika Ki Darma Tanda tidak memberi ijin maka Nyi Kantil harus diantar terlebih dahulu ke desanya.

Ketika malam mulai menyusuri setiap jengkal Tanah Menoreh, Ki Rangga Agung Sedayu sedang berbenah diri di dalam biliknya.

“Mirah, katakan pada Sukra untuk tidak keluar dari rumah. Sementara aku akan ke rumah Ki Gede,” berkata Agung Sedayu.

“Baik, kakang. Aku sampaikan padanya nanti. Apakah kakang mengajak serta Ki Jayaraga?” jawab Sekar Mirah seraya membantu suaminya membenahi ikat kepala.

Agung Sedayu terdiam sesaat. Kemudian katanya,” aku akan mengajak Ki Jayaraga. Karena pendapat Ki Jayaraga juga sama pentingnya dengan Ki Gede Menoreh sendiri.” Sesaat kemudian Agung Sedayu telah melangkahkan kakinya bersama KI Jayaraga melewati regol halaman dan diikuti tatap mata istrinya dari pendapa.

Malam yang belum terlalu dalam saat Agung Sedayu menyapa pengawal di gardu sebelah regol halaman.

“Selamat malam. Apakah sudah terlalu dingin?” tanya Ki Rangga.

“Belum Ki Rangga,” jawab seorang dari mereka dengan senyum mengembang. Seorang lagi yang menutup tubuhnya dengan kain panjang berkata,”jangan percaya padanya.”

Senyum kecil Agung Sedayu merekah berbarengan dengan tawa kecil para pengawal.

“Agung Sedayu,” kata Ki Gede Menoreh sambil mengangguk  pada Ki Bagaswara.

“Rasanya aku tidak lupa dengan lelaki muda itu,” kata Ki Bagaswara ketika keduanya melihat seseorang berjalan tegap melintasi halaman menuju pendapa.

Kemudian Agung Sedayu mengangguk hormat kepada Ki Gede dan Ki Bagaswara. Bahkan Ki Jayaraga juga memeluk Ki Bagaswara seperti saudara yang lama tidak berjumpa. Setelah saking bertanya tentang keadaan masing-masing selama ini, Ki Jayaraga bertanya,” bukankah Ki Waskita ada di sini, Ki Gede?”

“Oh, Ki Waskita ada di dalam sanggar. Mungkin sebentar lagi akan kemari, kiai.”

Mendengar Ki Waskita sedang di dalam sanggar, kening Ki Rangga berkerut sejenak lalu ia menarik nafas dalam-dalam.” Satu bagian dari kitab Ki Waskita harus segera aku tanyakan. Semoga pagi-pagi besok aku mendapatkan waktu serba sedikit untuk menanyakan bagian itu,” gumam Agung Sedayu dalam hatinya.

“Angger Agung Sedayu, sebenarnyalah Ki Bagaswara ingin berbicara serba sedikit tentang Panaraga. Untuk itulah, aku memintanya untuk bermalam di rumah ini barang sebulan dua bulan,” berkata Ki Gede. Agung Sedayu mengangkat wajahnya dan menatap Ki Gede dengan kepala sedikit tunduk.

“Setahun dua tahun,” terdengar Ki Waskita dari balik pintu pringgitan dan derai tawa kemudian memenuhi pendapa.

Agung Sedayu segera menoleh ke sumber suara lalu mengangguk hormat pada Ki Waskita yang baru saja bergabung dengan mereka di pendapa. Lalu Ki Waskita mengambil tempat duduk sebelah menyebelah dengan Agung Sedayu.

Ki Bagaswara lalu menebar pandangan ke sekelilingnya. Seakan-akan sedang merangkai kalimat yang akan ia katakan di depan para pemimpin Tanah Perdikan Menoreh. Lalu,” Angger Agung Sedayu, sebenarnyalah aku baru saja pulang dari timur. Aku tidak lama berada disana, akan tetapi serba sedikit aku memandang perlu untuk bertemu dengan Ki Gede, Ki Waskita dan juga angger sendiri.”

Agung Sedayu menundukkan kepala. Ia berangan-angan tentang apa yang akan dikatakan Ki Bagaswara. Seperti tenggelam dalam angan-angannya yang sedang berputar berbagai kemungkinan tentang Panaraga, jantung Agung Sedayu berdesir cepat ketika Ki Bagaswara berkata,”Angger, aku telah mendengar dan menyaksikan sendiri pergerakan orang dalam kelompok-kelompok kecil sedang menuju ke barat Tanah Perdikan. Ada yang kemudian menyusup diantara penduduk sebagai pendatang, ada juga yang membuka pedukuhan sendiri. Seperti sebuah padepokan.”

Kemudian,” yang menjadi persoalan bagi penduduk adalah mereka sering berbicara tentang kekelaman Panembahan Senopati dan putranya, Panembahan Hanyakrawati. Tidak hanya itu, mereka juga mulai mengumpulkan orang-orang yang setuju dengan mereka untuk memulai suatu latihan kanuragan.”

“Seperti yang dilakukan Tumenggung Purbarana di masa lampau, mereka juga mengusir cantrik-cantrik yang berada di padepokan kami. Mereka mengancam akan membunuh yang melawan dan membakar padepokan kami,” Ki Bagaswara melanjutkan,” mereka mengaku pengikut Pangeran Ranapati. Dan salah seorang pemimpinnya bernama Ki Kebo Langit.”

Ki Gede Menoreh menoleh ke Agung Sedayu, kemudian,”Ki Kebo Langit? Kalau dia masih bebas bergerak itu seperti memberi tanda bahaya bagi Panaraga. Persoalan di padepokan Ki Bagaswara kemungkinan akan segera meluas ke Tanah Perdikan, ngger.”

“Kemungkinan itu memang ada, Ki Gede,” kata Agung Sedayu menganggukkan kepala. Katanya,” kemungkinan yang lain adalah ia akan mengajak serta kawan-kawannya atau sedikitnya akan mempengaruhi kawannya untuk berdiri di satu bagian yang sama dengannya. Selain itu dengan adanya latihan-latihan yang diselenggarakan oleh para pendatang itu, kemungkinan juga mereka bersiap untuk melakukan satu pekerjaan besar.”

“Lalu bagaimana dengan cantrik-cantrik Ki Bagaswara?” bertanya Ki Waskita.

“Oh, mereka kemudian membaur di satu pedukuhan yang dekat dengan padepokan kami. Ketika aku akan memasuki padepokan ternyata aku tidak melihat kebiasaan yang dilakukan para cantrik. Kemudian aku pergi ke padukuhan terdekat dan bertemu seorang cantrik yang sedang berada di regol pedukuhan. Setelah aku kumpulkan mereka, ada empat orang cantrik yang aku ajak serta ke tanah Perdikan. Sedangkan cantrik yang lain untuk sementara aku minta untuk kembali ke tempat asal masing-masing,” KI Bagaswara berkata dengan suara tergetar menahan amarah dan kesedihan yang berbaur menjadi satu.

“Oh,” desah keempat orang yang berada di depannya berbarengan.

“Mengapa Ki Bagaswara tidak mengajak serta mereka kemari? Dimana mereka sekarang berada?” tanya Ki Gede Menoreh.

“Serba sedikit aku merasa akan menganggu ketenangan di tanah ini, Ki Gede. Oleh sebab itu aku menempatkan mereka di sebelah hutan kecil bagian utara pedukuhan induk,” berkata Ki Bagaswara.

“Baiklah, aku akan meminta para pengawal untuk memanggil cantrik-cantrik Ki Bagaswara kemari. Dan biarlah kami berbuat sesuatu untuk Ki Bagaswara. Karena bagaimanapun juga, Ki Bagaswara adalah tamu yang dihormati di tanah ini,” kata Ki Gede. Segera pada malam itu juga, beberapa orang pengawal diperintahkan oleh Ki Gede untuk memanggil empat orang cantrik yang menyertai Ki Bagaswara di tepi hutan sebelah utara.

Dengan menganggukkan kepala, Ki Bagaswara mengucap terima kasih atas kesediaan Ki Gede untuk sekedar menempatkan mereka di tempat yang pantas dan wajar. Demikianlah, selang beberapa lama kemudian para cantrik Ki Bagaswara telah tiba di rumah Ki Gede. Karena malam sudah menyusup semakin dalam, maka Ki Gede Menoreh mempersilahkan para tetamunya untuk beristirahat. Agung Sedayu, Ki Waskita serta Ki Jayaraga beranjak menuruni tangga pendapa dan melangkah menuju rumah Agung Sedayu.

“Kiai, besok pagi-pagi aku ingin sekedar wawasan dari Ki Waskita. Silahkan Ki Jayaraga untuk ikut dalam sanggar, dan tentunya Ki Jayaraga akan menambahi wawasan untukku,” kata Agung Sedayu.

“Baiklah ngger. Ki Jayaraga ini sudah menjadi seperti ayah bagimu,” berkata Ki Waskita.

“Dan tentu juga pasti jadi penunggu pematang,” Ki Jayaraga sedikit bergurau dalam kelam malam.

Agung Sedayu dan Ki Waskita menutup mulutnya menahan tawa.

Setibanya di rumah Agung Sedayu, ketiganya ke pakiwan untuk mencuci kaki dan tangan. Lalu kemudian masuk ke bilik masing-masing untuk beristirahat.

Keesokan harinya sebelum ayam berkokok ketiga kalinya, mereka bertiga telah berada di dalam sanggar. Sekar Mirah telah menyiapkan wedang jahe dan ketela rebus bagi ketiga penghuni rumahnya itu.

“Kiai, satu bagian ilmu dari kitab menerangkan satu ilmu yang menarik perhatian,” kata Agung Sedayu pada Ki Waskita, lalu,” perkembangan watak ilmu itu akankah mempengaruhi sekitarnya yang terdekat?”

“Tidak selalu begitu, ngger. Getar yang timbul dari saluran pernafasanmu akan merubah sedikit watak ilmu yang tersimpan dalam dirimu. Lelaku yang akan kau jalani akan memberi pengaruh yang tidak sedikit bagi daya tahanmu,” berkata Ki Waskita.

“Apakah angger sudah menjajagi barang sedikit dari bagian itu?” tanya Ki Jayaraga.

Kemudian Agung Sedayu membenahi letak duduknya. Dengan bersila dan tangan terjuntai pada lututnya, ia mulai memusatkan nalar budinya. Hawa panas merambat dari bawah tempat ia duduk sejenak setelah melakukan pemusatan nalar budi. Perlahan-lahan panas itu merambat naik hingga muka Agung Sedayu memerah. Setelah itu, hawa panasnya seperti terlihat menjalar ke lengan Agung Sedayu lalu berpusat pada telapak tangannya.

Ki Waskita dan Ki Jayaraga merasakan panas luar biasa menyengat seperti terjilat api, meskipun keduanya berjarak selangkah dari Agung Sedayu.

” Luar biasa! Hanya dengan membaca, angger Sedayu telah merambah isi kitab itu melebihi perkiraanku. Sedangkan aku dahulu telah berkali-kali mencoba dibawah bimbingan guru sekalipun belum mencapai tataran ini,” desis Ki Waskita dalam hati.

Ki Jayaraga mengerutkan kening dan memperhatikan secara seksama penjajagan yang dilakukan Agung Sedayu.

“Watak ilmu ini hampir mirip dengan ilmu menyerap api perguruanku. Agaknya kalau angger Agung Sedayu mampu menuntaskan lelaku sesuai syarat, dia akan merambah selapis lagi ilmu dalam dirinya,” bisik Ki Jayaraga membatin.

Tiba-tiba panas yang memancar keluar dari telapak tangan Agung Sedayu lenyap. Nafasnya memburu tak teratur. Sedikit pucat tampak pada bagian mukanya. Sedangkan hawa panas yang menyelubungi dirinya tiba-tiba menebar dan hilang.

“Cukuplah ngger,” kata Ki Jayaraga,” agaknya ilmu ini memang membutuhkan laku khusus yang bertolak belakang dengan hawa yang keluar dari wadag.”

” Betul kata Ki Jayaraga. Angger cukupkan dulu, sementara aku dan Ki Jayaraga akan mencari sendang atau bagian sungai yang akan kau gunakan,” kata Ki Waskita.

Perlahan Agung Sedayu membuka mata dan peluh benar-benar membasahi sekujur tubuhnya. Pakaiannya tidak terlihat basah karena hawa panas tadi begitu kuat. Setelah mengembalikan perhatiannya semula, Agung Sedayu mendengarkan pesan-pesan Ki Waskita selanjutnya. Ditambah kemudian Ki Jayaraga semakin menambah luas wawasan Agung Sedayu.

Tak berapa lama kemudian, ketiganya keluar dari sanggar. Agung Sedayu bergegas menuju pakiwan untuk mandi. Sukra telah mengisi jambangan hingga penuh, setelah itu Sukra mempersiapkan peralatan yang biasa dibawa Ki Jayaraga ke sawah.

Ketika matahari sudah menebarkan sinarnya, maka seluruh isi rumah Agung Sedayu telah bersiap untuk makan pagi. Setelah Sekar Mirah membereskan peralatan dengan dibantu okeh Sukra, Ki Jayaraga berkata,” angger segera bersiap ke barak. Sementara itu siang nanti aku dan Ki Waskita akan menyusuri sungai untuk mencari tempat bagimu menjalani lelaku.”

” Terima kasih, Ki Jayaraga. Dan agaknya Ki Waskita juga mulai merindukan bulir padi,” kata Agung Sedayu.

“Rasanya Ki Jayaraga tidak memberiku kesempatan bercanda dengan padi,” Ki Waskita tersenyum dan menggamit Ki Jayaraga. Lantas keduanya tertawa pelan.

“Baiklah, aku segera pergi ke barak,” kata Agung Sedayu kemudian meminta diri untuk berangkat. Lalu seperti biasanya,ia diantar Sekar Mirah hingga regol halaman.

Jalanan di Tanah Perdikan Menoreh mulai ramai dilalui orang. Sebagian pergi ke pasar, keadaan tanah perdikan yang tenang menjadikan orang-orang lebih bersemangat menjalani kehidupan. Banyak orang yang bergerak memenuhi setiap jengkal roda kehidupan. Kehidupan yang berjalan begitu tenang tak luput dari pengamatan petugas sandi yang dikirimkan Pangeran Ranapati.

“Tanah ini memberikan gambaran kehidupan yang mengerikan. Setiap orang terpedaya dengan wibawa Ki Gede Menoreh. Orang tua itu tidak menyadari jika seekor singa akan segera mengusirnya keluar dari hutan,” kata seorang yang berada di luar sebuah kedai.

Kawannya yang mendengarkannya tidak melepaskan pandangan ke setiap sudut yang dapat ia amati. Lalu,” mereka agaknya juga tidak menyadari kehadiran kita disini.”

Agaknya orang-orang Pangeran Ranapati masih mengamati keadaan di Tanah Perdikan lalu yang seorang berkata,” apakah kita akan melaporkan keadaan seperti ini kepada pangeran?”

“Jangan bodoh. Tanah Perdikan tentu memendam kekuatannya yang sangat besar. Sedangkan kita belum melihat simpanan kekuatan Tanah Perdikan Menoreh yang masih terpendam. Kita belum pergi mengamati barak pasukan khusus,” orang yang memakai ikat kepala berwarna ungu itu berkata. Kawannya mendengar sambil manggut-manggut.

Dalam pada itu, menjelang senja, Agung Sedayu berpesan kepada para lurah prajurit. Ia harus memberitahukan bila ia akan hanya di waktu pagi datang ke barak dalam sepekan dua pekan. Akan tetapi, jika mereka memerlukan kehadiran Agung Sedayu, ia meminta mereka untuk memberi tahu Ki Waskita atau Ki Jayaraga.

Tak lupa Agung Sedayu memberitahu Ki Gede tentang rencananya untuk beberapa hari ke depan.

“Tentu saja, ngger. Aku masih yakin kau akan menapak langit yang lebih tinggi. Meski demikian, seperti kata Kiai Gringsing, tidak ada ilmu yang sempurna di bumi ini,” berkata Ki Gede. Lalu ia melanjutkan,” aku akan datang di saat terakhir lelakumu. Aku ingin menjadi saksi bagi seorang Agung Sedayu.”

Agung Sedayu merundukkan kepala mendengar nama gurunya disebut-sebut. Ia teringat betapa kasih gurunya ketika membimbingnya menjalani hari-hari yang sulit. Warisan terbaik yang ditinggalkan gurunya adalah agar ia harus mendahulukan pengabdian kepada sesama. Agaknya pengajaran itulah yang mendorong Agung Sedayu selalu menilai dirinya sendiri.

“Aku akan memberitahukan hal itu kepada Ki Waskita dan Ki Jayaraga. Semoga mereka tidak melupakan Ki Gede pada saatnya tiba,” berkata Agung Sedayu masih dengan kepala tertunduk.

“Ki Gede, apakah nantinya Ki Bagaswara dan cantriknya akan tetap tinggal di rumah selagi Ki Gede bersama-sama dengan Ki Jayaraga dan Ki Waskita?” tanya Agung Sedayu.

Sejenak Ki Gede terdiam sesaat. Baginya Ki Bagaswara adalah orang baik dan tidak akan menimbulkan persoalan selama kepergiannya menemani Agung Sedayu. “Sebaiknyalah aku tidak menimbulkan pikiran  buruk pada Ki Bagaswara, meskipun ia akan dapat mengerti,” gumam Ki Gede kemudian,” aku dapat mengatakan kepadanya jika aku ingin sesekali melihat para peronda. Aku dapat beralasan kedatangan orang asing telah menambah serba sedikit kegiatan pada malam hari.”

Agung Sedayu rupanya dapat mengerti pikiran Ki Gede Menoreh setelah mendengarkan penjelasannya. Kemudian ia meminta diri dan berjanji dalam hatinya untuk bersungguh-sungguh menjalani lelaku sesuai isi kitab Ki Waskita.

Demikianlah pada akhirnya, Agung Sedayu mulai lelaku merendam tubuhnya beberapa lama ketika malam mulai menapaki bumi hingga kokok ayam yang pertama. Pada pagi dan siang hari, Agung Sedayu tetap melakukan pekerjaan seperti biasanya.

Malam yang ketiga, Agung Sedayu yang ditemani Sukra berjalan pulang seusai mengakhiri laku kungkumnya. “Ki Rangga!” kata Sukra yang melihat Agung Sedayu terhuyung-huyung ketika mereka baru saja memasuki halaman. Peluh Agung Sedayu menetes dari sela-sela rambutnya. Dengan dibantu Sukra, Agung Sedayu menaiki tangga pendapa dan duduk bersandar pada salah satu tiang di ujung ruangan.

Ki Rangga memberi isyarat Sukra untuk tenang, dan Sukra tanggap dengan keadaan Agung Sedayu. Ia berdiri hendak memanggil Ki Waskita dan Ki Jayaraga yang berada di gandok kanan.

Akan tetapi ia segera mengurungkan niatnya saat ia melihat dua orang melangkah cepat ke pendapa. Tak lama dari itu, Nyi Sekar Mirah telah membuka pintu pringgitan.

“Kakang!” kata Nyi Sekar Mirah melihat wajah pucat suaminya.

“Biarlah kami melihat angger,Nyi,” kata Ki Waskita. Ki Jayaraga segera memeriksa ketiak, pergelangan tangan, perut dan punggung Ki Rangga Agung Sedayu. Dengan seksama dan berhati-hati, Ki Jayaraga tidak melewatkan satu pun bagian tubuh Agung Sedayu yang menjadi tempat pemusatan ilmu yang sedang didalaminya.

“Kita wajib bersyukur pada Yang Maha Agung, Nyi,” kata Ki Jayaraga menarik nafas dalam-dalam.

“Apa yang dialami kakang Agung Sedayu, Ki Jayaraga?” Nyi Sekar Mirah bertanya dengan cemas. Ia memegang tangan suaminya dan kegelisahan hatinya seakan mendapat jawaban saat suaminya membuka mata. Lalu Ki Rangga kembali mengatur pernafasan untuk mengatasi gangguan yang dialaminya. Nyi Sekar Mirah bergeser mundur, memberi tempat Ki Waskita untuk membantu pemulihan Agung Sedayu.

“Yang dialami Ki Rangga adalah kewajaran. Ia sedang berusaha meluluhkan ilmu ini dengan seluruh ilmu dalam dirinya. Ki Rangga akan menjadi lebih mudah berpindah lapis, akan tetapi ternyata sebagian tubuhnya belum siap menerima peleburan ini,” kata Ki Waskita pada Nyi Sekar Mirah.

Hati Nyi Sekar Mirah menjadi sedikit tenang dengan penjelasan Ki Waskita. Ia percaya Ki Waskita tidak sekedar menghibur dirinya.

“Sehari esok sebaiknya kau tidak ke barak, ngger. Biarlah Sukra yang memberitahukan ketidakhadiranmu. Berilah ia pesan yang harus disampaikan di barak,” berkata Ki Jayaraga.

Agung Sedayu mengangguk kecil, lalu dibantu Ki Waskita, ia mulai memusatkan nalar budinya ketika nafasnya mulai teratur.

Keesokan harinya saat matahari sedikit beringsut ke barat, Ki Waskita mengingatkan kehadiran Ki Gede Menoreh pada malam pamungkas lelaku Agung Sedayu.

“Kiai, sebelum senja aku akan ke rumah Ki Gede. Dan nantinya akan berangkat bersama Ki Gede menyaksikan saat terakhir angger Sedayu,” berkata Ki Waskita.

Ki Jayaraga mengerutkan kening, ia bertanya” apakah ikan gurame memang tidak dapat merebus air, kiai?” tawa kecil Ki Jayaraga yang disambut dengan senyum Ki Waskita. Lalu kata Ki Waskita,” wedang sere rumah Ki Gede masih yang terbaik di tanah perdikan ini.” Keduanya melepas tawa dan saling memandang penuh pengertian.

Akhirnya dengan demikian, Agung Sedayu telah melakukan laku kungkum di sebuah sungai yang tak begitu dalam. Sungai ini membelah hutan di sebelah timur yang tak jauh dari pedukuhan induk. Pada hari ke delapan dan sembilan maka sebenarnyalah Agung Sedayu benar-benar dijaga bergantian oleh Ki Waskita dan Ki Jayaraga. Terkadang Sukra terlihat menggantikan mereka untuk menjaga Ki Rangga Agung Sedayu. Seringkali juga terlihat beberapa orang Tanah Perdikan ikut memperhatikan Agung Sedayu. Mereka merasa kebanggaan tertinggi dengan turut menjaga Agung Sedayu dari segala gangguan selama mesu diri. Di dalam hati mereka telah berkembang sebuah kebahagiaan, bahwa seorang anak muda yang telah mengangkat tinggi nama Tanah Perdikan Menoreh

Pada hari terakhir, hanya dengan kepala yang tersembul dari air keadaan Agung Sedayu nampak mencemaskan. Dengan lutut sedikit menekuk, ia mulai berendam sesaat setelah matahari benar-benar telah tenggelam di ufuk barat. Namun begitu, Ki Waskita dan Ki Jayaraga belum merasa harus melakukan sesuatu. Keduanya masih menunggu Agung Sedayu benar-benar tuntas menjalankan lelaku. Pada  wayah sirep bocah, di sekitar Agung Sedayu muncul seperti gelembung-gelembung air. Kini Agung Sedayu seakan-akan berada di dalam kuali yang berisi air mendidih.

Tangan Agung Sedayu seperti melakukan gerakan yang sesuai watak ilmunya. Terkadang air menjulang tinggi ketika ia menghentakkan tenaga cadangan. Terkadang juga timbul pusaran berjarak satu dua tombak dari tempat Agung Sedayu.

Ki Waskita yang menyaksikan itu dibawah terang sinar bulan menggeleng-geleng kepala,” hampir tidak masuk akal,” katanya.

“Seandainya Kiai Gringsing melihat Agung Sedayu pada malam ini, tentu ia akan bangga dengan peningkatan ilmu muridnya itu,” desis Ki Jayaraga yang bersila sebelah menyebelah dengan Ki Waskita. Lanjutnya,”Ki Waskita tentu akan semakin bangga dengan Agung Sedayu”

“Apalagi Ki Jayaraga yang seperti ayah baginya,” kata Ki Waskita.

Keduanya menoleh ke Ki Gede Menoreh dan mereka seakan merasakan keharuan sangat mendalam sedang dialami oleh Ki Gede.

“Ki Gede adalah orang yang merasakan keharuan lebih dari kita berdua. Angger Agung Sedayu adalah anaknya, muridnya dan juga bagian dirinya. Dan ia juga telah menjadi satu bukit di Menoreh,” suara Ki Waskita terdengar begitu dalam dan bergetar.

“Benar kata kiai” desis Ki Jayaraga lalu keduanya melihat setitik air mata Ki Gede meleleh. Terbayang oleh keduanya bagaimana hati Ki Gede merasakan keadaan Agung Sedayu. Mereka mengetahui jika Agung Sedayu telah sekian lama bersama Ki Gede mengalami suka duka peristiwa di Tanah Menoreh. Pokal Ki Tambak Wedi, Kakang Panji bahkan pembangunan bendungan serta jalan-jalan juga tak luput dari peran Agung Sedayu.

“Seharusnya angger Agung Sedayu sudah mendekati gerakan terakhir,” desis Ki Waskita.

“Kita menunggu saat-saat puncak,” kata Ki Jayaraga yang mendengar ucapan Ki Waskita.

Ki Gede terlihat menggigit bibirnya. Agaknya ia tidak mampu menahan kegelisahan dirinya, karena tahap terakhir ini akan menjadi penentu akhir. Beberapa kali Ki Gede terdengar menghela nafas panjang.

Dalam gelap malam, tiba-tiba kedua tangan Ki Rangga yang berada dalam air mengeluarkan cahaya merah. Pada mulanya cahaya itu terlihat hanya sebatas lengan Ki Rangga, perlahan kemudian cahaya merah memendar semakin terang. Karena begitu terang hingga tampak jelas kaki Ki Rangga yang menjejak dasar sungai. Ki Rangga masih melakukan penyesuaian watak dan sifat ilmunya dengan gerakan seperti petunjuk dalam kitab Ki Waskita. Setiap gerakan tangan dan kaki Ki Rangga tampak jelas terlihat oleh mereka yang menjadi saksi.

Darah Ki Jayaraga seakan berhenti mengalir, ia mendesis,” Sedikit lagi ia akan berada di puncak ilmu itu. Semoga Yang Maha Agung memberi ijin bagi angger Sedayu.”

” Semoga Yang Maha Agung mendengar permintaan kita,” kata Ki Waskita yang sebelah menyebelah dengannya.

Terdengar suara Ki Gede berbisik di dekat telinga Ki Waskita. Katanya,” Angger Sedayu telah berada di puncak ilmu.”

“Belum Ki Gede. Angger Agung Sedayu masih harus menyempurnakan lagi di sisa malam ini,” Ki Waskita menggelengkan kepala.

“Oh, bila demikian malam pamungkas akan menjadi sangat mendebarkan,” berkata Ki Gede.

Dalam pada itu Ki Jayaraga berkata,”watak ilmu ini berbeda dengan watak ilmu yang serba sedikit aku ketahui.”

Beberapa pasang mata juga menyaksikan apa yang dilakukan Agung Sedayu. Mereka berada lebih jauh dari ketiga orang pemimpin Tanah Perdikan Menoreh. Jantung mereka berdentang keras ketika tangan Agung Sedayu membara seperti besi yang ditempa api. “Angger Agung Sedayu benar-benar orang muda yang linuwih dan pinunjul,” kata seorang dari mereka. Kawan-kawannya hanya terdiam karena hati mereka telah dikuasai kekaguman luar biasa.

Dalam pada itu, Agung Sedayu perlahan-lahan menenggelamkan sekujur tubuhnya ke dalam air. Tidak ada lagi bagian tubuhnya yang tersisa di permukaan air. Setiap mata melihat Agung Sedayu bergerak-gerak dalam air lalu cahaya merah yang terlihat pada tangannya tiba-tiba padam. Tidak ada lagi yang terlihat di bagian sungai Agung Sedayu menempa dirinya.

“Bagaimana Ki Waskita?” bertanya Ki Gede.

“Sebentar lagi KI Gede,” berkata Ki Waskita.

Sedangkan Ki Jayaraga berusaha menembus kegelapan dalam sungai akan tetapi pandangannya yang tajam tetap tidak menangkap bayangan yang bergerak. “Aku tidak mendengar apapun,” Ki Jayaraga berdesis  sambil memegang lutut Ki Gede.

Tiba-tiba terdengar ledakan dahsyat dari sungai dan satu bayangan melenting sangat cepat ke angkasa seakan-akan anak panah lepas dari busurnya. Dalam pada itu, berbarengan dengan suara ledakan tiba-tiba keadaan menjadi sangat terang di tempat Agung Sedayu mesu diri. Cahaya terang yang ditimbulkannya menebar hingga beberapa langkah dari tempatnya. Setiap orang dapat menyaksikan satu bayangan keluar dari air seperti terbang ke angkasa secepat sambaran kilat di langit. Bayangan itu kemudian berputar jungkir balik di udara lalu menghunjam ke tempatnya semula. Terlihat oleh Ki Jayaraga ketika tangan Agung Sedayu meluncur deras ke permukaan air sungai lalu seakan-akan dari telapak tangannya keluar sebongkah batu seukuran kerbau menghantam air. Cahaya yang mulai surut tiba-tiba lenyap berbarengan dengan tenaga cadangan Agung Sedayu menggapai permukaan air. Untuk kedua kalinya terdengar dentuman dahsyat dari percobaan yang dilakukan Agung Sedayu.

Keheningan lalu menyergap di setiap bagian sungai. Tubuh Agung Sedayu yang kembali masuk ke dalam sungai juga tidak menimbulkan suara. Kemampuan Agung Sedayu dalam menyerap bunyi sudah begitu tinggi hingga gemericik air pun tidak terdengar oleh ketiga orang pinunjul yang berada di sekitarnya.

“Ki Gede, marilah kita bersyukur kepada Yang Maha Agung. Sesuai pesan kitab, maka angger Agung Sedayu telah mencapai selapis lebih tinggi dan menutup bagian ilmu ini seperti yang tertera dalam kitab,” berkata Ki Waskita.

“Yang Maha Agung agaknya berkenan memberi angger Agung Sedayu satu kemampuan yang lebih tinggi barang selapis,” berkata Ki Gede Menoreh menarik nafas dalam-dalam. Ia kemudian beringsut menuruni tanggul menyongsong  Agung Sedayu yang terlihat berjalan ke tepi sungai. Ki Jayaraga dengan kepala tertunduk bergumam,”Engkau Yang Maha Agung, terima kasih,” dalam hatinya.

 

(bersambung)

KIsah sebelumnya :

  1. https://tansaheling.com/2017/10/16/lanjutan-api-di-bukit-menoreh-397-1/
  2. https://tansaheling.com/2017/10/18/lanjutan-api-di-bukit-menoreh-397-2/
  3. https://tansaheling.com/2017/10/22/lanjutan-api-di-bukit-menoreh-397-3/

 

One thought on “Lanjutan Api di Bukit Menoreh 397 – 4

Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: