(Bondan Lelana) – Ki Cendhala Geni – 5

Keindahan alam yang dilewati mereka berdua serta kesejukan udara telah mengalihkan perhatian Bondan. Ken Banawa yang memahami semangat anak muda ini hanya menghela nafas. Dia mengetahui bahwa di Alas Cangkring ada orang linuwih yang pilih tanding. Ken Banawa sudah memperhitungkan resiko paling buruk karena jika dugaannya benar maka esok hari mungkin akan bertemu dengan Mpu Gemana. Mpu Gemana adalah salah seorang yang lolos dari sergapan pasukan khusus yang dipimpin oleh Ken Banawa ketika menumpas kawanan penyamun di Selopuro.

Setelah menempuh perjalanan panjang, keduanya segera mendekati tepi hutan Alas Cangkring. Namun sebelum itu Ken Banawa dan Bondan harus melewati  sebuah padukuhan yang tidak begitu besar. Tanpa mereka sadari ternyata ada sepasang mata yang mengawasi keduanya sejak dari gerbang kota. Pakaian Bondan dan Ken Banawa memang berbeda dari kebanyakan orang berlalu lalang di jalanan padukuhan. Dia semakin curiga ketika melihat seorang pengawal padukuhan memberikan hormat pada Ken Banawa.

”Bondan, kita beristirahat dulu malam ini. Kita akan masuk ke hutan sebelum fajar esok hari” kata Ken Banawa.

”Tidak, paman. Aku akan berangkat malam ini sehingga esok pagi sudah menemukan Prana Sampar” Bondan menolak tegas.

“Bondan, Prana Sampar tidak sendirian. Selain itu kedalaman hutan akan menjadi bahaya tersendiri bagi kita. Harusnya kau mengetahui itu. Prana Sampar adalah murid tunggal Mpu Gemana. Seorang tokoh sakti yang terkenal dengan rantai bermata tombak kembarnya. Paman mendapatkan bukti jika Mpu Gemana inilah yang melakukan pembunuhan beberapa pengawal yang menjaga gudang hasil panen raya.”

Lalu Ken Banawa melanjutkan,“ Mantri Rukmasara adalah orang yang menyuruh Mpu Gemana untuk mengambil beberapa ratus kati, namun karena Mantri Rukmasara ketakutan perbuatannya diketahui oleh Sri Jayanegara.” Setelah menarik nafas panjang. Ia berkata,” kemudian ia meminta Ki Curik Kemba untuk mencari dan membunuh Mpu Gemana. Pada akhirnya, Ki Curik Kemba harus mati di tangan Mpu Gemana yang juga anggota dari kawanan Ki Cendhala Geni.”

“Siapakah Ki Cendhala Geni itu paman?” Bondan ber-tanya dengan sorot mata yang menyiratkan rasa ingin tahu yang besar.

“Kelak kau akan tahu dengan sendirinya. Asalkan kamu tidak gegabah dan memandangnya sebelah mata karena Ki Cendhala Geni adalah orang yang benar-benar sulit dicari tandingannya. Setiap jengkal lereng Merapi telah dipenuhi namanya. Hampir semua orang di daerah selatan sudah merasakan kengerian hanya mendengar namanya,” jawab Ken Banawa yang makin mengundang hasrat Bondan untuk mengetahui lebih jauh.

Gelapnya malam yang bermandikan gerimis pun mendekap  pedukuhan semakin erat. Kabut tipis turun seperti selimut dingin yang menutup erat setiap pori-pori. Awan berarak menutupi rembulan yang berusaha untuk tersenyum. Bondan beranjak dan keluar dari bilik penginapan, diikuti Ken Banawa yang berjalan cepat sambil memeriksa busur dan panahnya.

Menembus pekatnya malam dibawah rintik hujan yang tipis membasahi bumi, keduanya berjalan kaki me-langkah keluar dari padukuhan. Sejenak kemudian keduanya melihat nyala api di tepi hutan. Ken Banawa memutuskan untuk mendekati nyala api dengan meng-endap.

Semakin mendekati lingkaran api terlihat dua orang sedang duduk menghadap api unggun dengan berteduh di gubuk kecil.

“Ah rasanya ada yang mengawasi kita, Sampar,” desah perlahan Mpu Gemana yang sedang berusaha menajamkan pendengarannya untuk membedakan langkah kaki dan jatuhnya air hujan.

“Aku tidak mendengar apa-apa, Mpu.”

“ Ada dua orang. Mereka ada di belakang kita. Siapkan pasakmu,” bisik Mpu Gemana sambil memberi tanda ke sasaran yang akan dituju.

Sampar menyiapkan senjata rahasianya dan melihat lekat ke Mpu Gemana agar dia tidak terlambat membidik dalam kegelapan. Mpu Gemana memberi tanda untuk Sampar agar menahan serangan.

“Mereka semakin dekat, Sampar”

“Sekarang!” Sampar melontarkan beberapa pasaknya yang beracun ke arah yang yang ditunjukkan Mpu Gemana.

Beberapa paku segera melesat cepat menembus gelap malam. Bondan segera menyadari datangnya bahaya ketika melihat gerakan kilat yang dilakukan seseorang yang berada di depan api unggun. Mengetahui datangnya serangan lalu Ken Banawa segera melemparkan dua busur menyambut senjata rahasia yang meluncur deras ke arah mereka berdua.

Sekejap kemudian terdengar dentang benda beradu, kedua senjata bertumbuk di udara dan percikan api terlontar ketika dua ujung senjata beradu.

Seseorang dari sekitar api unggun pun melompat cepat menyerang pengintainya. Bersamaan dengan itu, orang itu memutarkan senjatanya yang menimbulkan suara gemerincing. Bondan segera melepaskan ikat kepalanya untuk menerima serangan pertama yang ditujukan padanya. Ken Banawa memperlihatkan kecemasan atas keselamatan Bondan. Bagaimanapun juga Ken Banawa belum mengetahui perkembangan olah kanuragan yang dimiliki Bondan. Dia tampak khawatir karena dia sudah hafal dengan suara senjata yang berputar itu.

(bersambung)

Kisah sebelumnya :

https://tansaheling.com/2017/10/24/bondan-lelana-ki-cendhala-geni-4/

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: