Lanjutan Api di Bukit Menoreh 398 – 1

Glagah Putih merayap mendekati gardu jaga, begitu pula Ki Ajar Gurawa. Kemampuan mereka menyerap bunyi telah cukup tinggi sehingga tidak ada suara yang terdengar para penjaga. Ki Ajar Gurawa menggamit Glagah Putih dan memberi isyarat untuk pergi meninggalkan gardu jaga. Keduanya surut perlahan lalu bangkit dan berjalan menuju dinding utara. Mereka meloncat dan segera bertelungkup rapat di atas dinding pembatas. Setelah mengamati keadaan dan jarak antar penjaga, Glagah Putih menyelinap turun mendekati seorang penjaga sebuah rumah kecil. Sedangkan Ki Ajar Gurawa berjalan jongkok menyusuri dinding dan bersembunyi di balik rimbun tanaman perdu.

Dalam pada itu, Ki Ajar Gurawa dan Glagah Putih telah mengetrapkan Aji Sapta Pangrungu untuk menandai tempat orang-orang yang sedang berbincang. Pendengaran Glagah Putih menangkap pembicaraan orang yang agaknya berada di sebuah ruangan dalam istana. Glagah Putih melesat secepat tatit mendekati Ki Ajar tanpa diketahui penjaga yang berada di dekatnya.

Katanya berbisik,”Ki Ajar mendengar orang bercakap di sebelah dalam?”

“Ya,” jawab Ki Ajar,” apakah kita bergeser ke sana?”

Glagah Putih menganggukkan kepala. Ki Ajar tertunduk dalam. Setelah menarik nafas dalam-dalam,” marilah. Kita harus berhati-hati. Kemampuan seorang pangeran Mataram sudah barang tentu tidak jauh jaraknya dengan kakakmu, Agung Sedayu,” berkata Ki Ajar.

Glagah Putih terdiam merenungi ucapan Ki Ajar. Lalu ia mendongakkan kepala dan memberi isyarat pada Ki Ajar untuk bergerak melalui atap. Sejenak kemudian, mereka berdua sudah berlompatan di atas atap. Meloncati satu bangunan ke bangunan lain tanpa menimbulkan suara. Setelah melewati beberapa bangunan, kedua orang berilmu tinggi itu telah berada di sebelah luar bangunan besar dan berukiran halus di daun pintu yang kokoh.

” Panembahan Hanyakrawati dan Ki Patih agaknya belum mengetahui kegiatan kita di Panaraga. Aku belum melihat seorang yang dicurigai sebagai petugas sandi,” kata seseorang.

“Atau mungkin petugas sandi kita yang gagal mengenali petugas Mataram,” berkata seorang yang lain.

“Kakang Mas Panji, agaknya kakang menganggap petugas sandi Panaraga,” berkata orang pertama kepada orang yang dipanggil Mas Panji.

“Tidak pangeran. Aku lebih mengkhawatirkan Mataram telah menyusupkan orang kemari,” berkata Mas Panji.

“Jika benar dugaanmu, perkiraan waktu yang mana digunakan kakang sebagai alasan khawatir?” orang yang dipanggil pangeran itu bertanya lebih dalam.

Dalam pada itu, di dekat setumpuk kayu sebelah menyebelah dengan ruangan itu, Glagah Putih dan Ki Ajar Gurawa bertukar pandang. Agaknya mereka mempunyai dugaan yang sama jika orang yang dipanggil pangeran itu adalah Pangeran Ranapati.

“Sejak Pangeran Jayaraga menggelar perang tanding memilih senapati. Sudah barang tentu Mataram mendengar, pangeran. Kabar itu akan mudah terhembus oleh angin timur,” jawab Mas Panji.

“Kau sepertinya tidak memberiku keleluasaan, kakang. Sedangkan gelar senapati itu juga diperlukan Pangeran Jayaraga untuk memperkuat susunan prajuritnya,” dengan nada tinggi orang yang dipanggil pangeran itu mengucap kata-kata.

“Pangeran keliru memberi arti ucapanku. Maksudku adalah orang-orang di Mataram mungkin telah berada di Panaraga. Kita terlambat untuk memberi batasan di setiap jalur keluar masuk. Seharusnya kita lakukan itu sebelum gelar senapati dibuka oleh Pangeran Jayaraga,” berkata tenang Mas Panji.

Sesaat teman bicara Mas Panji mengerutkan keningnya lalu menganggukkan kepala. Kemudian ia berkata,”jika begitu, sekarang aku akan panggil lurah prajurit yang sedang berjaga.”

“Pangeran Jayaraga akan bertanya jika kau lakukan itu. Ingat pangeran, istana ini bukan dalam pengawasanmu. Sedangkan Ki Tumenggung Purbasena dan Ki Tumenggung Wirataruna saat ini sedang bersama Pangeran Jayaraga.”

“Baiklah. Sekalipun aku khawatir malam ini ada penyusup yang memasuki istana.”

“Mereka akan menyerahkan nyawa semudah memijat buah ranti. Setiap lorong dan pintu telah ada prajurit jaga. Para perondan juga berkeliling dalam jarak dekat. Eyang Kalayudha sedikit memberiku ketenangan pada malam ini. Dari biliknya sekarang, tentu ia akan dapat mengenali detak jantung orang yang memasuki lingkungan istana.”

“Apakah kau belum tahu Eyang Kalayudha telah meninggalkan istana menjelang senja?”

“Kemana ia pergi?” bertanya Mas Panji sesaat setelah terkejut ketika mengetahui kepergian Eyang Kalayudha.

“Ia telah menuju pedukuhan sebelah menyebelah dengan Mataram. Kenapa denganmu hingga tidak mengetahui kepergian Eyang Kalayudha?” bertanya heran orang yang dipanggil pangeran itu. Mas Panji hanya tersenyum melihat wajah penuh keheranan di hadapannya.

“Tidak selamanya orang itu selalu bekerja. Ada saatnya untuk melenturkan jiwa yang mulai dilanda ketegangan,” desis  Mas Panji tanpa menyebutkan keberadaanya di waktu itu. Orang bertubuh tinggi itu rupanya belum mengenal kesukaan Mas Panji terhadap penari tayub. Lalu ia bangkit dari duduknya, orang itu menuju pintu dengan langkah panjang kemudian berjalan ke selatan. Ia menggerakkan tangan kepada Mas Panji untuk tidak bersuara. Keadaan dalam ruangan yang tiba-tiba sunyi menimbulkan pertanyaan bagi Ki Ajar dan Glagah Putih. Seketika mereka menyadari ketika lamat-lamat derit pintu terbuka mencapai pendengaran mereka. Menyadari kehadiran mereka agaknya telah diketahui, keduanya beringsut mundur lalu lenyap di balik dinding sebuah pondok kecil.

Panggraita orang yang dipanggil pangeran membawanya tepat menuju bangunan kecil yang digunakan kedua petugas Mataram bersembunyi. Glagah Putih yang sekilas melihat satu sosok bertubuh tinggi besar melintasi lampu minyak yang terpasang di tepi lorong. Ia tidak melupakan bentuk tubuh itu karena pernah dilihatnya di halaman depan rumah Pangeran Ranapati.

Glagah Putih dan Ki Ajar Gurawa beringsut semakin cepat mendekati dinding pembatas halaman.

“ Bunyikan tanda bahaya! Istana telah tembus oleh penyusup!” perintah Pangeran Ranapati kepada seorang prajurit yang melihatnya bergegas mendekati dinding yang juga sedang dicapai kedua petugas Mataram. Prajurit itu segera memukul kentongan kecil dengan nada titir.

“ Mereka mengetahui kehadiran kita, Glagah Putih. Siapkan dirimu. Satu dua lapis ilmu harus kau lontarkan dan segera kita keluar dari halaman ini,” berkata Ki Ajar yang telah menutup sebagian wajahnya dengan ikat kepala. Galagah Putih melakukan hal yang sama. Kini keduanya telah siap bertempur sekedarnya. Dengan wajah tertutup dan hanya sepasang mata yang terlihat, keduanya akan sulit dikenali oleh siapapun yang akan berada di belakang pondok, termasuk Pangeran Jayaraga.

Beberapa prajurit segera mengepung tempat itu. Tubuh Glagah Putih deras menembus prajurit yang belum rapat mengepung. Sebagian terpelanting oleh kibasan tangan Glagah Putih yang dilambari ajian Namaksara lapis tipis. Sebuah tombak milik prajurit berhasil direbutnya. Glagah Putih melayang ringan bertengger diatas dinding. Dalam pada itu, Glagah Putih mengarahkan pandangannya ke sejumlah orang yang terlihat keluar dari sebuah bangunan yang cukup besar.

“Pangeran Jayaraga,” desis Glagah Putih dalam hatinya. Terhentak detak jantungnya melihat satu sosok yang berlari di belakang Pangeran Jayaraga. Ingatan Glagah Putih agaknya cukup tajam ketika melihat orang yang berada di belakang Pangeran Jayaraga.

“Ki Tumenggung Wirataruna? Benarkah yang aku lihat?” berkata Glagah Putih sementara ia mengingat peristiwa disumbatnya saluran air oleh orang-orang suruhan Ki Tumenggung Wirataruna. Ia menimang tombak yang berada dalam genggamannya, tiba-tiba tombak itu meluncur deras tepat kea rah Tumenggung Wirataruna. Glagah Putih sengaja tidak mengarahkan lontaran tombaknya ke Pangeran Jayaraga. Ia hanya ingin sekedar menghambat laju Pangeran Jayaraga dan orang yang menyertainya.

Dalam pada itu, Ki Ajar Gurawa yang beringsut ke arah berseberangan dengan Glagah Putih telah bertempur dengan satu dua prajurit yang mendekatinya. Tanpa kesulitan yang berarti, Ki Ajar telah merobohkan keduanya dan merenggut pedang dari seorang prajurit.  Ki Ajar melengking panjang lalu membentak dahsyat. Tiba-tiba ia melepaskan pedang itu ke Pangeran Ranapati yang semakin dekat dengannya. Pangeran Ranapati melihat bahaya datang padanya, ia memutar berhenti sejenak lalu kedua tangannya mengembang dan mendorong pedang yang berjarak dua lengan darinya. Satu benturan membahana ketika kedua tenaga yang kasat mata berbenturan di udara. Pedang yang dilemparkan Ki Ajar terjatuh tanpa mampu menggapai tubuh Pangeran Ranapati, meskipun begitu pada akhirnya Ki Ajar telah bertengger sebelah menyebelah dengan Glagah Putih. Sejenak saling bertukar pandang, keduanya melompat turun dan lenyap dalam gelap malam.

Pangeran Ranapati dan Mas Panji Wangsadrana yang menyusulnya, berusaha mengejar kedua orang Mataram itu. Sejenak kemudian, kedua orang ini telah bertengger di atas dinding pembatas.

“Pandangan kita terbatas. Sangat berbahaya jika kita mencoba memburu mereka dalam gelap ini,” berkata Pangeran Ranapati. Mas Panji Wangsadrana hanya menganggukkan kepala. Ia sempat mengerlingkan mata dan melihat segumpal besar mendung mulai menghalangi sinar rembulan. Keduanya beranjak turun dan berjalan menghampiri Pangeran Jayaraga yang telah berada di tempat Glagah Putih bersembunyi.

“Ki Lurah, perintahkan beberapa orang berkuda untuk mencari kedua orang itu. Beritahukan pula ke setiap penjaga yang tersebar dan gardu-gardu yang berada di perbatasan,” perintah Ki Tumenggung Wirataruna setelah melihat Pangeran Jayaraga memandang ke arahnya dan menganggukkan kepala.

“Baik, ki tumenggung,” berkata Ki Lurah Sanggayudha sambil membungkuk hormat. Ia bergegas menuju ke barak pasukan berkuda Panaraga.

“Apakah kalian dapat mengenali kedua orang itu?” bertanya Pangeran Jayaraga yang telah berada di tempat itu. Sorot matanya penuh amarah, ia memandangi wajah setiap orang yang berada disekitarnya. Ketika dilihatnya Pangeran Ranapati tertunduk dalam-dalam,ia hampir membentaknya. Pangeran Jayaraga segera mengingat ucapan Pangeran Ranapati yang mengaku sebagai saudara tuanya, meski begitu, kehadiran dua orang penyusup mendekati istana telah menjadikan dadanya semakin pepat. Karena tidak ada satu orang yang menjawab, Pangeran Jayaraga menarik nafas dalam-dalam lalu berkata,”baiklah. Aku perintahkan Ki Tumenggung Wirataruna untuk lebih meningkatkan kewaspadaan dalam penjagaan. Dalam hal ini, aku ingin kakangmas Pangeran Ranapati turut dilibatkan. Karena bagaimanapun juga, kakangmas Pangeran Ranapati adalah senopati yang juga ikut bertanggung jawab di lingkungan istana.”

“Kedua orang itu jelas memiliki kemampuan sangat tinggi. Mereka dapat lolos begitu mudah dari kepungan prajurit, apalagi ada beberapa orang diantara kita yang berilmu tinggi. Kehadiran mereka malam ini di dalam lingkungan istana telah memberi arti yang mendalam. Bahwasanya kita telah meremehkan kemampuan orang-orang yang berada  di sisi berseberangan dengan kita. Aku telah mengingatkan berulang kali. Ki Rangga Agung Sedayu dan adiknya, serta beberapa orang dari Tanah Menoreh bukanlah orang berkemampuan rendah. Dengarkan aku, aku perintahkan kalian semua untuk meningkatkan kemampuan masing-masing sebelum hari yang ditetapkan itu tiba,” Pangeran Jayaraga menambahkan

Wajah Pangeran Ranapati dan Mas Panji segera terpancar memerah. Keremangan halaman cukup menolong kedua orang itu dari tatap mata orang-orang di sekitarnya. Pangeran Ranapati merasakan malu yang luar biasa. Perkataan Pangeran Jayaraga seperti mengoyak kulit wajahnya. Ia adalah senapati yang terpilih dari gelar tanding dan sudah barang tentu ilmu Pangeran Ranapati sangat tinggi. Kehadiran kedua orang yang menyusup di halaman istana telah merendahkan harga dirinya. Rasa malu itu telah menggetarkan jatungnya untuk berdentang lebih keras.

“Aku akan membalas penghinaan ini kepada orang-orang Mataram. Termasuk Pangeran Jayaraga,” berkata Pangeran Ranapati dalam hati.

Perasaan yang sama juga menggelayuti Mas Panji Wangsadrana. Ia mampu mengendapkan perasaannya lebih baik dari Pangeran Ranapati. Ketika didengarnya perintah dari Pangeran jayaraga untuk menambah jumlah prajurit dari kesatuan Pangeran Ranapati, ia segera merasakan dadanya bebas dari himpitan. Ia seakan merasa rencananya dapat berlanjut yaitu dengan menempatkan orang-orangnya di sekitar Pangeran Jayaraga.

Dengan wajah sedikit terangkat, Pangeran Ranapati menatap lurah prajurit dan berkata,” kau telah mendengar Pangeran Jayaraga menjatuhkan perintah. Tambahkan beberapa prajurit dari kesatuanku di sekitar istana.”

“Baik, Pangeran Ranapati,” kata lurah prajurit yang dimaksud.

Ki Tumenggung Wirataruna mengurungkan niatnya untuk menentang pendapat Pangeran Ranapati, ketika ia melihat Pangeran Jayaraga memberi isyarat untuk kembali memasuki ruangan yang mereka tinggalkan. Pangeran Jayaraga beserta dua orang yang mengikutinya kemudian meminta diri kepada Pangeran Ranapati dan Mas Panji Wangsadrana setelah memberikan beberapa pesan untuk dikerjakan.

“Agaknya Ki Tumenggung Wirataruna akan dapat menjadi penghalang bagi rencana kita, pangeran,” bisik Mas Panji setelah Pangeran Jayaraga mulai menjauhi mereka.

“Aku tidak mengkhawatirkannya. Ia mempunyai kesempatan yang serba sedikit jika harus berbalik badan menghadap ke Mataram,” tukas Pangeran Ranapati.

“Tetapi kita tidak boleh kehilangan kewaspadaan terhadapnya.”

Pangeran Ranapati mengangguk setuju, kemudian kedua orang ini meninggalkan sejumlah prajurit yang mulai bergeser melakukan penjagaan.

Dalam pada itu, gerimis mulai turun membasahi tanah Panaraga. Kedua sosok tubuh meluncur cepat, menyusup diantara halaman dan kebun milik penduduk. Keduanya sedang mendekati rumah Ki Madyasta. Sesekali terdengar suara guruh menggelegar memenuhi setiap jengkal udara. Ki Ajar dan Glagah Putih menangkap derap langkah kuda yang seakan mendekati mereka. Lalu keduanya merebahkan diri dalam parit yang mulai digenangi air yang lumayan deras mengalir. Cahaya petir sekali-sekali menerangi lingkungan sekitar mereka, agaknya parit kecil itu dapat melindungi tubuh mereka dari pandangan. Beberapa orang yang nampaknya adalah prajurit Panaraga sedang melintas di bawah pohon preh yang hanya berjarak beberapa belas langkah dari dua orang Mataram. Hanya kepala mereka saja yang sedikit tersembul keluar dari air.

“Agaknya kedua orang ini cukup cerdik dengan menghilangkan jejaknya di tengah gerimis seperti ini,” berkata orang bercambang lebat. Kawannya yang mempunyai tahi lalat di dagu itu mengiyakan tanpa bersuara.

Sejenak kemudian, orang bercambang lebat menebarkan pandangan seakan mencari sesuatu dalam kegelapan. Lalu katanya,” kita turun dari kuda. Kita berjalan menyusur kedua parit yang sebelah menyebelah ini. Yang lainnya tetap berada di jalan menuntun kuda.” Tangannya memberi isyarat arah yang akan dituju. Sementara ia dan orang bertahi lalat itu berjalan menuruni tepi parit yang landai, kedua temannya yang lain segera membawa kuda-kuda mereka berjalan beriringan.

“Empat orang,” kata Glagah Putih dalam hati. Dalam gelap itu ia masih mampu melihat Ki Ajar yang berada di depannya memberi isyarat untuk menyebar. Ia menggerakkan sedikit lengannya mengiyakan perintah Ki Ajar. Orang-orang Panaraga itu semakin dekat dengan keduanya dan mereka belum melihat kedua orang yang dikejar itu telah berbaring menunggu mereka.

Tiba-tiba satu suitan nyaring menghentak jantung orang-orang Panaraga. Dua bayangan meluncur deras menghampiri mereka. Seakan kedua bayangan itu muncul begitu saja dari dalam tanah. Orang bercambang itu segera menghunus senjatanya berupa seutas rantai yang ujungnya berbentuk lingkaran bulat berduri. Agaknya sebuah tendangan itu lebih dahulu menggapai dada orang bercambang. Senjatanya pun nyaris terlepas dari tangannya. Ia berguling cepat menjauhi orang yang menyerangnya. Dalam pada itu, Ki Ajar melepaskan serangannya pada orang bercambang dan beralih pada orang satunya yang menuntun kuda. Ki Ajar agaknya benar-benar tidak memberikan kesempatan kepadanya untuk menyadari apa yang sedang terjadi. Tiba-tiba saja Ki Ajar telah berada di depannya dan satu kibasan telapak tangan Ki Ajar telak menghantam keningnya. Orang itu roboh terkulai. Segera Ki Ajar mengamati orang bercambang yang berlari kecil menuju pada dirinya. Rantai yang terayun-ayun berputaran seperti kitiran itu menyambar kening Ki Ajar. Dengan tangkas Ki Ajar beringsut ke samping dan tanpa diduga oleh orang bercambang, Ki Ajar tiba-tiba menghantamkan lututnya ke lambung orang bercambang itu. Terdengar keluhan tertahan. Ki Ajar tidak memberinya kesempatan untuk tegak berdiri. Ia mencecar dengan kepalan tangan yang bergerak sangat cepat seperti puluhan kepalan mengepung orang bercambang. Dalam waktu singkat, orang bercambang telah terdesak hebat oleh gempuran Ki Ajar yang bertubi-tubi. Sementara rantainya terayun-ayun tidak tentu arah tanpa mampu membendung serangan Ki Ajar. Demikianlah pada akhirnya, Ki Ajar memperoleh keluasan bergerak. Dengan bertumpu pada satu tangan di atas tanah, Ki Ajar melancarkan satu dua tendangan mengarah pelipisnya. Tendangan Ki Ajar untuk terakhir kalinya telah menjatuhkan orang itu tertelungkup dan tak bergerak lagi.

“Ia masih hidup,” desis Ki Ajar yang berjongkok di sebelah orang bercambang. Kemudian Ki Ajar memiringkan tubuh orang bercambang agar tidak terbenam ke dalam lumpur jalanan.

Dalam pada itu, Glagah Putih segera menyeberangi jalan dan ia menerkam orang yang sedang menuntun kuda. Dua pukulan beruntun dapat menggapai dada dan tengkuk orang itu. Orang bertahi lalat yang sedang berjalan menyusur parit, dengan terburu-buru meloncat ke atas dan menerjang Glagah Putih. Pedangnya berkilauan ketika secercah cahaya kilat memebrsit di langit. Pedangnya terjulur mengarah dada Glagah Putih. Ia memang bermaksud menghabisi lawannya dengan cepat lalu membantu kawannya yang sedang terdesak hebat oleh Ki Ajar. Glagah Putih sempat melihat sambaran pedang orang yang bertahi lalat.  Ia dengan cekatan bergeser setapak mundurlalu mengayunkan tubuhnya ke samping. Pedang itu masih berdesing dan kini mengarah ke lehernya. Glagah Putih harus dapat menyelamatkan dirinya, meskipun seandainya ia terpaksa membunuh lawannya. Sebagai orang yang digembleng dengan ketat oleh Agung Sedayu dalam olah kanuragan dan olah batin, dalam hati Glagah Putih agaknya masih berusaha untuk menghindari pertumpahan darah. Maka, kemudian yang terjadi adalah perkelahian yang seru. Glagah Putih membalas serangan seperti angin ribut, ia telah meloloskan sabuk pemberian Ki Patih Mandaraka.

Dalam keadaan itu, orang yang ertahi lalat sudah tidak mempunyai pilihan lagi selain hidup atau mati. Benturan senjata telah beradu dan membungkam suara binatang malam. Sesekali terdengar orang bertahi lalat itu berteriak memaki Glagah Putih.

Orang bertahi lalat itu telah kehilangan pengamatan diri, ia bertempur tanpa perhitungan masak. Dalam keadaan putus asa karena tidak mampu menembus pertahanan Glagah Putih, orang bertahi lalat itu menggerakkan pedangnya seperti baling-baling. Ia mencoba sebisa mungkin melindungi diri dari kejaran ujung sabuk Glagah Putih.. Namun ia sadar bahwa usahanya itu adalah usaha yang sia-sia. Ia semakin memaki-maki habis-habisan karena Glagah Putih seakan mempermainkan dirinya.

Sebenarnyalah Glagah Putih sempat kebingungan melihat tata gerak lawannya yang tiba-tiba seperti tidak beraturan namun cukup membahyakan dirinya. Sejenak kemudian,ia melihat celah tipis di garis pertanan orang bertahi lalat. Glagah Putih mengayunkan sabuknya mendatar mengarah lambung lawannya, lalu tiba-tiba ia menarik sabuknya dan melompat selangkah seraya mengetrapkan ilmu dari garis peguruan Ki Sadewa. Telapak tangan Glagah Putih mampu menyentuh dada kanan lawannya, terdengar ia memaki kesakitan. Tubuh orang itu terhuyung-huyung ke belakang dan kemudian ia jatuh terlentang. Agaknya ia tidak mati dan jatuh pingsan. Dari bibirnya masih terdengar umpatan-umpatan kotor. Glagah Putih meloncat mendekatinya dan genggam tangannya terayun mengarah ke rahang lawannya yang telah roboh.

“Tahan!” berkata Ki Ajar sambil memegangi bahu Glagah Putih. Glagah Putih mendesah pelan. Ia kemudian menyadari jika ia hampir kehilangan pengamatan diri. Orang bertahi lalat itu sudah dalam ketakutan akan mati terbunuh dan ditinggalkan bgitu saja di tengah jalan. Namun karena janji yang akan didapatkannya, maka ia berkata,” bunuh dirilah anak muda. Engkau tidak akan pernah mampu membunuhku. Selambatnya besok siang, kami akan menemukanmu dan menggantungmu di tengah alun-alun.”

“Membunuhmu hanya akan mengotori tanganku. Aku tidak akan membunuhmu. Dan katakan kepada orang yang memerintahkanmu, besok selepas senja aku akan datang ke rumahnya,” berkata Glagah Putih dengan geram. Lalu ia menghentakkan kakinya ke tanah untuk melepas rasa kesalnya. Ki Ajar pun mengajaknya untuk segera meninggalkan tempat itu sebelum ada orang yang mengetahui pertempuran kecil itu.

“Biarkan kuda-kuda itu. Aku khawatir justru akan ada yang mengenalinya jika kita membawanya pulang,” berkata Ki Ajar. Glagah Putih tidak menghiraukan Ki Ajar, ia masih kesal karena pada dasarnya Gagah Putih tidak suka mendengar kata-kata kotor. Ia mempercepat langkahnya dan kembali menyusuri parit. Ki Ajar menghela nafas panjang melihat Glagah Putih. Ia juga mengagumi kemampuan anak muda itu dalam mengolah batin. Lalu Ki Ajar bergegas menyusul Glagah Putih menyusuri parit menuju rumah Ki Madyasta.

Mereka kemudian memasuki regol halaman rumah Ki Madyasta beberapa saat setelah bunyi kokok ayam pertama.

Rara Wulan terbangun ketika mendengar derap langkah orang di halaman. Ia pun bersiap menyambut kedatangan suaminya dan Ki Ajar Gurawa. Sejenak ia tertegun karena tiba-tiba kersik langkah kaki hilang dari pendengarannya. Rara Wulan bersicepat mengenakan pakaian rangkapnya. Panggraita Rara Wulan telah memberitahukan jika ada sesuatu yang berada di luar kewajaran. Dengan pakaian rangkapnya yang telah membalut tubuh selanjutnya ia menggeser perlahan selarak pintu biliknya, tanpa menimbulkan suara ia menyelinap keluar dari ruangan. Dalam pada itu, Ki Madyasta juga beranjak  pelan keluar dari biliknya. Sejenak keduanya bertukar pandang dan meletakkan telunjuk di depan bibir masing-masing.

“Langkahnya begitu ringan. Mungkinkah langkah kaki kakang Glagah Putih dan Ki Ajar? Mengapa mereka memasuki rumah dari halaman? Lebih baik aku bersiap bila memang harus terjadi pertempuran di rumah ini,” bertanya Rara Wulan dalam hatinya. Jantung Rara Wulan bergetar lebih cepat dari biasanya. Meskipun ia telah melewati banyak pertarungan, namun tugas penyamaran telah memberikan kesan lain dalam jantungnya.

“Seharusnya, mereka masuk dari pintu belakang. Apa yang telah terjadi?” Ki Madyasta bertanya-tanya dalam benaknya. Ia mengerling dan mengerti Rara Wulan sedang berada dalam kesiagaan tinggi. Ki Madyasta melangkah menuju ruang depan serta memegang hulu senjatanya.

Dalam pada itu, kedua murid Ki Ajar yang tidur di bilik bagian belakang agaknya belum terbangun. Rara Wulan melangkah ringan memeriksa keadaan di belakang rumah.

“Tidak ada suara apapun,” desahnya perlahan sembari memeriksa pintu bilik yang ditempati kedua murid Ki Ajar. Lalu ia menyeberangi bagian tengah, menghampiri Ki Madyasta yang menempel dinding sebelah menyebelah dengan ruang depan.

Sebenarnyalah kedua murid Ki Ajar bergerak pindah ke rumah Ki Madyasta seperti rencana semula. Sedangkan Ki Sembada akan tetap berada di rumah Ki Ajar hingga ayam jantan berkokok untuk ketiga kalinya. Demikianlah ketika Glagah Putih beranjak jauh dari rumah, kedua murid Ki Ajar memasuki rumah melalui pintu belakang.

Dari sebelah luar rumah Ki Madyasta, terdengar burung beluk watu berbunyi. Keadaan seperti itu semakin mencurigakan bagi Rara Wulan dan Ki Madyasta. Sebagai orang yang berilmu tinggi, Rara Wulan mengetrapkan Aji Pameling kepada suaminya. Tetapi Glagah Putih sama sekali tidak memberikan jawaban. Sementara Rara Wulan telah berdiri di sebelah Ki Madyasta, terdengarlah derit pintu yang terbuka. Kemudian dari pintu bagian dalam keluarlah Nyi Kantil. Rara Wulan memberi isyarat untuk diam dan memintanya kembali ke dalam bilik. Ki Madyasta tiba-tiba bangkit dan mendekati Nyi Kantil. Tidak disangka-sangka oleh Nyi Kantil, jemari kokoh Ki Madyasta memijat salah satu urat di punggungnya. Dengan cekatan Ki Madyasta merangkul tubuh Nyi Kantil yang lemas terkulai. Ki Madyasta bergegas membopong tubuh Nyi Kantil ke atas pembaringan. Jantungnya berdegup kencang melihat bibir Nyi Kantil yang seakan tersenyum kepadanya. Tak berhenti di situ, darah Ki Madyasta mengalir lebih deras dan ia merasakan kegugupan yang tiba-tiba mencengkeram jantungnya.

“Maaf Nyi Kantil. Aku terpaksa menjadikanmu pingsan karena kita tidak tahu apa yang akan kita hadapi,” desah Ki Madyasta pelan. Mata Ki Madyasta lekat menatap wajah Nyi Kantil. Gemuruh di dadanya seakan-akan ingin mendesak keluar untuk berkata sebenarnya. Peluh membasahi kening Ki Madyasta. Cepat-cepat ia mengalihkan pandangannya. Ia harus mengolah rasa dalam hatinya.

“Baiklah, aku akan membangunkan kedua murid Ki Ajar,” desis Ki Madyasta dalam hatinya, lantas ia memberi pertanda kepada Rara Wulan bahwa ia akan ke bilik kedua murid Ki Ajar.

Sejenak kemudian ia telah berada di depan pintu bilik.

“Lenggana, Paripih!” bisik Ki Madyasta memanggil kedua murid Ki Ajar. Diketuknya daun pintu dengan ujung kukunya.

Lenggana yang berkemampuan lumayan dan pendengaran yang terlatih segera mendengar suara yang memanggilnya.

“Lenggana, mendekatlah tanpa ribut,” bisik Ki Madyasta sejenak ketika ia mendengar suara seperti orang beringsut.

Lenggana yang mengenali pemilik suara itu, lantas membangunkan adiknya dan memberi perintah yang sama. Lenggana kemudian merunduk dan membuka pintu perlahan.

“Ki Madyasta,” berkata Lenggana namun ia tak sempat melanjutkan kalimatnya. Ki Madyasta menyuruhnya diam dan dengan gerakan tangan ia membagi tugas bagi Lenggana dan adiknya.

Ki Madyasta beserta Paripih menuju pintu belakang. Lenggana beranjak ke depan menyertai Nyi Rara Wulan. Rara Wulan berpaling ke belakang dan tersenyum pada Lenggana sambil menunjuk satu tempat baginya untuk mengamati keadaan. Berbagai pertanyaan bergumul dalam benak Lenggana, Rara Wulan memberi isyarat untuk mengendapkan diri seakan ia tahu apa yang berkecamuk dalam pikiran Lenggana. Lenggana segera memahami isyarat yang diberikan Rara Wulan.

“Agaknya sesuatu yang sangat rawan telah terjadi. Nyi Rara Wulan dan Ki Madyasta pun seperti belum mengetahui apa sebenarnya yang terjadi di luar. Hei, guru dan Ki Glagah Putih belum kembali ke rumah?” desis Lenggana dalam hati. Ia segera bersiap diri menghadapi kemungkinan yang akan menimpa mereka.

Glagah Putih dan Ki Ajar telah melintasi jalan yang akan melewati pintu belakang rumah Ki Madyasta. Namun demikian, mereka mengurungkan niatnya setelah melihat sejumlah orang berkuda sedang melakukan ronda. Lantas mereka mengambil jalan memutar menuju regol rumah. Sebenarnyalah ketika Glagah Putih dan Ki Ajar memasuki halaman rumah, keduanya mendengar gemerisik dedaunan pohon jambu yang tidak sedang tertiup angin. Pohon jambu yang berada di sebelah luar halaman rumah memang terlindung dari setiap pandangan orang yang melintasi halaman rumah. Sebelah menyebelah dengan pohon jambu adalah pohon asam dan pohon tanjung. Penglihatan Glagah Putih serta Ki Ajar terhalang gelapnya malam dan rerimbun daun. Kedua orang Mataram itu segera memisahkan diri. Glagah Putih menyusup ke sebelah kiri rumah dan melenting di sebuah dahan pohon tanjung. Sedangkan Ki Ajar Gurawa menyelinap ke sebelah kanan dan bersembunyi di balik rumpun bambu. Beberapa lama mereka berada di tempat yang berbeda menanti keadaan yang dapat saja berubah.

Sementara itu, beberapa orang berkuda telah berada di dekat dinding halaman belakang.

“Apakah kau melihat bayangan orang di sekitar sini?” bertanya orang yang tinggi dan otot lengannya Nampak menonjol.

“Aku tidak melihat apapun, Ki Kebo Langit,” kata seorang yang berusia agak muda.

“Tentu aku tidak salah melihat. Orang ini sudah barang tentu memiliki ilmu yang cukup. Lihatlah, mereka tidak meninggalkan jejak di tanah yang basah,” berkata Ki Kebo Langit sambil menunjuk ke bagian tanah yang dimaksudkannya. Keremangan lampu minyak ditambah sesekali kilat yang menyambar agaknya memberikan penerangan yang cukup bagi orang-orang yang menyertai Ki Kebo Langit.

“Kita periksa sekitar rumah ini dan lorong-lorong jalan yang berkisar beberapa ratus langkah dari sini. Lakukanlah!” perintah seseorang berambut panjang yang berpakaian seperti prajurit Panaraga.

Tiga empat orang kemudian menyebar menyusuri setiap lorong jalan. Sementara Ki Kebo Langit dan lurah prajurit berpindah ke jalan yang berada di depan rumah Ki Madyasta. Agaknya perintah Pangeran Jayaraga melalui Ki Tumenggung Wirataruna telah mencapai gardu-gardu dan para prajurit yang melakukan perondaan. Dalam pada itu, Ki Kebo Langit bersama dengan Ki Lurah Prajurit Waluya sedang menuju istana kadipaten. Perintah Pangeran Jayaraga diterima oleh Ki Waluya saat menjumpai beberapa prajurit di sebuah gardu, yang terletak beberapa puluh tombak di sebelah utara, dari istana kadipaten.

 

(bersambung)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: