Lanjutan Api di Bukit Menoreh 398 – 4

Ki Lurah Kertawirya memasuki halaman barak pasukan khusus yang cukup luas. Dengan langkah lebar dan cepat ia menuju bilik tempat Ki Rangga Agung Sedayu sedang menunggu dirinya.  Agung Sedayu mempersilahkan Ki Kertawirya untuk memasuki ruangan dan duduk di tempat seperti biasanya.

“Apakah ki lurah mengalami kesulitan di tanah perdikan?” bertanya Ki Agung Sedayu beberapa saat setelah saling bertukar kata tentang keadaan masing-masing.

“Tidak ki rangga. Dalam kesempatan itu, kami berbicara banyak mengenai keadaan tanah perdikan dan beberapa tempat. Ki Argajaya memberi petunjuk tentang beberapa tempat yang kemungkinan dijadikan sebagai tempat berkumpulnya orang-orang yang akan menyerang Mataram.”

“Ki Argajaya ikut dalam pembicaraan itu? Sungguh sangat menggembirakan dan membahagiakan jika Ki Argajaya sudah bangun dari mimpi panjangnya.”

Tersenyum Ki Kertawirya melihat wajah pemimpinnya yang sumringah dan tersenyum lebar ketika mendengar nama Ki Argajaya disebut-sebut. Setelah ki rangga mengendapkan perasaannya, raut wajanya berubah menjadi sungguh-sungguh saat ia bertanya tentang keadaan di sekitar rumahnya. “Berarti Pangeran Ranapati telah memperhitungkan segala sesuatunya termasuk keberadaan paskan khusus Mataram di tanah ini. Baiklah ki lurah, kita akhiri pertemuan ini. Aku akan menengok keadaan rumahku dan silahkan ki lurah mengambil waktu untuk beristirahat. Sementara Ki Sanggabaya sedang bersiap diri untuk kegiatan malam ini,” lalu Ki Rangga Agung Sedayu memberi beberapa pesan untuk dikerjakan esok hari jika ia berhalangan untuk datang ke barak. Setelah itu ki rangga meminta diri untuk meninggalkan barak, keduanya lantas berpisah dan ki rangga menghentak kuda tidak begitu cepat menuju rumah setelah keluar dari regol halaman barak pasukan khusus.

Nyi Sekar Mirah menyambut kedatangan suaminya dan segera menyiapkan makan malam, sementara itu ki rangga menuju ke pakiwan sekedar membersihkan diri. Sementara Ki Jayaraga dan Empu Wisanata telah menunggu ki rangga di ruang tengah. Tak berapa lama setelah mereka menyelesaikan makan malam, Nyi Sekar Mirah dibantu oleh Nyi Dwani segera membereskan peralatan makan. Nyi Sekar Mirah memang sengaja meminta Nyi Dwani dan ayahnya untuk menginap di rumah Agung Sedayu. Sementara Ki Waskita masih berada di rumah Ki Gede Menoreh menemani Ki Bagaswara.

“Angger Agung Sedayu, dengan membosankan aku mengamati orang yang berada di sekitar ligkungan ini. Agaknya aku mengenali orang yang menjadi penjual dawet di depan rumah Ki Sunu. Aku sempat kebingungan, apakah penjual dawet itu memang mengamati rumah ini atau mengamati istri Ki Sunu? Sedangkan Nyi Sunu sendiri juga seorang wanita cantk dan rajin,” celetuk Ki Jayaraga dengan mata berkedip ke arah Empu Wisanata.

Senyum lebar Empu Wisanata menyambut kerlingan Ki Jayaraga, lalu,” Ki Jayaraga ini sedang kesulitan membedakan antara penjual dawet dengan padinya yang mulai membungkuk, ki rangga.”

Ketiga orang itu kemudian berderai tawa mendengar canda yang sempat terjadi diantara mereka. Sementara Nyi Dwani yang mendengar percakapan itu dari dapur hanya tersenyum pada Nyi Sekar Mirah dan bertukar pandang.

Kemudian Agung Sedayu menguraikan rencananya malam itu untuk mengamati lingkungan pesanggrahan Ki Tumenggung Wirataruna.

“Aku ikut denganmu, ngger,” Ki Jayaraga mengajukan diri. Kemudian,”orang yang berlaku seperti penjual dawet itu mempunyai kemampuan yang cukup tinggi. Bukan aku mengecilkan ilmu yang kau miliki,ngger, namun siapa saja yang berada di sana masih cukup gelap untuk diketahui.”

Ki Rangga Agung Sedayu mengalihkan pandangannya ke Empu Wisanata seolah meminta pendapat dari orang tua yang sudah masak dalam kehidupan. Apalagi semenjak Empu Wisanata sempat mengikuti jejak Ki Saba Lintang untuk mendirikan Perguruan Kedung Jati. Empu Wisanata tidak segera mengucapkan kata-kata. Ia membutuhkan waktu untuk memberikan pendapatnya. Bagaimanapun yang dikatakan oleh Ki Jayaraga memang benar adanya. Akan tetapi ia juga merasa tidak enak jika akhirnya Ki Rangga Agung Sedayu merasa terganggu dalam menjalankan rencananya. Sejenak ruangan itu tercekam keheningan. Setiap orang larut dalam pikiran dan bayangan masing-masing.

“Angger Agung Sedayu, sebenarnya Ki Jayaraga justru mengkhawatirkan jika rencanamu tidak berjalan seperti harapanmu. Ia merasa harus turut serta karena mungkin telah mengukur kemampuan Ki Sanggabaya. Mungkin ia merasa akan dapat mengalihkan kehadiran prajurit khusus dari perhatian  penjual dawet itu. Dengan begitu, mereka masih akan beranggapan bahwa pasukan khusus Mataram masih belum mengetahui kesiapan mereka,” Empu Wisanata memecah keheningan.

“Aku harap angger dapat menahan Ki Sanggabaya. Angger harus dapat menghindarkan pertempuran yang tidak perlu. Aku membantu angger Agung Sedayu karena memang kita semua mempunyai tanggung jawab pada tanah perdikan ini. Selagi aku berada di luar malam ini, Empu akan berada di dalam rumah.”

“Baiklah, kiai berdua. Aku akan menyertakan Ki Jayaraga malam ini,” Ki Rangga Agung Sedayu akhirnya mengambil satu keputusan. Ia menyadari meskipun ia adalah pemimpin tertinggi pasukan khusus Mataram yang berada di Tanah Perdikan Menoreh, kehadiran Ki Jayaraga dan Empu Wisanata tetap tidak dapat dikesampingkan. Keluasan wawasan dan perasaan yang telah nyaris mengendap dalam diri keduanya serba sedikit masih mempengaruhi Agung Sedayu dalam berbuat di Tanah Perdikan Menoreh.

“Mereka dapat saja mewakili perguruan-perguruan besar. Dan perselisihan dengan Panaraga ini dapat mengundang orang untuk berniat dan berbuat apa saja,” kata Agung Sedayu kemudian. Dua orang tua itu saling pandang, kemudian mengangguk. Agung Sedayu beranjak bangun dan memanggil Sukra untuk bergabung bersama mereka.

Setelah Sukra berada di tengah-tengah mereka, Agung Sedayu berkata,” Sukra, malam ini kau ajak beberapa pengawal pedukuhan berjaga-jaga di sekitar lingkungan. Dan buatlah kesan seolah-olah rumah ini tidak sedang dalam penjagaan siapapun. Empu Wisanata akan berada di dalam, begitu juga Nyi Sekar Mirah dan Nyi Dwani yang malam ini akan menginap di rumah.” Lalu ia menambahkan,” Kita matikan semua lampu kecuali di yang ada di dalam bilik. Kita harus dapat mengesankan rumah ini sedang dalam keadaan lengah.” Agung Sedayu menebarkan pandangan ke sekelilingnya. Ki Jayaraga dan Empu Wisanata serta Sukra terlihat memaklumi dan setuju dengan rencana Ki Rangga Agung Sedayu.

Sukra sambil menganggukkan kepala,” Baik ki rangga. Aku minta diri dahulu. Aku akan segera mengajak Kliwon serta Kang Mardi.”

“Lakukanlah!” jawab ki rangga dengan senyum di bibirnya. Sukra kemudian meminta diri dan bergegas keluar rumah. Sesuai pesan ki rangga, Sukra melangkahkan kaki dengan tenang dan tidak terburu-buru. Agung Sedayu bangkit menemui istrinya dan mengatakan jika ia akan kembali menjelang fajar. Nyi Sekar Mirah pun memaklumi tugas-tugas seorang orajurit seperti suaminya.

“Berhati-hatilah kakang,” kata Sekar Mirah. Agung Sedayu kemudian meminta diri kepada Empu Wisanata dan menuju rumah Ki Gede Menoreh melalui pintu butulan. Sedangkan Ki Jayaraga melangkah keluar rumah melalui halaman depan.  Ki Jayaraga dengan langkah kaki yang tenang berjalan menuju ke pedukuhan yang letaknya di kaki bukit tempat pesanggrahan Ki Tumenggung Wirataruna. Seperti pesan Agung Sedayu, ia akan menyembunyikan dirinya di sekitar pohon nangka yang cukup besar. Dalam pada itu, agaknya kepergian Ki Jayaraga diketahui oleh seorang yang membawa seikat kayu bakar. Orang ini berada tak jauh dari rumah Ki Rangga Agung Sedayu. Ia berada di balik sebuah batu yang cukup besar untuk menutup dirinya dari penglihatan orang yang berlalu lalang. Serimbun tanaman perdu juga ikut mendukung dirinya lebih tersamar.

“Di permulaan malam seperti ini, tak pantas bagi seorang senapati yang namanya menembus cakrawala untuk memejamkan mata. Apalagi kabar yang aku dengar adalah ilmunya nyaris menyamai Panembahan Senapati,” desis orang itu dalam hati lalu,“ akan tetapi menyusup masuk ke dalam rumah itu sama juga dengan membuka rahasia yang sudah tertutup baik selama ini.” Kemudian ia berhati-hati mengikuti kepergian Ki Jayaraga.

Tak berapa Agung Sedayu telah berada di dekat rumah KI Gede Menoreh. Ia berjumpa dengan beberapa perondan, ia berhenti sejenak untuk sekedar bertukar salam. Ki Rangga Agung Sedayu telah berdiri beberapa langkah di regol kediaman Ki Gede Menoreh. Ia melihat Ki Gede Menoreh dan Prastawa sedang duduk bersama Ki Waskita dan Ki Bagaswara. Setelah menyapa pengawal yang berada di gardu penjagaan, ia  pun segera mengayunkan langkahnya menaiki pendapa rumah Ki Gede Menoreh.

Ki Gede segera berdiri menyambut kedatangan Ki Rangga Agung Sedayu. Percakapan akrab pun mulai menghangatkan suasana. Ki Bagaswara menyempatkan diri secara khusus menanyakan keadaan Ki Rangga Agung Sedayu dan keluarganya. Sementara Ki Waskita dapat merasakan ketulusan Ki Bagaswara yang masih menyimpan sebuah keinginan untuk berbicara sendiri dengan Agung Sedayu.

Sebenarnyalah bahwa situasi yang semakin panas di antara Mataram dan Panaraga ini ikut mempengaruhi keadaan di beberapa kademangan. Semenjak kehadiran Pangeran Ranapati dan pengikutnya, banyak sekali didengar kabar-kabar buruk tentang pemerintahan Panembahan Hanyakrawati. Di Panaraga, Pangeran Ranapati yang telah diangkat sebagai senapati telah membuat pertimbangan-pertimbangan tertentu yang akan dapat menjadi bahan sikapnya. Pertimbangan itu jug a memberi pengaruh pada Pangeran Jayaraga selaku Adipati Panaraga. Ditambah beberapa orang pengikut Pangeran Ranapati yang berada dalam pasukan, kesatuan prajurit Panaraga mulai menunjukkan keadaan yang sedikit memburuk. Sementara itu, beberapa tumenggung dan senapati yang masih melihat Mataram merasakan tidak ada kesempatan lagi untuk berbuat sesuatu untuk mencegah peperangan yang mungkin saja akan segera terjadi.

Namun diamnya mereka itu tidak berarti mereka tidak melakukan suatu perbuatan. Namun mereka menyadari, bahwa mereka dituntut untuk lebih siaga dan waspada menghadapi perkembangan keadaan.

Dalam pada itu, Pangeran Ranapati dan Mas Panji Wangsadrana mulai mengembangkan pasukan khusus di Panaraga. Meski mereka belum menunjukkan hasil yang menggembirakan, akan tetapi Pangeran Jayaraga menyambut baik upaya yang dilakukan kedua orang itu. Pangeran Ranapati dan Mas panji Wangsadrana mempercayakan pengembangan pasukan khusus itu kepada Ki Lintang Juwana, seorang yang menjadi kepercayaan Eyang Kalayudha. Pangeran Ranapati dan Mas Panji Wangsadrana lebih sibuk dengan menjalin hubungan dengan daerah-daerah yang mengelilingi Mataram. Termasuk membuka kerjasama dengan perguruan-perguruan olah kanuragan dan kelompok-kelompok yang tidak jelas tujuan dan maksudnya. Bagi keduanya, yang lebih penting adalah mengumpulkan banyak orang dan meraih tujuan akhir. Pembagian hasil kerja akan ditentukan kemudian sesuai dengan peran masing-masing golongan.

Malam itu di Tanah Perdikan Menoreh, beberapa orang yang bertemu di rumah Ki Gede mulai membicarakan tentang rencana-rencana untuk melumpuhkan para pengikut Pangeran Ranapati. Sekalipun begitu, Ki Gede tetap merasakan pentingya untuk meningkatkan kemampuan pasukan pengawal meskipun mereka telah ditempa oleh banyak pertempuran.

“Ki Gede, apa yang dapat aku lakukan untuk membantu Tanah Perdikan dalam waktu sekarang ini?” Ki Bagaswara mengajukan diri.

“Kiai, sekalipun aku adalah kepala tanah perdikan. Dan sepenuhnya aku menyadari bahwa aku harus meningkatkan kemampuan para pengawal yang berada di bawah wilayahku.” berkata Ki Gede. Lalu, “akan tetapi kelangsungan pengawal telah aku limpahkan pada Prastawa. Prastawa sendiri harus memikirkan bahwa para pengawal Tanah Perdikan juga harus mendapat pembinaan secara khusus dan lebih mendalam, karena kita belum tahu kemampuan orang-orang Panaraga yang mungkin saja berada di atas selapis dari Madiun.”

Ki Gede Menoreh menengok Prastawa dan mempersilahkan Prastawa untuk menjawabnya. Ki Gede masih memberikan tuntunan lebih jauh kepada Prastawa sebagai Kepala Pasukan Pengawal Tanah Perdikan Menoreh. Lalu Ki Rangga Agung Sedayu,” Ki Bagaswara, sedikitnya aku ingin para cantrik kiai dapat pergi ke Jatianom. Di bawah arahan paman Widura, aku berharap para cantrik kiai dapat memperkaya ilmu dan sebaliknya, para cantri Orang Bercambuk dapat mendalami keluasan ilmu dari kiai. Dan dalam waktu itu, Ki Bagaswara dapat membantu Ki Jayaraga mendorong pengawal Tanah Perdikan lebih maju. Apakah Ki Gede mengijinkan Ki Bagaswara membantu Ki Jayaraga?” berkata Agung Sedayu sambil menatap Ki Gede Menoreh.

Ki Gede dengan bibir terkatup hanya mengangguk-angguk. Ia merasakan bahwa waktu yang tersedia cukup sedikit sedangkan orang-orang yang berkepentingan dengan Panaraga semakin bertambah jumlahnya. Keadaan itu telah ia dengar dari Prastawa sesuai laporan petugas dari pengawal pedukuhan.

“Baiklah, aku kira memang kehadiran Ki Bagaswara di tengah-tengah pasukan pengawal serba sedikit akan meningkatkan kekuatan mereka. Angger Agung Sedayu, aku dapat memperkirakan arah rencanamu. Untuk itu Ki Waskita akan tetap berperan sebagai pengayom di antara pasukan pengawal jika Ki Jayaraga kesulitan membagi waktu,” akhirnya Ki Gede memenuhi harapan Agung Sedayu. Keputusan Ki Gede itu disambut lega oleh Ki Jayaraga yang mengerti tingkat ketinggian ilmu Ki Bagaswara.

Sambil terbatuk-batuk, Ki Waskita berkata,” dengan begitu, Ki Jayaraga akan dapat pergi ke sawah lebih lama lagi karena ada ki lurah baru yang siap membantunya.”

Orang yang mendengar canda Ki Waskita pun tersenyum kecil karena mereka mengetahui bahwa Ki Jayaraga semakin lama semakin sulit untuk berpisah dengan padi dan ikan di blumbang.

Menjelang tengah malam setelah setiap orang menyatakan gagasan, Ki Gede pun menutup pertemuan lalu meminta Ki Rangga Agung Sedayu tinggal untuk sementara waktu. Agaknya orang-orang memahami jika Ki Gede akan mengatakan sesuatu yang penting dan hanya untuk didengar oleh Agung Sedayu. Tak lama kemudian hanya Ki Gede Menoreh dan Agung Sedayu yang tinggal.

“Aku mempunyai perasaan bahwa kau akan melakukan sesuatu pada malam ini, ngger.”

“Aga­­knya aku tidak dapat menghindar dari panggraita Ki Gede,” kata Agung Sedayu sambil tersenyum. Lalu ia menundukkan kepala. Berbagai prasangka kemudian muncul dalam hatinya namun nalar Agung Sedayu masih dapat meluruskan segala macam dugaan yang timbul dari hatinya.

“Angger, kau adalah orang yang aku anggap sebagai anak tertua dari seluruh anak-anak muda di tanah perdikan. Aku ingin menitipkan Pandan Wangi kepadamu jika terjadi sesuatu yang buruk menimpa dirinya,” tatap mata Ki Gede menerawang jauh menembus kegelapan malam. Jantung Agung Sedayu seakan berhenti berdetak mendengar ucapan Ki Argapati.

“Mengapa Ki Gede berkata seperti itu?”

Ki Gede mencoba untuk mengendapkan perasaannya. Sebenarnyalah ia merasakan akan ada sesuatu yang besar dan buruk yang akan terjadi pada putri satu-satunya. Ia mencoba mengatakan itu kepada Ki Waskita dan Ki Waskita pun memberi tanggapan yang tidak jauh dari panggraita Ki Gede Menoreh.

jgYz81513585003

“Tidak ada apa-apa,ngger. Hanya kegelisahan seseorang yang sebenarnya sudah tiba waktunya untuk melihat wajah Yang Maha Agung,” nada mendalam keluar menyertai perkataan Ki Gede. Dada Ki Gede terasa pepat ketika ia membiarkan perasaannya keluar dari setiap relung di hatinya. Ki Gede adalah orang yang telah masak dalam getirnya kehidupan sehingga ia mampu mengendapkan perasaannya sebelum Agung Sedayu dapat memahami sepenuhnya arti pembicaraan mereka.

Kemudian,” berhati-hatilah. Agaknya untuk memasuki tempat yang berbahaya itu tidak saja diperlukan seorang yang memiliki pengalaman yang luas, namun juga kemampuan mengendalikan hati.”

“Kita masih akan melalui setengah dari malam. Semoga dalam waktu yang tersisa ini aku akan mendapatkan bahan untuk membuat pertimbangan terhadap kemungkinan yang dapat terjadi.”  berkata Agung Sedayu.

“Bagus,” berkata Ki Argapati. Lantas ia mempersilahkan Agung Sedayu untuk segera menjalankan rencananya,“ aku minta besok sudah mendapat kabar darimu.”

Demikianlah maka Agung Sedayu meminta diri dan menuju ke pohon nangka besar di pedukuhan yang letaknya di kaki bukit tempat pesanggrahan itu berada. Agung Sedayu berjalan cepat mengambil jalan pintas menuju tempat yang telah ditentukan. Sementara itu, Ki Lurah Sanggabaya telah berada di tepi tanggul yang terletak tidak jauh dari tempat Ki Jayaraga menyembunyikan diri.

 

(bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: