Bara di Borobudur 1

Kao Sie Liong menerobos kepungan api yang melingkari gedung perpustakaan di sebelah barat istana Kaisar Ning Tsung. Ketajaman pikirnya sangat membantu dalam memperkirakan serangan mendadak yang sangat liar seperti yang terjadi ada malam itu. Sejumlah perwira muda dibantu oleh para prajurit yang setia telah bersiaga mengawasi istana kaisar Ning Tsung. Ketika terompet tanda bahaya dibunyikan dari sebelah barat istana, Kao Sie Liong bergegas meloncat ke punggung kuda dan memacu sangat cepat mendahului para prajurit. Jenggotnya yang rapi terawat berkibar-kibar terhempas angin malam. Sinar mata Kao Sie Liong  menyiratkan mata seorang yang benaknya tidak dibebani sepenuhnya dengan carut marut kekuasaan dan kepentingan.

“Aku tidak dapat membiarkan orang-orang liar itu dapat menguasai istana ini dengan mudah. Seandainya benar jika mereka berada di pihak Suku Jurchen, tentu hal ini akan mudah untuk diselesaikan. Akan tetapi permasalahan ini akan menjadi rumit jika pada akhirnya mereka mempunyai kepentingan yang tersembunyi, karena dengan begitu Suku Jurchen pun akan menghadapi kekalutan yang tak akan kunjung usai,” desah Kao Sie Liong dalam hati ketika ia menatap kobaran api dari gedung perpustakaan. Kao Sie Liong sepenuhnya memahami hanya dengan membebaskan diri dengan sadar dan bebas, maka hidupnya akan menjadi penuh dengan pengabdian kepada kemanusiaan. Dalam hal ini, kesetiaan Kao Sie Liong kepada kaisar Ning Tsung sedang diuji dengan segelintir teman-temannya yang berbalik arah dengan berpihak pada Suku Jurchen.

Kobaran api menjilat setinggi dinding istana Kaisar Ning Tsung. Lengkung tajam yang menjadi ujung tombak Kao Sie Liong mengeluarkan sinar putih yang menyelimuti tubuhnya dari jilatan api. Sementara itu, Toa Sien Ting meneriakkan perintah untuk dilaksanakan oleh para pengikutnya yang bertempur berhadapan dengan pasukan pengawal Kaisar Ning Tsung. Lelaki bertubuh sedikit pendek dan berbadan gempal ini sesekali mengibaskan senjatanya yang berupa rantai bergerigi tajam pada ujungnya. Umpatan kotor keluar dari bibirnya yang terbalut dengan kumis tipis. Para pengikutnya agaknya telah terbiasa bertempur sambil memaki-maki sehingga para pengawal istana menjadi risih dan sedikit terganggu dengan kata-kata kotor itu.

“Kalian akan mendapatkan kemuliaan jika malam ini dapat menguasai Kaisar Ning Tsung. Emas, permata dan perhiasan lainnya bahkan para wanita yang berada di dalam istana itu akan segera menjadi milik kalian sepenuhnya!” seru Toa Sien Ting yang kemudian disambut teriakan kasar para pengikutnya. Sorak sorai itu berhenti dengan sendirinya ketika sejumlah perwira muda mengikuti jejak Kao Sie Liong, menerjang kepungan pengikut Toa Sien Ting. Para perwira ini berkelebat sangat cepat dengan pedang yang berputaran bagaikan badai menerjang batu karang. Perwira-perwira muda ini sebetulnya adalah para perwira kerajaan yang sedang melakukan penyelidikan. Mereka adalah orang yang memiliki kemampuan tinggi. Kaisar Ning Tsung dan Menteri Zhang Xun Wei membentuk sepasukan khusus untuk menyelidiki keberadaan sekelompok orang yang berilmu tinggi yang akan membelot pada Suku Jurchen. Pengikut Toa Sien Ting tercekat, untuk sesaat mereka tidak tahu harus berbuat apa untuk membendung laju para perwira yang setia pada Kaisar Ning Tsung.

Seorang dengan perawakan gemuk dan perut buncit menatap tajam pertempuran yang terjadi di bawah tempatnya berdiri. Dari tempatnya berdiri, ia dapat melihat jika gedung perpusakaan itu dijaga oleh tiga lapis prajurit. Sedangkan dari kejauhan, ia dapat memperkirakan jika istana kaisar NIng Tsung dikelilingi parit selebar satu lontaran tombak. Lalu empat lapis barisan prajurit dan satu pasukan berkuda.  Ia berdiri di atas atap gedung yang lebih kecil dan terletak di sebelah utara gedung perpustakaan. Bibirnya sedikit tebal dan lengannya menggambarkan tenaga yang kasar namun kuat. Rambutnya yang panjang terjurai segaris dengan bahu. Tatap matanya lekat menatap jalannya pertempuran. Ia lantas melayang turun, sebatang tombak dengan ujung berbentuk bulan sabit  yang digenggamnya bergulung-gulung sangat cepat mengurai serangan para perwira Kaisar Ning Tsung.

“Toa Sien Ting, aku tidak bermaksud mencampuri urusan orang lain. Apalagi urusan yang terkait dengan dirimu. Tetapi telah menjadi persetujuan kita bersama bahw pekerjaanku adalah menolongmu agar tidak terjerat perangkap Kao Sie Liong.”

“Tak usah kau berkata seperti itu, Chow Ong Oey.  Karena kau sendiri pun mempunyai kepentingan jika istana ini berada dalam kuasaku,” seru Toa Sien Ting. “Sebaiknya kau katakan itu pada si tua Tung Fat Ce’”

“Persetan!” bentak Chow Ong Oey. Para pengikut Toa Sien Ting nampaknya tidak terpengaruh dengan percakapan kasar kedua tokoh dunia hitam itu. Mereka tenggelam dalam sorak sorai dengan kehadiran Chow Ong Oey yang terkenal dengan julukan Naga Hitam dari Gurun Gobi. Julukan yang diperolehnya karena ia memiliki ilmu luar biasa yang mampu meremas jantung lawan melalui bau busuk yang keluar dari nafasnya. Chow Ong Oey dengan garang menerobos barisan yang disusun perwira-perwira dari istana. Satu tubuh melayang keluar ketika mencoba menangkis hempasan tombak yang bermata bulan sabit milik Chow Ong Oey. Keseimbangan pertempuran menjadi berubah. Kehadiran Chow Ong Oey ternyata memberi pengaruh pada mental prajurit istana yang bertarung dengan orang-orang berwajah kasar. Para perwira ini tidak segera menyerahkan senjatanya, justru mereka semakin rapat melakukan kepungan dan menyerang Chow Ong Oey dengan kuat dan rapi.

Tentu saja Toa Sien Ting tidak dapat berdiam diri melihat kepungan itu semakin rapat mendesak Chow Ong Oey. Setelah ia melihat anak buahnya berada dalam keadaan yang cukup baik, ia lantas mengambil dua atau tiga perwira muda untuk mengurangi jumlah lawan Chow Ong Oey. Sayang sekali usaha Toa Sien Ting mendapatkan hambatan baru. Sepasukan pengawal yang datang dari lapisa yang kedua menyusul kemudian dari istana Kaisar NIng Tsung datang menyerbunya dan mengepung Chow Ong Oey. Chow Ong Oey menyadari datangnya bahaya bahwa ia tidak akan bisa lolos dari kepungan, maka suitan nyaring keluar dari bibirnya.

“Toa Sien Ting, ikuti aku. Biarlah anak buahmu menghalangi pasukan yang baru datang!” seru Chow Ong Oey. Ia tahu bahwa di dalam gedung yang terbakar itu ada Yap Teng Jin, seorang menteri yang berkedudukan tinggi dan bertanggung jawab untuk mengembangkan kesusastraan dan kebudayaan kerajaan. Toa Sien Ting lekas-lekas mengibaskan cambuk miliknya, sekejap kemudian barisan yang mengepungnya segera tersibak. Tubuh Toa Sien Ting melayang cepat melintas di atas kepala pasukan yang baru saja bertempur dengannya. Ia mengikuti Chow Ong Oey yang berlari seperti terbang menuju gedung perpustakaan.

Mata tajam Kao Sie Liong menangkap dua sosok bayangan yang berkelebat cepat menghampiri pasukan yang ia pimpin. Bersama sejumlah pasukan, Kao Sie Liong berusaha membendung serangan gerombolan yang dipimpin oleh Toa Sien Ting. Sementara itu, seorang perwira muda telah berhasil membawa Menteri Yap Teng Jin keluar dari gedung. Kao Sie Liong mundur sejenak dan menghampiri Yap Teng Jin. Kepala Yap Teng Jin yang terkulai lemah diletakkan Kao Sie Liong diatas pahanya. Kemudian Yap Teng Jin bekata,” jangan kau kecewa karena kegagalan rencanamu, Sie Liong. Engkau telah berbuat benar dan tepat. Kelompok Toa Sien Ting pun meskipun hanya sekumpulan pengemis namun mereka berada di bawah kendali majikan dari Chow Ong Oey. Sungguhpun perkumpulan itu selalu menamakan dirinya berjuang atas nama rakyat, tetapi mereka dapat bersikap bengis terhadap orang-orang pemerintahan. Apalagi kepada dirimu yang merupakan orang kepercayaan kaisar Ning Tsung. Mereka beralih ke Suku Jurchen karena kaisar Ning Tsung tidak memberikan tempat kepada mereka. Oleh karenanya, orang-orang itu akan selalu menentang Kaisar Ning Tsung. Mereka akan menyebarkan kabar berita bahwa Kaisar Ning Tsung gemar menindas rakyat dan sering membuat rakyat menjadi sengsara.”

Kemudian Kao Sie Liong menutup,” Congsu, berhentilah. Jangan teruskan untuk berbicara. Tubuhmu akan menjadi semakin lemah.” Kemudian ia memerintahkan seorang perwira yang berada di dekatnya untuk membawa Menteri Yap Teng Jin menuju istana kaisar melalui jalan memutar.

Sementara itu, Chow Ong Oey dan Toa Sien Ting telah tenggelam dalam pertempuran melawan barisan pengawal di lapisan pertama yang menjaga gedung perpustakaan. Kedua orang ini berkelebat sangat cepat di bawah terang nyala api yang masih membara. Begitu cepatnya mereka bergerak, sehingga tampak seakan bayangan setan. Ilmu mereka tergambar dari desir angin yang timbul dari putaran senjata mereka. “Kau masuk dari sebelah kiri, sementara aku akan membuka jalan darah!” seru Toa Sien Ting.

Keduanya lantas berpencar, gerakan mereka sangat gesit dan ringan sekali. Gedung itu kini terancam selagi Kao Sie Liong sedang menemui Menteri Yap Teng Jin yang terluka akibat panah berapi yang menyobek lambungnya. Tiba-tiba tampak sinar putih menyibak api yang melingkar di depan pagar kayu gedung perpustakaan. Sinar putih datang bergulung-gulung seperti ombak lautan. Toa Sien Ting yang kaget dengan terpaan dahsyat Kao Sie Liong dengan terpaksa membiarkan dirinya untuk sementara tenggelam dalam kepungan serangan tombak Kao Sie Liong. Akan tetapi ia tidak dapat membiarkan dirinya terkepung tombak lebih lama lagi, Toa Sien Ting dengan cepat melecutkan cambuknya untuk keluar dari serangan Kao Sie Liong.

Terdengar suara nyaring Toa Sien Ting yang dilambari dengan tenaga dalam. Suara yang sangat menusuk gendang telinga, Kao Sie Liong sedikit mengendurkan serangannya karena menahan rasa sakit yang timbul dari dalam telinganya. Tak lama setelah itu, tombak Kao Sie Liong menderu memburu dan mematuk Toa Sien Ting . Lelaki bertubuh gemuk ini harus menghindarkan diri dari sambaran tombak lawannya. Ia melemparkan tubuhnya ke belakang. Kao Sie Liong dengan tangkas mengejar seraya menetakkan tombaknya menggapai sasarannya yang berguling-guling diatas tanah. Dengan susah payah Toa Sien Ting menggerakkan tangan dan cambuknya sesekali membalas serangan Kao Sie Liong. Terdengar suara keras disusul bunga api berhamburan ketika ujung cambuknya berbenturan dengan ujung tombak Kao Sie Liong. Ternyata kemampuan mereka tidak terpaut terlalu jauh. Kao Sie Liong segera jungkir balik ke belakang untuk mengurangi daya dorong tenaga lawannya. Sedangkan Toa Sien Ting membelitkan cambuknya ke seorang pengawal gedung, sehingga dengan begitu tubuhnya tidak terpental jauh ke belakang.

“Licik!” seru Kao Sie Liong melihat tubuh pengawal itu roboh karena belitan cambuk Toa Sien Ting.

Pada masa itu, Kaisar Ning Tsung mengendalikan kekaisaran Tiongkok dengan sangat baik. Ia mengikuti leluhurnya yang telah mengirimkan pasukan ke Tanah Jawa. Mengirimkan para saudagar melintasi batasan-batasan alam menembus rintangan untuk sebuah perdagangan yang saling menguntungkan. Kaisar Ning Tsung sangat tegas menghadapi para pembesar kerajaan yang masih saja berusaha menindas rakyat dengan serangkaian pencurian dan perampokan melalui upeti-upeti yang sangat memberatkan. Dan belakangan ini Kaisar Ning Tsung sedang berencana untuk mengirimkan kembali utusan ke Tanah Jawa. Tujuan ini tidak lain guna mencari hubungan dengan kerajaan-kerajaan baru yang mungkin saja sudah berbeda dengan kerajaan yang didatangi oleh utusan datuknya.

Pengawal yang berada di lapisan kedua datang berhamburan dari sebelah kiri dan kanan Toa Sien Ting. Mereka sangat marah melihat seorang temannya menjadi korban kelicikan tokoh dari golongan hitam itu. Dengan sorak sorai yang keras, mereka menyerbu dari kanan kiri Toa Sien Ting. Kao Sie Liong tak kuasa mencegah kemarahan para bawahannya. Toa Sien Ting menggerakkan cambuknya berputaran menyelubungi tubuhnya. Dari putaran itu keluar angin pukulan yang menyambar dahsyat di sekelilingnya. Belasan orang itu roboh terpental seperti dilanda badai angin prahara.

Tentu saja hal ini menimbulkan kegemparan di kalangan pengawal gedung perpustakaan. Mereka yang dapat bangkit kembali, kini tidak berani sembarangan menyerang. Mereka hanya merundukkan senjata dan menanti perintah Kao Sie Liong. Sedangkan sorak sorai kegembiraan melanda segerombolan orang anak buah Toa Sien Ting dan Chow Ong Oey.

tis-tsuyoshi-nagano-medium_bondan borobudur

Kao Sie Liong menggeretakkan giginya. Bibirnya terkatup rapat, kemudian “ Toa kongcu! Atas perintah Kaisar Ning Tsung, aku minta kepadamu untuk menyerah!” seru Kao Sie Liong dengan suara tergetar hebat menyaksikan sejumlah prajuritnya terpental roboh seperti rumput kering yang tertiup angin.

Derai tawa dengan nada penghinaan membahana di angkasa. Lalu,” dengan meminjam nama Kaisar Ning Tsung, kau berani menyuruhku untuk menyerah? Lupakan itu Kao Sie Liong! Malam ini akan menjadi saksi bahwa engkau akan terbujur kaku di depan prajuritmu!” teriak Toa Sien Ting dengan lantang.

Setelah berkata demikian, Toa Sien Ting menggerakan lengan kirinya. Ia mengepalkan tangan. Jari jemarinya rapat tergenggam. Tangan kanannya yang memegang rantai berbandul gerigi tajam bergerak bersamaan dengan lengan kirinya. Membentuk lingkaran, terkadang menyilang lalu terdengar suara berdengung seperti ribuan lebah. Kepalan kirinya perlahan-lahan berubah mengeluarkan sinar merah membara. Sedangkan ujung rantainya seperti mengeluarkan percikan api! Melihat perubahan dan jurus yang dikeluarkan oleh Toa Sien Ting, Kao Sie Liong segera menyadari jika lawannya akan menghantam setiap halangan yang  merintanginya.

Kao Sie Liong adalah seorang lelaki muda yang memulai pekerjaannya sebagai prajurit muda. Kecerdasan dan ketangkasan yang terdapat dalam dirinya dengan cepat mengantarkan namanya menempati jajaran jenderal muda yang mahir dalam seni perang. Meskipun dalam usianya yang belum setengah abad ia mencapai ilmu silat yang tinggi, namun sesungguhnya dia bukan bagian dari dunia persilatan. Dan sebagai orang yang setia kepada kerajaan, ia akan menempuh jalan-jalan bahaya demi sebuah panggilan kerajaan dan rakyatnya. Pergolakan dan pergantian kaisar tidak menggoyahkan pendiriannya sebagai seorang prajurit yang setia pada sumpahnya. Ia tidak memihak kaisar sebelum Ning Tsung dan juga tidak ikut serta dalam gerakan yang disusun oleh Kaisar Ning Tsung. Oleh sebab itu, ia kini menjadi salah satu jenderal kepercayaan Kaisar Ning Tsung dalam mengelola kerajaan Tiongkok yang memiliki wilayah sangat luas.

“ Toa kongcu, tidak semua perselisihan harus diselesaikan dengan kekerasan. Kau masih mempunyai lidah untuk berbicara dan duduk bersama Kaisar Ning Tsung,” berkata Kao Sie Liong.

“ Tidak ada jalan keluar bagi kaisarmu selain tunduk pada keinginan kami. Kaisar Ning Tsung telah menghasut rakyatnya untuk tidak berhubungan lagi dengan Suku Juerchen. Untuk itulah, aku berada di sini. Untuk menyelesaikan perkara dengan adil dan bijaksana.”

“ Apakah engkau bermimpi, Toa kongcu? Kau bicara tentang kebijaksanaan, sedangkan kau membakar gedung perpustakaan, bukankah sikapmu itu suatu kebiadaban? Perbuatanmu itu akan membuat rakyat negeri ini mengalami kebodohan dalam masa yang panjang!”

Seperti itulah kebanyakan sifat manusia. Selalu menganggap dirinya adalah wakil dari kebenaran akan tetapi apa yang ia lakukan justru berlawanan dengan kebenaran yang ia perjuangkan. Sikap Toa kongcu dan gerombolannya dengan membakar gedung perpustakaan telah memberi banyak kesengsaraan bagi masa depan yang sedang dibangun oleh Kaisar Ning Tsung. Ilmu pengetahuan, pengobatan dan masih banyak lagi yang tertuang dalam kulit-kulit binatang dan kertas hampir seluruhnya terbakar. Kebakaran yang melanda gedung perustakaan itu seolah-olah menjadi cermin bahwa Kerajaan Tiongkok akan mengarungi masa kegelapan. Dalam banyak hal, ia akan bersikap seperti Dewi Kwan Im. Akan tetapi, satu sisi wajahnya akan tampak seperti Wu To Gui yaitu dedemit tanpa kepala yang menjelajah banyak tempat tanpa tujuan. Keberadaan seseorang yang berwatak seperti Wu To Gui ini sudah pasti akan menimbulkan kengerian bagi mereka yang tidak paham. Dia dapat menakutkan bagi orang awam atau orang yang polos pikirannya ketika melihat wujudnya. Sehingga dengan keawaman itu, orang-orang dapat saja dengan mudah menganggap Wu To Gui seperti dewa kematian yang harus dihormati. Dan juga sudah menjadi watak dasar manusia jika ia terkungkung dalam ketakutan, maka lebih sering ia akan bertindak tanpa diikuti oleh sedikitpun nalar sehat. Jika demikian, satu Wu To Gui akan melahirkan Wu To Gui lagi lebih banyak.

Tubuh Toa Sien Ting yang telah terbungkus oleh putaran rantai, tiba-tiba dia meluncur menerjang ke depan. Kepalan kirinya menghantam kepala Kao Sie Liong dan cambuknya melecut mendatar merobek lambung jenderal muda kepercayaan Kaisar Ning Tsung. Kao Sie Liong telah mempersiapkan dirinya dengan kuda-kuda yang kokoh seperti batu karang sama sekali tidak menggeser tubuhnya. Satu putaran tombak yang dilakukannya menyambut terjangan Toa Sien Ting. Lawannya itu terperangah. Ia merasakan kedua lengannya gemetar. Tubuh Toa Sien Ting terpental surut. Lututnya terasa tergetar dan kesemutan luar biasa. Hampir saja ia roboh berlutut di hadapan Kao Sie Liong. Nyatalah baginya kini ketinggian ilmu jendral muda yang disegani kawan maupun lawan dari dunia hitam. Nama besar Kao Sie Liong yang di dunia kang ouw lebih dikenal sebagai Si Ekor Naga Hitam benar-benar menjadikannya jerih. Tindak tanduk Kao Sie Liong dalam menjaga keamanan ibarat ekor panjang dari naga besar. Ia mengibaskan setiap rintangan, meremukkan setiap gangguan dan terkadang mematahkan setiap gerakan yang menyimpang dari kerajaan.

 

Berikutnya :

https://tansaheling.com/2017/12/26/bondan-lelana-bara-di-borobudur-2/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: